Kepala BPIP Tidak Salah, Manipulator Agama Tukang Pelintir dan Bullyers

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Kepala BPIP Tidak Salah, Manipulator Agama Tukang Pelintir dan Bullyers.
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Kepala BPIP Tidak Salah, Manipulator Agama Tukang Pelintir dan Bullyers.

Polemik yang berujung kisruh wacana publik mengenai pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi, cenderung memojokkan pribadi Prof Yudian yang juga Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta itu.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen menilai, Prof Yudian Wahyudi kena bully bertubi-tubi atas slip tongue. Sebab, sebenarnya, tidak ada yang salah dengan pernyataan dan pandangan dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi itu.

Musuh terbesar Pancasila adalah manipulator agama, bukan kesukuan. Pernyataan itu terkait dengan adanya kelompok-kelompok tertentu yang mereduksi agama sesuai dengan kepetingannya sendiri dan bertentangan dengan Pancasila. Pernyataan Kepala BPIP itu sudah tepat dari kaca mata keilmuan beliau sebagai akademisi. Dan saya pribadi tidak ragukan pemikiran beliau sebagai dosen yang juga sekaligus Rektor,” tutur Samuel F Silaen, di Jakarta, Jumat (14/02/2020).

Menurut Silaen, Pancasila versus oknum yang mengatasnamakan agama, terjadi terus menerus dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Apa yang disampaikan oleh kepala BPIP itu bagian dari hasil penelitian sebagai akademisi yang juga Rektor UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta,” katanya.

Karena itu, Samuel F Silaen menyatakan, hendaknya pihak-pihak tidak begitu gampangnya memelintir pernyataan dan pandangan seseorang menjadi bernada negatif. Bahkan menyerang pribadi dan hal-hal yang sangat sensitif.

“Banyak orang begitu gampang melancarkan bully. Menuduh seenak hatinya. Tanpa melihat dan melakukan kajian yang obyektif. Pemelintiran jangan dibiasakanlah. Apalagi tentang hal-hal yang sensitif dan ideologis. Jangan,” tutur Silaen.

Pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Agama Musuh Pancasila, membuat gaduh. Dan cenderung dipublish secara negative. Menurut Samuel F Silaen, wacana itu  hanya gelombang opini yang dimainkan oleh para pemain lama.

“Yang kepentingan dan syahwatnya sedang dibonsai. Kegaduhan itu dalam rangka penggiringan opini negatif kepada sosok kepala BPIP yang baru,” ujarnya.

Silaen melanjutkan, pernyataan Prof Yudian yang kemudian viral itu menuai kritik dari berbagai kalangan. Karena ada yang terusik terkait agenda yang mereka-mereka kerjakan di bangsa ini.

“Bila tidak ada hidden agenda maka tidak akan begitu heboh. Apalagi dikecam sana-sini. Kegagalan bangsa ini maju karena salah satu persoalan ini yang tak kunjung usai di tataran elite-elite negeri ini,” paparnya.

Dia mengingatkan, diusia Negara Republik Indonesia yang memasuki 75 Tahun, perdebatan ideologi bangsa ini selalu menjadi sumber kegaduhan Nasional.

“Kenapa demekian? Karena resonansi yang ditimbulkan sungguh menyita energi kebersamaan bangsa ini,” katanya.

Ditegaskan Silaen, sungguhlah benar apa yang dilontarkan oleh Kepala BPIP itu. Hal itu disebutnya sebagai bagian pandangan visioner Prof Yudi. Mungkin saja hal itu akan terjadi jika agama sudah berubah menjadi candu yang membahayakan penganutnya.

“Dan menjadi sangat berbahaya, hingga menjadi bom waktu buat negeri ini di masa yang akan datang,” ungkap aktivis kepemudaan ini.

Menurutnya, para pengeritik yang melancarkan bully-an kepada Prof Yudi itu tidak memahami sepenuhnya inti apa yang disampaikan oleh Kepala BPIP.

“Jadinya seperti sekarang ini. Banyak elite-elite, tokoh masyarakat yang uring-uringan akibat pernyataan Kepala BPIP itu,” ujar Silaen.

Dalam situasi seperti ini, lanjutnya, agama telah dipakai untuk mengkoptasi nilai-niai luhur Pancasila yang menjadi kesepakatan bersama para founding fathers negeri ini.

Kesepakatan itu harusnya sudah bersifat final dan mengikat untuk seluruh rakyat Indonesia, tanpa kecuali. Agar energi bangsa ini tidak habis hanya untuk mengurusi hal-hal yang sudah final.

Alumni Lemhanas Pemuda 2009 ini mengatakan, seandainya waktu bisa diputar kembali, maka penganut agama yang selalu diasosiasikan jumlahnya minoritas tidak akan mau bergabung ke dalam Republik Indonesia ini. “Sebaiknya, kita perlu kembali membaca sejarah kita agar tidak gagal faham,” ujarnya.

Jadi sekarang ini, katanya,  rasa nasionalisme, keragaman dan kebangsaan anak- anak negeri ini sedang tercabik- cabik oleh kerakusan politik oleh segelintir oknu, yang mendadak jadi tokoh di masyarakat. “Agama ditunggangi untuk meraih kekuasaan bagi kepentingan kelompoknya,” tutup Silaen.

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi menjelaskan konteks pernyataannya soal agama musuh terbesar Pancasila kepada anggota BPIP Romo Benny Soesatyo.

Kepada Romo Benny, Yudian mengatakan konteks pernyataannya adalah, Pancasila sering dihadap-hadapkan dengan agama oleh sekelompok orang yang memiliki pemahaman sempit dan ekstrim.

Penjelasan itu disampaikan Yudian kepada Romo Benny melalui pesan elektronik. Pesan dikirim Yudian sebagai jawaban atas pertanyaan Romo Benny.

Yudian menyebut musuh terbesar Pancasila bukan kesukuan melainkan agama, dalam program Blak-blakan bersama Prof Yudian Wahyudi dengan tema Jihad Pertahankan NKRI di Detik.com, Rabu (12/2/2020).

Pernyataan Yudian memicu polemik, ada yang menganggap dengan pernyataan tersebut Yudian menista semua agama di Indonesia.

Berikut ini penjelasan Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang dikirim ke Romo Benny:

Yth. Romo Benny.

Yang saya maksud adalah bhw Pancasila sebagai konsensus tertinggi bangsa Indonesia harus kita jaga sebaik mungkin.

Pancasila itu agamis karena ke 5 sila Pancasila dapat ditemukan dengan mudah dalam Kitab Suci ke enam agama yang diakui secara konstitusional oleh NKRI.

Namun, pada kenyataannya, Pancasila sering dihadap-hadapkan dengan agama oleh orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman sempit dan ekstrim, padahal mereka itu minoritas (yang mengklaim mayoritas).

Dalam konteks inilah, “agama” dapat menjadi musuh terbesar karena mayoritas, bahkan setiap orang, beragama, padahal Pancasila dan Agama tidak bertentangan, bahkan saling mendukung.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*