Kekristenan Melempem, Pdt Saut Hamonangan Siait: Jika Generasi Ini Tak Mau, Kita Akan Datang Kembali Untuk Bertarung

Diskusi Rumah Kopi, Pdt Saut Hamonangan Sirait, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Provinsi DKI Jakarta (DPD GAMKI DKI Jakarta), Jhon Roy P Siregar, aktivis GMKI Jakarta dan pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Wira Leonardi Sinaga, aktivis GMKI Jakarta Nando Tornando Togatorop dan aktivis GMKI dari Pekanbaru, Riau, yang kini aktif di lembaga penyelamatan lingkungan hidup, Johnny Alprado Manurung, di Kawasan Rawasari, Jakarta Timur, Sabtu malam, (16/11/2019).
Diskusi Rumah Kopi, Pdt Saut Hamonangan Sirait, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Provinsi DKI Jakarta (DPD GAMKI DKI Jakarta), Jhon Roy P Siregar, aktivis GMKI Jakarta dan pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Wira Leonardi Sinaga, aktivis GMKI Jakarta Nando Tornando Togatorop dan aktivis GMKI dari Pekanbaru, Riau, yang kini aktif di lembaga penyelamatan lingkungan hidup, Johnny Alprado Manurung, di Kawasan Rawasari, Jakarta Timur, Sabtu malam, (16/11/2019).

Salah seorang Tokoh Kristen Progresif Indonesia, Pendeta Saut Hamonangan Sirait melihat kondisi Indonesia saat ini sedang mengalami dinamika yang tidak semuanya difahami dan dimengerti masyarakatnya secara sungguh. Gamang, dan hampir tanpa nilai-nilai idealisme. Idealisme semu.

Hal itu dikarenakan salah satu faktornya para aktivis, terutama aktivis pergerakan Kristen, di level Nasional dan Daerah, yang juga mengalami kegamangan. Jangankan generasi aktivis pergerakan saat ini, banyak mantan aktivis yang sudah senior atau tua pun malah seperti kehilangan arah.

“Perlu upaya sangat serius untuk kembali lagi dari awal untuk membangkitkan jiwa pergerakan. Apalagi untuk aktivis Kristen, seperti di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Banyak yang hampir kehilangan idealisme-nya,” tutur Pdt Saut Hamonganan Sirait, saat berbincang dengan aktivis, di sebuah Rumah Ngopi, di Kawasan Rawasari, Jakarta Timur, Sabtu malam, (16/11/2019).

Malam itu, belum beberapa jam Pdt Saut Hamonangan Sirait tiba di Jakarta dari Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sengaja menyediakan waktu untuk bertemu dan diskusi ringan dengan para adek-adeknya aktivis dari GMKI dan GAMKI.

Hadir malam itu, eks aktivis GMKI, yang kini sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Provinsi DKI Jakarta (DPD GAMKI DKI Jakarta), Jhon Roy P Siregar, aktivis GMKI Jakarta, dan pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Wira Leonardi Sinaga, aktivis GMKI Jakarta Nando Tornando Togatorop dan aktivis GMKI dari Pekanbaru, Riau, yang kini aktif di lembaga penyelamatan lingkungan hidup, Johnny Alprado Manurung.

Saut Hamonangan Sirait yang semasa mudanya menjalani perkuliahan di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STTJ), juga digembleng sebagai aktivis yang kritis dan bernyali di Rumah Pergerakan Oikumene, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Jakarta (GMKI Jakarta) itu mengaku, ada penurunan yang teramat sangat drastis dari cara para aktivis zaman now untuk melihat, menganalisis, dan menyuarakan amanat penderitaan rakyat, dan amanat penderitaan jemaat gereja.

Hal itu juga sangat nyata tergambar dari pengamatan dan pengalamannya mengikuti proses Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang telah menetapkan Pdt Gomar Gultom sebagai Ketua Umum PGI dan Pdt Jacky Manuputty sebagai Sekum PGI, untuk 5 tahun ke depan.

Pdt Saut Hamonangan Sirait yang pernah menjadi Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Jakarta (GMKI Jakarta) itu mengatakan, selama proses Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, hampir tidak ada dinamika yang berarti. Hampir tak ada yang disebut sebagai wadah substansial untuk membahas pergumulan orang-orang Kristen dan Gereja-Gereja di Indonesia. Semuanya sudah bagai settingan dan membeo.

“Hanya Saudara-saudara kita dari Gereja Papua yang sempat melontarkan, akan keluar dari PGI, apabila persoalan-persoalan Masyarakat Papua tidak menjadi perhatian dan keseriusan PGI untuk memperjuangkannya. Solusinya, ya tetap ada Desk Khusus untuk Papua,” ungkap Pdt Saut Hamongan Sirait.

Pendeta Saut Hamonangan Sirait yang pernah sebagai Ketua DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) itu menegaskan, masyarakat Indonesia, terutama jemaat-jemaat gereja di bawah naungan PGI, bisa-bisa frustrasi jika tidak ada upaya membenahi secara serius persoalan-persoalan jemaat dan gerejanya.

Jika sekedar membandingkan masa pergerakan di eranya dengan era kini, lanjut Pdt Saut Hamongan Sirait yang juga pernah sebagai Direktur Departemen Pemuda Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) ini, sangat jauh nilai idealisme yang dijunjung tinggi dan diperjuangkan mati-matian.

Misal, lanjut pria yang juga pernah fungsionaris DPP Persatuan Intelijensia Kristen Indonesia (DPP PIKI) ini, sejumlah peristiwa penting dan genting di pusaran masa Era Reformasi Indonesia, menuju penentuan Kepemimpinan Nasional, antara Amien Rais, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Alm), dan Megawati Soekarnoputri, peran sentral kaum pergerakan, termasuk aktivis pergerakan Kristen dan Gereja seperti Saut Hamonangan Sirait dan kawan-kawannya.

“Saat itu tokoh-tokoh Gereja, seperti Pdt Dr SAE Nababan, Bang As (Asmara Nababan) dan beberapa senior, menginisiasi dan meminta saya untuk menjadi jembatan menggelar pertemuan antara Gus Dur, Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, membicarakan nasib Indonesia yang sedang genting kala itu. Menentukan Kepemimpinan Nasional, segera,” ungkap Pdt Saut Hamonangan Sirait.

Pada saat itu, lanjut Saut Hamongan Sirat yang juga salah seorang Aktivis Demokrasi dan Pejuang HAM sebagai Pendiri Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Nasional ini, dirinya terinspirasi pada pergerakan kaum muda saat menculik Soekarno dan Mohammad Hatta, dan membawa mereka ke Rengas Dengklok, supaya memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

“Dengan berbagai upaya, ketemu. Gus Dur, Megawati, Amin Rais. Hanya Sri Sultan Hamengkubuwono, waktu itu tidak bisa hadir karena situasi dari Yogya ke Jakarta sangat tidak memungkinkan. Pertemuannya subuh. Pagi-pagi,” ungkapnya.

Pada saat pertemuan itu, semua Tokoh Bangsa itu bersepakat mengutamakan kepentingan Bangsa Indonesia.

“Akhirnya, Gus Dur yang jadi Presiden. Setelah jadi Presiden, Gus Dur juga tidak lupa, masih menyurati resmi beberapa kali Tokoh-Tokoh dan para aktivis untuk kumpul bicarakan Indonesia,” ujar Saut Sirait.

Idealisme itu sangat nyata. Kepentingan Masyarakat Indonesia, Bangsa dan Negara Indonesia lebih utama. “Tak ada kepikiran, mesti dekat-dekat dengan Presiden supaya dapat posisi. Waktu itu Indonesia yang utama,” ujarnya.

Demikian juga, lanjut Pdt Saut Hamonangan Sirait yang pernah menjadi Ketua Umum DPP Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo) ini, pada saat peristiwa disintegrasi Timor Timur dari Negara Kesatuan Indonesia (NKRI).

Dirinya, sebagai aktivis KIPP dan juga sebagai aktivis yang diutus Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), untuk berangkat ke Timor-Timur. Menghadapi mara bahaya, melakukan advokasi dan pendampingan kepada warga gereja.

“Tak peduli dia jemaat gereja apa dan dimana. Tidak urusan apakah Pro Integrasi atau Pro Timor Timur Merdeka. Semua harus kita advokasi dan selamatkan,” beber Pdt Saut Sirait.

Kondisi yang sangat memprihatikan, sangat mengancam nyawa siapapun. Hampir tiap menit terdengar rentetan bunyi senjata api menyalak dan saling menembaki.

Pasokan air minum krisis. Pasokan makanan juga sangat minim. Demikian pula jalanan dipenuhi reruntuhan dan jalanan diblokir, serta kendaraan-kendaraan yang sudah tidak bisa kosong ditinggal pengemudinya.

“Saya ke lokasi pengisian Bahan Bakar milik tentara. Saya isi saja tanki kendaraan yang kami bawa,” ujar Saut.

Di sebuah penampungan warga, pada sebuah gereja, Pdt Saut Hamonangan Sirait dan rekan-rekannya, berupaya menenangkan warga. Memberikan apa saja yang masih bisa diberikan untuk logistik. “Dan setiap hari saya membacakan ayat-ayat dari Kitab Mazmur. Harapan dan kehidupan harus terus disuarakan,” imbuhnya.

Pada saat semua pasukan dari PBB sudah meninggalkan Timor Timur, yang kini sudah menjadi Negara Timor Leste, ada sekitar 7 orang Kedutaan Amerika yang sudah tidak bisa ngapa-ngapain. Bersembunyi saja. Tidak ada makanan, tidak ada minuman, tidak ada transportasi. Tidak ada komunikasi. Mereka tertinggal tidak bisa berangkat kembali ke Negaranya.

Berondongan senjata terus mengarah ke mereka. Dan ketika diselamatkan Pdt Saut Hamonangan Sirait dan kawan-kawan, ke gereja penampungan, mereka juga sudah penuh ketakutan. Mereka harus dipulangkan ke negerinya.

“Saya pasang papan-papan untuk menutupi mobil pick up, yang kami pergunakan mengantar mereka ke bandara. Mobil pick up kami tutupi. Bagian depan dan bagian samping semua saya pasangi bendera Merah Putih. Ada 10 check point atau Pos Pemeriksaan yang kami harus lalui untuk mengantarkan mereka ke bandara,’ tutur Pdt Saut Hamongan Sirait.

Sepanjang jalan menuju bandara, Pdt Saut Hamonangan Sirait, mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil, supaya yang mencegat atau yang melihat tahu, bahwa mereka bukan lawan. Ketujuh orang Kedutaan Amerika Serikat itu, lanjut Pdt Saut Hamongan Sirait, tiba dengan selamat di bandara.

“Karena itu bandara internasional, ya menurut kami itu aman. Ya mereka pulang dari sana ke Amerika. Aku tidak kenal pula mereka satu per satu. Lupa pula menanyakan nama-nama mereka, yang penting ya kalian selamat dululah,” terang Saut Sirait.

Pdt Saut Hamongan Sirait, yang belum tentu harus disukai oleh semua orang, mengatakan bahwa kaum muda, para aktivis Kristen harus kritis dan berani. PGI, lanjutnya, juga harus menjadikan GMKI dan GAMKI, sebagai motor penggerak kalangan muda Kristen untuk melakukan pergerakan dan advokasi di setiap lini. Terutama untuk kemanusiaan.

“Di Indonesia, GMKI dan GAMKI adalah anak-anak gereja yang sangat strategis untuk di-back up dan menjadi saudara yang strategis melakukan pelayanan dan kerja-kerja kekristenan dan kemanusiaan Indonesia. PGI harus bersinergis. Jangan menjauhi dan jangan menyingkirkan mereka,” ujarnya.

Pdt Saut Hamongan Sirait juga Pendiri Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI), dia juga sebagai Pendiri Kelompok Pelita Sejahtera (KPS). Masih banyak idealisme, mimpi dan perjuangan yang harus dilakukan di Tiga Medan Pelayanan yakni di Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat.

Saut Hamongan Sirait merupakan Mantan Sekretaris Komite Etik Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bersama Todung Mulya Lubis, Komarudin Hidayat dan Anies Rasyid Baswedan, yang memecat La Nyalla dari Eksekutif Komite PSSI, saat ini kembali ke Pematangsiantar, mengajar di Sekolah Tinggi Teologia Huria Kristen Batak Protestan Nommensen (STT HKBP Nommensen) Pematangsiantar.

“Banyak yang menanyakan, kok tidak di Jakarta saja, mengapa malah balik ke Siantar? Ada passion, jiwa dan pelayanan saya yang harus saya lakukan, di sana. Ada idealisme yang harus saya lakukan dari sana,” ujar Pdt Saut Sirait.

PGI, GMKI, GAMKI, Pemuda Gereja, lembaga-lembaga Kekristenan saat ini, menurut dia, mesti harus kembali pada roh Oikumenisme dan Nasionalisme. Melakukan kaderisasi yang riil, membangun idealisme, bergerak dan bertarung untuk umat Kristen yang lebih baik, untuk Indonesia yang lebih baik, untuk dunia yang lebih baik.

“Saya juga berpikir, memang kita-kita ini, perlu melakukannya lagi. Kalau diminta, saya akan datang,” ujar Pdt Saut Hamonangan Sirait mengakhiri diskusi malam itu.***

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan