Kembangkan Ekonomi Kerakyatan Dengan Gula Ekspor dan Pabrik Bioetanol, Kabupaten Tobasa Gelar Penanaman 1 Juta Pohon Aren

Sebanyak 1000 bibit pohon aren ditanam dan ditebar oleh Wakil Bupati Tobasa, Hulman Sitorus bersama President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan. Kegiatan penanaman bibit pohon aren itu juga diikuti Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tobasa, Bapak Manurung, Camat Laguboti, Ibu Tobing bersama Siswa-Siswi SMP Negeri 2 Laguboti di Sidulang dan masyarakat Kabupaten Tobasa. Berlokasi di Desa Sintong Marnipi, Kecamatan Laguboti, Tobasa, pada Senin, 28 Oktober 2019.
Sebanyak 1000 bibit pohon aren ditanam dan ditebar oleh Wakil Bupati Tobasa, Hulman Sitorus bersama President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan. Kegiatan penanaman bibit pohon aren itu juga diikuti Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tobasa, Bapak Manurung, Camat Laguboti, Ibu Tobing bersama Siswa-Siswi SMP Negeri 2 Laguboti di Sidulang dan masyarakat Kabupaten Tobasa. Berlokasi di Desa Sintong Marnipi, Kecamatan Laguboti, Tobasa, pada Senin, 28 Oktober 2019.

Pemerintah Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara menggalakkan penanaman 1 juta pohon. Kali ini pohon yang ditanam adalah pohon bagot atau aren.

Sebanyak 1000 bibit pohon aren ditanam dan ditebar oleh Wakil Bupati Tobasa, Hulman Sitorus bersama President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan.

Kegiatan penanaman dimulai pada Senin, 28 Oktober 2019. Berlokasi di Desa Sintong Marnipi, Kecamatan Laguboti, Tobasa.

President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan menyampaikan, kegiatan ini diinisiasi oleh Geoforce bersama Pemkab Tobasa dan SMP Negeri 2 Laguboti di Sidulang dan masyarakat Kabupaten Tobasa.

Untuk tahap awal ini, sebanyak 1000 bibit pohon aren ditanam di lahan datar. Dan sebanyak 5000 bibit ditanam dilahan terjal, dengan cara melemparkan pakai ketapel.

“Lahan datar ditanami bibit aren sejumlah 1000 bibit. Untuk lembah ditanami benih melalui ketapel sejumlah 5000 biji,” tutur Jainal Pangaribuan, Minggu (03/11/2019).

Kegiatan penanaman bibit pohon aren itu dilakukan Wakil Bupati Tobasa Hulman Panjaitan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tobasa, Bapak Manurung, Camat Laguboti, Ibu Tobing, President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan bersama Siswa-Siswi SMP Negeri 2 Laguboti di Sidulang dan masyarakat Kabupaten Tobasa.

Wakil Bupati Tobasa, Hulman Sitorus mengatakan, pihaknya setuju mengembangkan tanaman pohon aren di Kabupaten Tobasa. Pohon ini, selain untuk menjaga kelestarian lingkungan, juga untuk peningkatan perekonomian masyarakat.

Pohon aren memiliki potensi ekonomi yang besar, dari mulai bagian akar, batang, lidi, daun, buah dan air atau niranya.

“Ini sangat bagus. Selain itu, masyarakat Batak, khususnya yang di Tobasa, sudah sejak turun temurun akrab dengan Pohon Bagot atau aren ini. Untuk kelestarian lingkungan, adat istiadat, dan terutama untuk perekonomian masyarakat di masa depan,” tuturnya.

Untuk Kabupaten Tobasa, ditargetkan akan menanam 1 juta pohon aren hingga tahun 2020. Setelah itu, akan terus digalakkan di wilayah-wilayah lainnya.

President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan menambahkan, dengan 1 juta pohon aren, masyarkat sudah bisa memproduksi gula aren dan mendirikan pabrik bioethanol.

Target di Tobasa 1 Juta pohon, hingga layak dibangun satu pabrik gula aren dan satu pabrik Bioethanol,” ujar Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Selain menjadi sumber mata pencaharian masyarakat lokal, pohon ini bisa ditanami dimana saja. Termasuk di samping rumah, di kebun-kebun, di hutan-hutan, di lembah-lembah, di tanah yang tak terurus dan lain sebagainya.

Hebatnya lagi, menurut Jainal Pangaribuan, tidak butuh kerumitan menanam dan memelihara pohon bagot itu.

Perlu diketahui, badan dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menekankan kampanye lingkungan. Dan juga pengolahan lahan yang tidak merusak lingkungan. Demikian juga dengan produksi berbagai kebutuhan hidup manusia, termasuk makanan, obat-obatan, energi dan lain sebagainya, diutamakan yang tidak merusak lingkungan.

Nah, ada tiga kelebihan utama dari pohon bagot atau aren ini untuk hal itu. Pertama, pohon bagot tidak merusak lingkungan. Menurut Jainal Pangaribuan, menanam pohon bagot pasti menjaga kadar humus tanah. Juga mencegah bencana, seperti tanah longsor.

Yang paling menguntungkan secara ekologis, lanjut dia, pohon bagot memproduksi oksigen yang sangat bagus.

“Sangat berbeda misalnya dengan tanaman eucalyptus, yang banyak ditanami oleh pabrik-pabrik perusak lingkungan. Tanaman itu merusak lahan. Menyedot semua unsur hara tanah. Tanah menjadi kering dan tandus. Membuat air tanah pahit. Tidak ramah lingkungan. Kalau pohon bagot malah tidak begitu,” tuturnya.

Seperti diketahui, Indonesia kini diharapkan sebagai paru-paru dunia. Yang memproduksi oksigen bagi dunia. Karena itu, sebaiknya dijaga dan dikembangkan pohon bagot itu.

Menurut Jainal, tidak rumit menanam, mengelola, dan memproduksi hasil-hasil dari pohon bagot. Termasuk memproduksi gula aren dan energi terbarukan bioethanol.

Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata per tahun hanya di angka 5 %, Jainal optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa didongkrak hingga ke angka 10 % dengan usaha Pohon bagot.

Menanam pohon bagot,  bisa menyerap tenaga kerja yang disebut mencapai angkat 10 %. Untuk luas lahan 5 hektar saja, bisa ditanami sebanyak 2000 pohon bagot. Setelah ditanam, potensi ekonominya sangat fantastis. Dan berproduksi terus, sejak lima tahun terus menerus menghasilkan.

Dia menghitung, dengan menanam pohon bagot untuk lahan seluas 10 juta hektar saja, Indonesia sudah bisa membayar hutangnya untuk 10 tahun.

Lahan seluas 10 juta hektar saja, jika ditanami pohon bagot, sudah terdapat sebanyak 4 miliar pohon bagot. Per tahun, sebanyak 60 % dari pohon itu atau sekitar 2,4 miliar pohon akan berproduksi. Dan menghasilkan uang triliunan rupiah.

Dijelaskan Jainal Pangaribuan, untuk produksi 12 sampai 15 liter nira dari satu pohon aren, bisa menghasilkan 1 liter bioethanol. Belum lagi untuk gula aren dan kebutuhan lainnya.

Dengan menanam 1 juta pohon bagot saja, lanjutnya, Indonesia sudah memiliki asset sebesar Rp 4 triliun. Itu masih baru menanam. Belum sampai ke produksi. Pohon bagot di tahun pertama ditanami dan dijaga. Di tahun ke dua, sudah pasti memproduksi oksigen.

“Jika dihitung dalam angka materi, bisa berapa banyak nilai oksigen yang diproduksi. Sangat banyak,” ujarnya.

Berbeda dengan kelapa sawit, Jainal Pangaribuan mengatakan, perusahaan kelapa sawit ditaksir hanya mampu menyumbangkan 100 triliun rupiah per tahun. Itu pun dengan 15 juta hektar lahan sawit. Lagipula, lahan sawit seperti itu adalah milik korporasi, milik perusahaan. Bukan milik masyarakat.

Untuk gula aren, lanjutnya, dari pengalamannya yang sudah memproduksi dan mengekspor gula aren dari Sulawesi, gula aren memiliki pangsa pasar terbesar adalah Eropa.

Orang Eropa memiliki standar yang ketat. Pohon arennya harus diproduksi tanpa merusak lingkungan. Gula arennya benar-benar sesuai standar mereka.

“Dan, biasanya mereka menelusuri dan mengontrol proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan pohon aren itu, hingga berproduksi. Sesuai standar kesehatan lingkungan, dan tak merusak lingkungan, mereka akan jor-joran impor dari Indonesia,” tuturnya.

Jika dibandingkan dengan usaha lainnya atau produksi pohon-pohon lainnya, pastinya pohon bagot lebih memberikan konstribusi yang sangat besar.

Kini, kata dia, pihaknya sedang membangun kerja sama dengan pemerintah daerah di Kawasan Danau Toba (KDT) dan masyarakat adatnya, untuk mau dan memassifikasi penanaham pohon aren yang sangat berguna itu.

“Tergetnya, di tahun 2020 nanti, sudah ada 1 juta pohon bagot yang ditanam. Dan nilai ekonomisnya kami hitung mencapai Rp 10 triliun,” ujarnya.

Sedangkan pembibitan pohon aren, kini Jainal Pangaribuan membibit sebanyak 2 juta pohon aren. “Murah. Harganya per satu pohon bibit, hanya Rp 10 ribu. Per batang. Dan itu sudah sampai di tangan masyarakat. Di antar ke ujung mana pun. Bibit itu sudah disemai dengan standar yang sudah ditentukan Eropa, misalnya,” ungkap Jainal.

Untuk mengembangkan Kawasan Danau Toba dan pendapatan masyarakat lokal, Jainal Pangaribuan mengajak masyarakat dan pemerintah, untuk memassifikasi penanaman dan produksi pohon bagot itu.

Bahkan, perusahaan-perusahaan perusak lingkungan, harus diganti. Agar tatanan ekonomi, tatanan masyarakat, termasuk hubungan sosial dan adat istiadat masyarakat setempat lestari dengan baik.

Jainal Pangaribuan juga meminta, kiranya Presiden Joko Widodo, dan jajaran kabinetnya, mendorong dan memassifikasi penanaman pohon aren itu untuk tujuan sosial, ekonomis, dan lingkungan yang lebih baik.

Political will pemerintah, dari Pak Presiden Jokowi dan para jajaran menterinya, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kementerian Koperasi UMKM, penanaman modal, dan stake holder lainnya, termasuk Pemerintah Daerah, agar mengembangkan potensi ini dengan baik. Untuk kesejahteraan masyarakat. Lahan bisa berkoodinasi dengan KLHK, bibit kita bisa siapkan,” tuturnya.

Dia menekankan, keuntungan besar akan diraih masyarakat dan pemerintah Indonesia, jika mengembangkan serius penanaman dan pengembangan produksi pohon bagot di seluruh Tanah Air.

“Nilai sosial tinggi, peran serta masyarakat bagus, lahan banyak tersedia, lingkungan terjaga dan sehat, dan nilai ekonomisnya sangat fantastis,” ujar Jainal Pangaribuan.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan