Laporan Kredit Fiktif Senilai Rp 117,5 Miliar Di BNI Medan, Kejaksaan Agung Belum Tahu

Laporan Kredit Fiktif Senilai Rp 117,5 Miliar Di BNI Medan, Kejaksaan Agung Belum Tahu.

Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan hingga saat ini belum menerima laporan dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) terkait kasus dugaan korupsi kredit fiktif PT Bank Negara Indonesia (BNI) 46 Sentra Kredit Menengah (SKM) Cabang Pemuda Medan senilai 117,5 miliar rupiah yang melibatkan tersangka berinisial BH, Direktur PT BDKL.

 

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejagung, Arminsyah mengatakan, akan mengecek kembali kasus dugaan korupsi tersebut.

 

“Belum ada laporan. Tapi nanti akan saya cek (kredit fiktif),” kata Arminsyah, di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta Selatan, Rabu (09/08/2017).

 

Arminsyah juga berjanji akan mempelajari kasus dugaan korupsi tersebut secara mendalam.”Kita akan dalami untuk kasus itu,” ujarnya.

 

Sebelumnya, Kejati Sumut masih terus menyelidiki temuan bukti baru kasus dugaan korupsi kredit fiktif senilai 117,5 miliar di BNI 46 SKM Cabang Jalan Pemuda Medan.

 

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Sumut Sumanggar Siagian mengatakan, pihaknya telah menemukan bukti baru kasus tersebut dan telah melaporkan ke Kejagung.

 

Menurutnya, Kejati Sumut masih menunggu petunjuk dari Kejagung mengenai penemuan bukti baru kasus kredit fiktif BNI 46 Jalan Pemuda Medan itu.

 

“Kejati Sumut tetap menyelidiki kasus BNI 46 yang merugikan keuangan negara itu,” kata Sumanggar.

 

Sumanggar menegaskan, akan terus melakukan pengusutan dalam kasus dugaan korupsi tersebut. Faktanya, sambung Sumanggar, hingga saat ini, Direktur BDKL masih berstatus sebagai tersangka dalam kasus kredit fiktif BNI 46 tersebut dan belum ditahan.

 

“Jadi, kasus BNI 46 itu, akan dilanjutkan proses hukumnya, dan tidak akan dihentikan,” ujarnya.

 

Seperti diketahui, dalam kasus kredit fiktif BNI 46 SKM Cabang Jalan Pemuda Medan BNI itu, tersangka BH, sempat melarikan diri dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pihak kejaksaan.

 

Setelah buron selama empat tahun, tersangka BH, ditangkap oleh pihak Imigrasi di Bandar Udara Soekarno- Hatta, Tangerang, Kamis, 22 Januari 2015 dan diserahkan pihak Polda Sumut.

 

Status tersangka BH, berubah menjadi tahanan kota, karena mengalami sakit jantung, dengan memberikan uang jaminan senilai 2 miliar rupiah ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan.

 

BH diduga melakukan pembobolan dana kredit fiktif di BNI 46 Cabang Jalan Pemuda Medan senilai 129 miliar rupiah dengan kerugian negara mencapai 117,5  miliar rupiah.

 

Dalam proses peminjaman tersebut, diduga BH menggunakan agunan usaha yang telah diagunkannya ke bank lain. Kejati Sumut menemukan adanya penyimpangan peminjaman dana kredit yang dilakukan BH.

 

Setelah diproses, aset tersangka berupa sebidang tanah seluas 3.455 hektare di Provinsi Aceh yang di atasnya terdapat pabrik kelapa sawit telah disita oleh negara.

 

Dalam kasus tersebut, dua pejabat BNI 46 telah dihukum penjara masing-masing tiga tahun, yaitu Radiyasto mantan pimpinan SKM BNI 46 Cabang Pemuda Medan, dan Titin Indriani, mantan Relationship BNI 46 SKM Cabang Pemuda Medan.(Richard)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan