Kongres Nelayan Indonesia; Keberpihakan Pada Visi Poros Maritim Dunia

Kongres Nelayan Indonesia; Keberpihakan Pada Visi Poros Maritim Dunia.

Oleh: Rusdianto Samawa, Ketua Umum Majelis Pusat Front Nelayan Indonesia (FNI)

 

Minggu ini dan kedepannya, saya roadshow ke berbagai tokoh sentral nelayan, seperti Ono Surono, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, MS dan beberapa pemerhati lingkungan, kelautan dan perikanan. Front Nelayan Indonesia secara pelan-pelan memiliki agenda rencana silaturahmi bersama redaksi media yang peduli terhadap petani, kelautan dan perikanan. Begitu juga, beberapa tokoh sentral yang sedang diagendakan, udah terhubung seperti Tedjo Edy, Menristek, Luhut Binsar Panjaitan, Moeldoko dan banyak pengusaha Perikanan lainnya.

 

Ide ini datang tahun 2016 lalu, ketika melihat seluruh organisasi stakeholders kelautan dan perikanan hanya memikirkan kepentingan masing-masing. Kongres Nelayan Indonesia sebuah visi mengawal dan melanjutkan poros maritim dunia yang menjadi tumpuan harapan bangsa Indonesia. Saya pikir, melalui kekuatan poros maritim dapat merealisasikan agenda-genda perubahan global dimasa mendatang.

 

Kongres Nelayan Indonesia sebuah ikhtiar bersama untuk menegaskan platform visi kemaritiman Indonesia. Karena berbagai persoalan petani laut, nelayan dan industri perikanan kedepan semakin kompleks. Ide kongres untuk mengkristalisasi visi misi poros maritim dunia.

 

Berdasarkan berbagai persoalan yang dihadapi saat ini, belum ada geliat solusi baik dari segala macam persoalan yang muncul saat ini. Namun sekarang ada perkembangan baru bahwa agenda Kongres Nelayan Indonesia itu sedang digarap oleh Bung Daniel Johan politisi anggota DPR RI dari Partai dan Fraksi PKB.

 

Namun, sebaiknya kongres nelayan hindari priksi partai politik agar murni memperjuangkan hak-hak nelayan, pengusaha, industri dan para pengrajin sumberdaya kelautan.

 

Selain itu, juga penting independensinya agar platform kebijakan umum negara dapat direalisasikan secara berkeadilan. Kongres Nelayan Indonesia juga bukan hanya memilih Presiden Nelayan Indonesia tetapi menentukan arah kehidupan bangsa dan negara pada aspek kemajuan kelautan dan perikanan.

 

Selain itu, perkuat basis keorganisasian petani garam, petani laut, nelayan, budidaya hingga industri. Hal ini sangatlah penting karena kondisi keorganisasian / kelembagaan belum begitu kuat sehingga harus dilakukan restrukturisasi.

 

Sebagai tempat berkumpul dan menyatunya seluruh organisasi nelayan, maka institusi nelayan Indonesia harus terbentuk sebagai keniscayaan dan perlindungan bersama untuk tercapainya seluruh tujuan dari masing-masing kepentingan.

 

Masa Presiden Joko Widodo memiliki niat tulus untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Visi ini ditegaskan oleh Presiden dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) tanggal 13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar lalu.

 

Visi presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia harus diterjemahkan dalam seluruh aspek kehidupan bernegara. Tentu visi ini telah diterbitkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomer 16/2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia. Hal ini merupakan instrumen nasional yang mensinergikan gerak dan langkah seluruh visi kepentingan untuk mencapai cita-cita Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

 

Kongres Nelayan Indonesia mempertegas keberpihakan seluruh nelayan dan petani laut untuk menerjemahkan visi pembangunan poros maritim yang meliputi pilar-pilar yakni pertama: membangun budaya maritim Indonesia, menjaga laut dan sumber daya laut, dengan fokus.

 

Kedua: membangun kedaulatan pangan laut melalui pengembangan industri perikanan dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama dan memberi prioritas pada pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim.

 

Ketiga: membangun tol laut, deep seaport, logistik dan industri perkapalan, dan pariwisata maritim. Keempat: memperkuat diplomasi maritim, kerja sama di bidang kelautan, menghilangkan sumber konflik di laut seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran laut.

 

Terakhir, kelima: membangun kekuatan pertahanan maritim untuk menjaga kedaulatan dan kekayaan maritim serta bentuk tanggung jawab dalam menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim.

 

Visi strategis Kongres Nelayan Indonesia ini merupakan upaya mentransformasikan seluruh energi Kelautan dan Perikanan untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

 

Akselerasi Kongres Nelayan Indonesia menjadi blueprint utama dalam mewujudkan ekonomi Indonesia. Tentu, proses kongres menjadi simbol memperkuat kedaulatan maritim Indonesia sehingga Indonesia diakui dunia.***

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan