Langsung Ditahan, Kejagung Tetapkan Direktur Jakarta Emiten Investor Relation Tersangka Baru Kasus Asabri

Langsung Ditahan, Kejagung Tetapkan Direktur Jakarta Emiten Investor Relation Tersangka Baru Kasus Asabri

- in HUKUM
30
0

JAKARTA – Penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menetapkan tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asabri yang diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp23,7 triliun.

Kali ini, penyidik menetapkan seorang tersangka berinisial JS yang merupakan Direktur Jakarta Emiten Investor Relation. Penetapan tersebut setelah sebelumnya jaksa penyidik memeriksa tiga orang saksi, diantaranya JS, FB selaku Direktur PT Pool Advista Asset Management dan
F selaku Direktur Utama (Dirut) PT Ourora Asset Management.

“Penetapan tersangka JS berdasarkan Surat Penetapan Tersangka TPK Nomor: Print- 09/F.2/Fd.2/02/2021 tanggal 15 Februari 2021,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak, Senin (15/02/2021).

Leonard menjelaskan, JS diduga secara bersama-sama dengan tersangka BTS melakukan tindak pidana korupsi di perusahaan plat merah tersebut. Selanjutnya, kata Leonard, JS juga diduga melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

“Dan ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat Penetapan Tersangka TPPU Nomor: Print- 01/F.2/Fd.2/02/2021 tanggal 15 Februari 2021,” ujarnya.

Menurut Leonard, kasus ini bermula sekitar awal tahun 2013 sampai dengan tahun 2019, dimana JS telah bersepakat dengan BTS untuk mengatur trading transaksi (jual/beli) saham milik BTS kepada PT Asabri dengan cara menyiapkan nominee-nominee dan membukakan akun nominee di perusahaan sekuritas dan menunjuk perusahaan-perusahaan sekuritas.

Tak hanya itu, JS juga melaksanakan instruksi penetapan harga dan transaksi jual dan beli saham pada akun Rekening Dana Nasabah (RDN) nominee baik pada transaksi direct maupun reksadana yang kemudian dibeli oleh PT Asabri sebagai hasil manipulasi harga.

“Kemudian JS menampung dana hasil keuntungan investasi dari PT Asabri pada nomor rekening atas nama beberapa staf saham BTS untuk selanjutnya melakukan transaksi keluar masuk dana untuk kepentingan pribadi dengan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan dan membelanjakan uang hasil tindak pidana korupsi serta perbuatan lain yang termasuk dalam skema tindak pidana pencucian uang,” ungkapnya.

Leonard menambahkan, untuk efektifnya pemeriksaan selanjutnya, berdasarkan alasan obyektif maupun subyektif, jaksa penyidik akhirnya melakukan penahahan terhadap JS.

“JS ditahan untuk waktu selama 20 (duapuluh) hari terhitung sejak tanggal 15 Februari 2021 s/d 6 Maret 2021 di Rutan Klas I Cipinang Cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdasarkan Surat Perintah Penahanan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print- 07/F.2/Fd.2/02/2021 tanggal 15 Februari 2021,” kata Leonard.

Sebelumnya, penyidik pidana khusus Kejagung telah menetapkan delapan orang tersangka. Mereka adalah mantan Dirut PT Asabri Mayor Jenderal (Purn) Adam R. Damiri, Letnan Jenderal (Purn) Sonny Widjaja, Heru Hidayat, Benny Tjokrosaputro.

Selain itu, juga Kepala Divisi Investasi PT Asabri periode Juli 2012 hingga Januari 2017 Ilham W. Siregar, Dirut PT Prima Jaringan Lukman Purnomosidi, Kepala Divisi Keuangan dan Investasi PT Asabri periode 2012 hingga Mei 2015 Bachtiar Effendi dan Direktur Investasi dan Keuangan PT Asabri periode 2013 – 2019, Hari Setiono.

Terkait kerugian negara, penyidik menaksir akibat perbuatan delapan tersangka dalam kasus dugaan korupsi PT Asabri mencapai Rp 23,7 triliun.(Richard)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Dana PT Asabri Diduga Ditempatkan di MTN Koperasi Karyawan Kemenkeu

Telah dibaca: 12 JAKARTA – Kasus dugaan korupsi