Kondisi Korban Pencemaran Pertamina Memburuk, KIARA: Pemerintah Kok Belum Selesaikan Masalahnya

Kondisi Korban Pencemaran Pertamina Memburuk, KIARA: Pemerintah Kok Belum Selesaikan Masalahnya.
Kondisi Korban Pencemaran Pertamina Memburuk, KIARA: Pemerintah Kok Belum Selesaikan Masalahnya.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyampaikan, kondisi masyarakat korban pencemaran minyak di perairan Karawang, Jawa Barat semakin parah.

Fakta-fakta di lapangan menunjukkan, setidaknya masyarakat pesisir, khususnya nelayan, di tujuh kecamatan terus mengalami kualitas penurunan kehidupan.

Tujuh kecamatan yang dimaksud adalah  Cibuaya, Tirtajaya, Pedes, Cilamaya Kulon, Batu Jaya, Pakis Jaya, dan Cilebar.

Sekjen Kiara, Susan Herawati memaparkan, pihaknya mencatat, lebih dari 1.200 keluarga nelayan terdampak pencemaran minyak ini.

Situasi di lapangan terkini menunjukkan sejumlah keluarga nelayan merasakan sesak nafas parah, infeksi kulit, kepala pusing-pusing, dan batuk-batuk. Hal ini mereka rasakan sejak terjadinya pencemaran minyak yang telah sampai ke wilayah perairan mereka.

“Pada 28 Agustus 2019, ketebalan limbah di pesisir Desa Mekarjaya, Kecamatan Cibuaya mencapai 50 centi meter. Itu menyebabkan masyarakat mengalami sesak nafas. Pagi kemarin, terdapat salah satu korban yang mengalami sesak nafas dan nyaris saja kehilangan nyawa,” tutur Susan Herawati, Jumat 30 Agustus 2019.

Artinya, dijelaskan dia, limbah dari Pertamina ini sudah tidak lagi dianggap sebagai hal yang biasa. Kondisi itu disebut bagai kiamat industri bagi perairan Karawang. Salah seorang korban yang terdampak adalah Ibu Taso. Dia adalah Perempuan Nelayan Desa Bangun Jaya.

“Ibu Taso mengalami gatal-gatal pasca desanya terdampak limbah Blow Up,” ujar Susan.

Selain dampak kesehatan, sektor ekonomi keluarga nelayan juga paling terpukul. Diperkirakan, 1.689 perahu terkena ceceran limbah. Seluas 5000 hektar tambak udang dan bandeng yang dominan tersebar di 10 desa terpaksa dikeringkan mencegah limbah masuk, juga 108,2 hektar tambak garam gagal panen.

Sebelum ada pencemaran, nelayan tangkap bisa mendapat penghasilan rata-rata Rp 350 ribu per hari. Perempuan nelayan pengupas rajungan Rp 70 ribu per hari. Sementara pemilik warung ikan bakar di kawasan wisata mencapai Rp 2 juta per hari. Kemudian, nelayan bagan tancap rajungan dan udang berpenghasilan Rp 1 juta per hari.

Kini, tempat Pelelangan Ikan di Pantai Pelangi sepi transaksi pasca blow up Pertamina. Dikatakan Susan, Pemerintah, dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Karawang  menyatakan, limbah menjadi berkah bagi nelayan karena mereka memiliki penghasilan.

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan Karawang, Bapak Abu Bukhori. “Kiara mengutuk keras pernyataan dari Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Karawang, Bapak Abu Bukhori. Semburan minyak ini bukan berkah, tapi bencana besar bagi nelayan, perempuan nelayan, pesisir, laut dan masa depan bangsa,” ujar Susan.

Seharusnya, ditekankan Suan, perkataan seperti itu tidak disampaikan di tengah perjuangan warga yang sedang berjuang membersihkan limbah dari lautnya.

Temuan di lapangan, tidak semua nelayan mampu dipekerjakan oleh Pertamina. Terutama nelayan lanjut usia dan perempuan. Adapun yang telah direkrut, proses pekerjaannya mesti menunggu giliran.

Akibat tidak ada aktivitas perikanan, sejumlah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sepi transaksi. TPI berubah menjadi tempat penampungan limbah. Seperti TPI Pasir Putih dan TPI Pantai Pelangi.

Susan Herawati mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah yang semakin hari semakin parah.

“Kami menuntut pemerintah pusat untuk turun dan membereskan persoalan ini. Masyarakat terdampak semakin menderita akibat kecerobohan Pertamina,” tegasnya.

Tak hanya itu, Susan meminta Pertamina untuk segera membuka informasi kepada publik mengenai penyebab terjadinya kebocoran minyak di Perairan Karawang.

Termasuk ketika pada tahun 2003 melakukan pengeboran sesmik di perairan Pasir Putih. Sebab, sejak aktivitas pengeboran tahun itu, terjadi intrusi air laut. Hingga kini kondisi air berjarak sekitar 200 meter dari bibir pantai menjadi asin. Namun jarak ½ meter dari bibir pantai malah tawar.

“Pertamina harus segera melakukan pemulihan ekologis. Karena pencemaran telah menyebar sangat jauh ke Kepulauan Seribu. Di Karawang sendiri kawasan mangrove seluas 420 hektar telah  tercemar, ” pungkasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan