Kumpul di Yogyakarta, Kementerian Perdagangan Dorong Ekspor Produk Kayu Ringan

Gelar 4thIndonesian Lightwood Cooperation Forum

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Marolop Nainggolan dalam Pertemuan 4thIndonesian Lightwood Cooperation Forum (ILCF) 2019, di Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Selasa (15/10/2019).
Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Marolop Nainggolan dalam Pertemuan 4thIndonesian Lightwood Cooperation Forum (ILCF) 2019, di Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Selasa (15/10/2019).

Kementerian Perdagangan menggelar  4thIndonesian Lightwood Cooperation Forum (ILCF) di Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta. Kegiatan ini sebagai salah satu upaya Kemendag mendorong ekspor produk kayu ringan.

Selain itu, kegiatan juga untuk memenuhi kebutuhan informasi serta menjalin kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan. Khusus industri kayu ringan dalam negeri. Terhadap perkembangan inovasi yang diminati, dalam rantai nilai global dan prospeknya di masa depan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Dody Edward mengatakan, Indonesia merupakan salah satu lumbung kayu terbesar di dunia. Sehingga seharusnya bisa menguasai pasar global juga.

“Kayu ringan sebagai salah satu jenis kayu yang juga dimiliki Indonesia, memiliki potensi pasar yang sangat besar. Apalagi salah satu tuntutan pasar saat ini adalah jenis kayu yang lebih ramah lingkungan,” tutur Dody Edward, Selasa (15/10/2019).

Sengon adalah salah satu jenis kayu ringan yang berpotensi. Sengon memiliki masa tanam antara 3-5 tahun. Kayu ini juga dirasa sesuai dengan permintaan pasar global, khususnya di Eropa.

Namun demikian, Indonesia perlu memproduksi produk-produk kayu ringan inovatif. Dengan memiliki nilai tambah yang lebih tinggai. Bukan sekedar classical commodities.

Agar produk Indonesia menjadi pioneer, mengalahkan produk pesaing dari Tiongkok. Khususnya untuk pasar Eropa.

“Padahal, selama ini, bahan baku produk kayu ringan Tiongkok itu diimpor dari Indonesia. Untuk kemudian diolah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” ujar Dody.

Kayu ringan adalah bagian produk technical wood. Dimana tren ekspor produk technical wood Indonesia ke dunia pada tahun 2014-2018 sebesar 1,49%, dengan peringkat Negara tujuan utama eskpor tahun 2018 adalah, Jepang sebesar 847,6 juta Dolar Amerika. Kemudian, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebesar Rp 596,2 juta dolar amerika. Amerika Serikat sebesar 472,5 juta dolar amerika, serta beberapa Negara di Eropa berada pada peringkat 10 besar, yaitu Inggris sebesar  149,2 juta dolar amerika, Belanda sebesar 126,8 juta dolar amerika dan Jerman sebesar 92,5 juta dolar amerika.

“Melihat besarnya nilai ekspor dan potensi produk itu, maka dukungan Kementerian Perdagangan diperlukan dalam penyelenggaraan Indonesia Lightwood Cooperation Forum atau ILCF 2019 ini,” ujar Dody.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Marolop Nainggolan menyampaikan, penyelenggaraan ILCF 2019 merupakan kolaborasi antara Kemendag dengan Indonesian Light Wood Association (ILWA), Swiss Import Promotion Programme (Sippo), Instiper Yogyakarta.

Juga didukung Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Kegiatan diselenggarakan sebagai side event dari Trade Expo Indonesia 2019.

Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 300 pemangku kepentingan di bidang kayu di Indonesia. Dari pemerintah, asosiasi, pelaku usaha dan akademisi.

Forum menghadirkan 2 orang expert  di bidang kayu ringan dari Eropa, yaitu Mr Frank Maul dari Import Promotion Desk (IPD) Jerman, dan Mr Laurent Corpataux dari Haring Timber Technology, Research and Business Development Southeast Asia, NUS Research Associate.

