Keluar Dari Zona Nyaman, Ketua Umum DPP GAMKI: Kemajuan Teknologi Informasi Harus Ciptakan Pemuda Profesional

Keluar Dari Zona Nyaman, Ketua Umum DPP GAMKI: Kemajuan Teknologi Informasi Harus Ciptakan Pemuda Profesional

- in DAERAH, NASIONAL
19
0
Keluar Dari Zona Nyaman, Ketua Umum DPP GAMKI: Kemajuan Teknologi Informasi Harus Ciptakan Pemuda Profesional.

Para pemuda Indonesia diajak keluar dari zona nyaman kemajuan teknologi informasi, untuk menjadi profesional dalam menghadapi tantangan globalisasi.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) Michael Wattimena mengatakan, pergumulan kaum muda Indonesia saat ini antara lain tidak mau keluar dari zona nyamannya. Hal itu menimbulkan kemunduran bagi peradaban dan masa depan Indonesia.

“Peran pemuda sangat penting dan strategis. Oleh karena itu, sudah saatnya pemuda keluar dari zona nyaman, supaya kita dapat melakukan sesuatu yang baru dan berbeda yang positif,” ujar Michael Wattimena, saat bicara dalam Diskusi Interaktif “Generasi Muda Kristen di Era Milenial”, dalam rangka Hari Ulang Tahun GAMKI ke 56, di Gedung LAI, Jalan Salemba Raya 12, Jakarta Pusat, Jumat (27/04/2018).

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI ini menyambung, tantangan era globalisasi kian tidak mudah. Selain skill yang harus mumpuni, penguasaan teknologi informasi untuk meningkatkan nilai tawar pemuda, termasuk dari sisi akademisnya, harus dilakukan segera.

“Tidak bisa hanya menjadi pengguna kemajuan teknologi informasi saja. Itu sama saja kita dikuasai oleh orang lain. Skill dan akademis yang tinggi harus bisa diperoleh dari kemajuan IT saat ini, dan menguasainya,” tutur pria yang belum lama mendapat gelar Doktor itu.

Acara Dies Natalis GAMKI Ke-56 dihadiri puluhan Pemuda Gereja, Mahasiswa serta perwakilan lembaga keumatan.

Di tempat yang sama, Praktisi IT Ari Widiatmoko menyampaikan, di era milenial ini, para pemuda dalam kesehariannya tak pernah lepas dari penggunaan teknologi.

Dikatakan Ary, layanan industri telekomunikasi semakin dinamis dan kompetitif.

Playstore di dalam gadget memberikan banyak pilihan gaya hidup. Itu dipercaya turut mendukung para pemuda gereja saat ini dalam mengembangkan kemampuan skill teknis dan akademisnya untuk bisa bersaing secara profesional dalam persaingan global,” ujar Ary.

Tantangan pemuda ke depan, lanjut dia, yakni sistem pengelolaan data jumlah anggota yang sudah terregister dalam portal website resmi.

“Misalnya, GAMKI yang ada di 25 Dewan Pimpinan Daerah di Indonesia, sebenarnya dapat memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan kualitas dan kapasitas pemberdayaan manusia di era digitalisasi saat ini,” ujarnya.

Artinya, kata Ary, pemuda seharusnya bisa memetakan kebutuhan dan potensi generasi milenial dari setiap daerah, dengan pola yang masif dan terorganisir.

“Serta komunikasi yang efektif, berbagi informasi pada setiap anggota di daerah dapat memberikan daya dobrak perubahan pemuda yang inovatif dan kreatif,” ujar Ary.

Rohaniawan Muda Kristen, Pdt Sapta B Utama Siagian mengatakan, tantangan yang dihadapi pemuda di era milenial dengan kemajuan IT saat ini juga menjadi persoalan tersendiri bagi Gereja.

“Gereja belum  dapat memberikan kebutuhan, khususnya pada pemuda gereja. Hal itu disebabkan gereja masih menggunakan pemikiran dan pemahaman feodal,” ujar Pdt Sapta.

Dia pun mengajak para Pendeta dan rohaniawan agar tidak melulu menerapkan cara-cara dogmatif kepada kaum muda.

“Selain dogma, juga harus aplikatif. Karena generasi milenial dewasa ini sudah cepat mencari setiap informasi dengan menggunakan gadget-nya, dan itu memberikan efek perubahan di tataran kehidupan sosial,” ujarnya.(Jepri)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Raih Penghargaan Zona Integritas WBBM Eselon I, Kabandiklat Kejaksaan Setia Untung Arimuladi: Out Of The Box, Keluar Dari Zona Nyaman

Telah dibaca: 471 Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan