Breaking News

Lebih Parah Dari Outsourcing; Licik, Pemagangan Telah Melenceng Dari Tujuan Awal!

Lebih Parah Dari Outsourcing; Licik, Pemagangan Telah Melenceng Dari Tujuan Awal! Lebih Parah Dari Outsourcing; Licik, Pemagangan Telah Melenceng Dari Tujuan Awal!

Aktivis buruh memperingatkan adanya perubahan konsep pemagangan menjadi bekerja. Perubahan itu telah melenceng dari tujuan awal dilakukannya pemagangan nasional.

Vice President Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Obon Tabroni menilai, ada keanehan dengan pemagangan yang terjadi hari-hari ini. Seseorang yang magang kok dijadikan sebagai pekerja. Perilaku licik itu harus diakhiri.





“Pemagangan sudah berubah fungsi. Pemagangan yang awalnya untuk belajar dan meningkatkan skill, kini kok berubah jadi bekerja?” tanyanya, Kamis (04/07/2019).

Lebih lanjut, Deputi Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) ini menegaskan, sejak awal, pihaknya di KSPI telah menyatakan menolak pemagangan. Dikarenakan konsep itu tidak jelas, dan malah dimanfaatkan untuk menjadikan para orang yang magang sebagai budak dengan bayaran sangat amat murah, di bawah standar upah buruh yang sah.

“Bagi kami, pemagangan seperti itu hanyalah kedok lain dari outsourcing. Peserta magang diberi target yang sama dengan pekerja biasa, diwajibkan bekerja lembur, shift tapi dengan pendapatan yang dipereloh dinamakan uang saku,” terang Obon.





Metode pemagangan itu, lanjutnya, tidak akan bisa meningkatkan kapasitas dan kapabilitas tenaga kerja. Selain itu, program akal-akalan tersebut hanya akan memperpanjang mata rantai perbudakan dengan modus yang lebih parah dari sistem outsourcing.

Magang lebih buruk dari outsourcing. Karena di sini hak-haknya tidak jelas,” tegasnya.

Pemagangan, lanjutnya, hanya akan memberikan keuntungan yang sangat besar bagi pengusaha. Karena memperoleh pekerja dengan Cuma-Cuma kemudian diiming-imingi dibayar hanya dengan sistem pemberian uang saku. Selain itu, program ini juga sebagai bukti, pemerintah tidak mampu membuka lapangan pekerjaan yang memadai bagi warga masyarakat Indonesia.





“Tentu pengusaha senang dengan sistem tersebut karena mendapat keuntungan lebih banyak. Bahkan sudah banyak buruh tetap yang di-PHK dan digantikan dengan magang. Memang dalam aturan ada yang membatasi, yaitu ada trainner, tempat pelatihan, hingga kurikulum. Tapi itu semua sangat mudah di penuhi,” ujar Obon Tabroni.

Lebih lanjut, aktivis buruh yang terpilih sebagai anggota DPR ini mengatakan, sistem pengawasan  yang tidak berjalan maksimal pun turut memperrumit situasi. Pengawasan pun gagal untuk memastikan tidak adanya pelanggaran.





Karena itu dia meminta agar sistem magang dikembalikan pada tujuan awal yaitu belajar. Caranya dengan pembatasan yang ketat. Misal, perbandingan teori dan praktek 50:50, tidak ada target, tidak bekerja shift, lama kerja per minggu 30 jam, dan pembatasan lain. “Agar magang kembali pada tujuan awal yaitu belajar,” tutupnya.(JR)

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*