“Kegiatan ini dilaksanakan di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta, dengan maksud lebih memberdayakan akademisi,” tutur Marolop Nainggolan.

Pada rangkaian kegiatan itu, juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara ILWA, Instiper dan Ditjen PEN Kemendag.

Marolop Nainggolan menjelaskan, tujuan dilakukannya Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman adalah guna memberikan dukungan untuk menghasilkan lulusan kehutanan yang mempunyai pengetahuan teknis kayu ringan untuk pasar rantai nilai global.

“Sehingga, lulusannya selain dapat bekerja di perusahaan industry kayu ringan, juga dapat menjadi eksportir di bidang tersebut,” ujar Marolop Nainggolan.

Kegiatan itu juga membahas konsep road map pembuatan light wood grading, yang merupakan temuan penting dari hasil kegiatan Selling Mission ke Vietnam, pada bulan Maret 2019 lalu.

Menurut Marolop Nainggolan, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Ditjen PEN Kemendag) dengan didukung oleh Sippo, dan melibatkan beberapa pemangku kepentingan, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ILWA dan IPD, menginisiasi pmebuatan lightwood grading, dengan memasukan karateristik unik kayu ringan Indonesia.

Yang bertujuan untuk mengembangkan ciri khas kayu ringan Indonesia. Mempermudah pelaku usaha dalam bernegosiasi dengan pembeli luar negeri dan untuk mengindari salah persepsi dari kedua belah pihak.

Ditjen PEN Kemendag juga berharap, kegiatan itu dapat menstimulasi gairah industry kayu ringan dalam negeri untuk lebih berkarya dan mendapatkan inspirasi akan contoh pengaplikasian kayu ringan yang lebih modern dan futuristic di pasara global.

“Selama ini, kayu ringan sering dikategorikan kayu sembarang atau kayu murah. Hanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan panel barecore, atau pengisi blockboard, bernilai tambah kecil. Dengan memanfaatkan teknologi, dan menyasar pasar yang tepat, kayu jenis ini memberikan keuntungan yang berlipat ganda,” terang Marolop Nainggolan.

Potensi Kayu Ringan Indonesia

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Marolop Nainggolan  memaparkan, setidaknya ada empat alasan utama kayu ringan Indonesia, yang umumnya adalah jenis sengon dan jabon, yang memiliki keunggulan disbanding jenis kayu ringan dari Negara pesaing seperti acacia dan eucalyptus.

Pertama, Indonesia merupakan satu-satunya Negara dengan system verifikasi legalitas kayu terbaik yang telah diterima oleh European Union Forest Law Enforcement, Governance, and Trade (EU FLEGT).

Sehingga menjadi factor yang membuat kayu ringan Indonesia lebih atraktif bagi konsumen di Negara Eropa dan Non Eropa lainnya, seperti Amerika.

Kedua, industri kayu Indonesia terus didorong untuk mentransformasi diri sehingga tidak lagi mengambil kayu dari hutan alam. Tetapi kayu hasil perkebunan yang tidak merusak hutan.

Selain itu, pohon sengon merupakan sabahat alam, karena merupakan salah satu tanaman legume yang mampu menyerap emisi CO2, dan menyalurkannya menjadi nitrogen dalam tanah.

Ketiga, Indonesia telah memiliki perusahaan pioneer yang mampu memproduksi produk kayu ringan yang sangat inovatif, sehingga mampu mengangkat positioning industry kayu ringan Indonesia. Yang diharapkan menjadi lokomotif bagi perusahaan kayu lainnya yang skalanya lebih kecil.

Keempat, kayu ringan mendukung ekonomi kerakyatan yang memungkinkan rumah tangga di pedesaan mendapatkan penghasilan tambahan dari menanam kayu jenis sengon atau jabon, yang dapat dikombinasikan dengan tanaman palawija atau tumpang sari.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan