Kunjungi Desa Terisolasi, Huta Sampuran, Desa Bonan Dolok, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Sentuhan Penerangan dan Infrastruktur Belum Terasa, Aktivis Swangro Lumbanbatu Semakin Bertekad Maju Pilbub Samosir

Kunjungi Desa Terisolasi, Huta Sampuran, Desa Bonan Dolok, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Sentuhan Penerangan dan Infrastruktur Belum Terasa, Aktivis Swangro Lumbanbatu Semakin Bertekad Maju Pilbub Samosir.
Kunjungi Desa Terisolasi, Huta Sampuran, Desa Bonan Dolok, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Sentuhan Penerangan dan Infrastruktur Belum Terasa, Aktivis Swangro Lumbanbatu Semakin Bertekad Maju Pilbub Samosir.

Aktivis yang kini maju sebagai Bakal Calon Bupati Samosir, Swangro Lumbanbatu mengunjungi Huta Sampuran, Desa Bonan Dolok, Samosir. Desa ini jauh dan terisolasi. Meski peradaban sudah kian canggih, namun penerangan dan jalan yang bisa dilalui kendaraan pun masih sulit ditemukan di wilayah ini.

Dengan menyaksikan berbagai kesulitan jalan, ketiadaan penerangan, dan belum terjamah pembangunan infrastruktur yang memadai di desa-desa, Swangro Lumbanbatu yang merupakan mantan Koordinator Wilayah I Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (Korwil I PP GMKI) meliputi Sumatera Utara dan Nanggroe Atjeh Darussalam (NAD) ini semakin bertekad untuk memenangi pertarungan Pemilihan Bupati Samosir pada tahun 2020 mendatang.

Dari perkunjungannya pada Minggu, 03 November 2019 ke Huta Sampuran, Desa Bonan Dolok, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, di ujung Pulau Samosir, Swangro Lumbanbatu dan kawan seperjalanannya menghabiskan waktu 45 menit. Bukan lewat jalan darat, tetapi menggunakan perahu kecil atau sampan.

Sebenarnya, ke tempat itu, bisa dilewati sepeda motor. Namun hanya sampai di simpang Dusun terdekat. Dari simpang dusun itu, masyarakat harus berjalan kaki untuk tiba di rumah masing-masing di Desa Bonan Dolok.

“Naik Solu atau sampan, karena jalanan rusak. Dan tertimbun longsor yang terjadi pada Tahun 2018. Belum ada yang memperbaiki hingga sekarang. Timbunan masih dibiarkan begitu saja,” ujar Swangro Lumbanbatu, Selasa (05/11/2019).

Hingga saat ini, lanjutnya, masyarakat melakukan perjalanan dengan naik perahu kecil. Hasil pertanian juga dibawa dengan menggunakan perahu kecil. Terkadang, menurut dia, sesama petani yang membutuhkan hasil pertanian datang ke dusun itu, mengambilnya langsung dari petani.

“Terkadang, perjalanan lewat danau juga kurang maksimal.  Karena ada masanya angin laut atau danau bertiup sangat kencang. Dalam setahun bisa dipastikan oleh masyarakat sekali masa angin bertiup kencang. Itu berkisar bulan Juli hingga September,” ungkap Swangro Lumbanbatu.

Sampai di dusun tersebut dengan perahu kecil, Swangro Lumbanbatu mengunjungi masyarakat. Masyarakat Dusun Huta Sampuran, Desa Bonan Dolok, sudah lama tinggal di wilayah itu. Ada 7 generasi yang sudah mendiami dusun ini. Yang berasal dari satu Ompung Marga Simarmata.

Dari kunjungannya, Swangro Lumbanbatu mendapati penerangan yang dipakai oleh masyarakat dusun tersebut tidak berasal dari PLN. Akan tetapi sambungan yang didapat dari warga yang berada di dusun sebelahnya. Mereka sudah melakukan pengaduan kepada PLN dari tahun 1987, namun baru beberapa bulan ini mulai mendapat respon lagi dari pihak PLN.

Charles Simarmata, salah seorang warga Dusun Sampuran, Desa Bonan Dolok itu, menyampaikan, sejak kampunya ada di wilayah itu, warga tidak merasakan kemerdekaan.

“Mulai dari di desa ini ada, sudah 7 generasi, lampu dan jalan belum maksimal kami nikmati. Kami disini ada 8 Kepala Keluarga dan 10 rumah. Semua ini kami sekeluarga. Bayangkan anak-anak ini harus jalan kaki melewati rumput-rumput ilalang dan liar, yang bahkan lebih tinggi dari mereka. Dan harus melawan angin,” tutur Charles Simarmata.

Charles Simarmata berharap, adanya angin perubahan yang lebih baik bagi dirinya dan warga Dusun Sampuran, Desa Bonan Dolok itu. Dia berharap, momentum Pilbub Samosir yang akan digelar Tahun 2020 mendatang membawa perubahan yang baik bagi kehidupan mereka. Charles Simarmata mengatakan, dirinya dan warga kampungnya akan menggantungkan harapannya itu kepada Calon Bupati Millenial, Swangro Lumbanbatu.

“Harapan kami, anak-anak milenial ke depannya lebih peka terhadap hal yang seperti ini. Banyak belajar, banyak berbuat. Dan lebih sensitif akan keadaan masyarakat yang ada di desa tertinggal. Kita akan coba untuk tetap menyuarakan hal ini kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Swangro Lumbanbatu meresponi Charles Simarmata.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan