Ketua Umum PIKI Baktinendra Prawiro: Pasca Reformasi, Politik Indonesia Sangat Transaksional

Ketua Umum Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Baktinendra Prawiro dalam acara Dies Natalis ke-55 Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), yang digelar di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Jalan Salemba Raya 10, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2018).

Peta politik Indonesia telah berubah drastis menjadi sangat transaksional. Hal itu terjadi pasca reformasi 1998. Karena itu, kaum intelektual Indonesia diharapkan mampu memberikan arah dan meredam pragmatisme politik yang sangat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara itu.

Ketua Umum Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Baktinendra Prawiro menyampaikan, peran-peran dan fungsi inteligensia atau cendekiawan sangat perlu di dalam kegamangan demokrasi yang terjadi di Tanah Air.

“Peran dan tanggung jawab intelegensia dalam membangun NKRI yang bermartabat dan sejahtera menjadi amanah yang harus dilaksanakan oleh seluruh jajaran PIKI dalam tatanan maupun peran fungsional dalam masyarakat,” tutur Baktinendra Prawiro dalam pidatonya, di acara Dies Natalis ke-55 Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), yang digelar di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Jalan Salemba Raya 10, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2018).

Bagaimana pun, tatanan berpolitik transaksional itu harus di-rem. Menurut Baktinendra Prawiro, sejak jaman reformasi pada tahun 1998, Indonesia menjadi sangat transaksional dalam melakukan pemilihan legislatif maupun kepala daerah.

Banyak masyarakat yang terhipnotis dengan iming-iming yang diberikan para calon yang berupaya meraih simpati dari masyarakat.

“Sekarang ini sudah menjadi transaksional dalam pemilihan legislatif maupun pemilihan kepala daerah. Pemilih belum tentu berpikir melalui proses berpikir yang mendalam tentang pilihannya,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan, pada kongres yang ke 5 PIKI yang diadakan pada tahun 2015, telah mengkaji fenomena faktual bangsa Indonesia dan merumuskan visi dan misi PIKI dalam periode 2015-2020.

Dia menegaskan, Persatuan Intelegensia Kristen Indonesian (PIKI) terus berupaya mewujudkan visi dan misinya dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bermartabat dan sejahtera.

“Usia PIKI telah cukup panjang, telah 55 tahun. Bukan karena usaha manusia melainkan juga karena campur tangan Allah. Apalagi PIKI lahir dalam periode atau kondisi sejarah Indonesia yang sangat dinamis,” ujar Baktinendra.

PIKI yang berdiri pada tahun 1963 sudah melalui banyak proses yang cukup panjang. Bahkan, dalam perjalanannya pada masa Orde Baru, kaum intelektual hampir tidak mendapatkan tempat selama 32 tahun di masa kepemimpinan presiden ke 2 Republik Indonesia, Soeharto itu.

“Pak Harto berkuasa selama 32 tahun dengan mind-setnya sendiri, dengan polanya sendiri, tapi pada akhirnya tidak ada tempat untuk kaum intelektual ataupun kaum intelegensia. Karena posisi waktu itu adalah anda berada di pihak kami sebagai penguasa, atau berada di pihak yang melawan,” ucapnya.

Acara Dies Natalis ke 55 PIKI itu dihadiri sejumlah Tokoh Kristiani, seperti Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom, Sekjen Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Sigit Triyono, para sesepuh gereja,  Ketua Umum PP GMKI dan jajaran pengurusnya, serta para pengurus PIKI tingkat daerah.(JR/Nando)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*