Kekerasan Guru Terhadap Murid di Samarinda, Hentikan Kekerasan Terhadap Anak, Hukum Harus Ditegakkan

Kekerasan Guru Terhadap Murid di Samarinda, Hentikan Kekerasan Terhadap Anak, Hukum Harus Ditegakkan.

Tindak kekerasan terhadap anak ternyata masih banyak terjadi. Bukan hanya di luar sekolah, di dalam institusi pendidikan pun kekerasan terhadap anak terjadi.

Oleh karena itu, penegakan hukum harus dilakukan agar tidak terjadi kekerasan demi kekerasan yang mengancam nyawa dan masa depan anak-anak Indonesia.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Samarinda, Adji Suwignyo mengatakan, kekerasan terhadap anak sudah di tingkat memilukan. Dia meminta penegakan hukum tidak mandul untuk pelaku kekerasan terhadap anak.

“Kasus dugaan kekerasan terhadap anak ini sangat memilukan. Semua pihak harus segera berkoordinasi dan bertindak untuk mencegah dan bahkan menindaktegas kekerasan terhadap anak,” tutur Adji, dalam keterangan persnya, Kamis (07/03/2019).

Dia mengungkapkan, saat ini saja, pihaknya sedang menangani dugaan kekerasan yang dilakukan oleg Guru terhadap anak muridnya di sekolah. Menurut Adji, jika dunia pendidikan seperti sekolah masih saja terjadi kekerasan terhadap anak murid, maka masa depan masyarakat masih terancam.

“Kali ini korban masih sangat kecil yakni siswi di sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),” ujar Adji.

Untuk mempercepat proses hukum, Adji mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan KPAI Pusat, dan KPAI Pusat sangat konsen untuk menyelesaikan kasus ini.

Terkait proses hukum di Kepolisian, Adji mengatakan, untuk kasus kekerasan terhadap anak usia dini ini, berdasarkan surat dari penyidik, terlapor oknum guru sudah dilakukan pemeriksaan. Status hukum pelaku itu pun sudah ditingkatkan dari terlapor menjadi tersangka, pada Jumat 22 Febuari 2019 lalu.

“Namun anehnya setelah penetapan tersangka, perkara ini terkesan melamban. Sudah tersangka, tidak dilakukan penahanan, berdasarkan surat tersangka tidak berada di Indonesia melainkan di luar negeri dengan alasan melanjutkan studi,” jelas Adji.

Dia menuturkan, hal itu juga berdasarkan Keterangan surat dari Polres Samarinda yang menyatakan setelah penetapan tersangka, penyidik akan melakukan koordinasi dengan pihak Imigrasi karena diduga terlapor atau tersangka ini akan ke luar negeri alasan studi atau belajar.

“Jadi menurut penyidik tersangka sedang ke luar negeri. Makanya kita koordinasi dengan lembaga yang memang terkait dengan kasus ini agar kasus ini proses, diselesaikan dengan sesuai atau benar tidak ada lagi yang menyimpang sana sini karena kan perlindungan anak kan khusus Undang-Undangnya,” tegasnya.

Karena itu, lanjut Adji, pihaknya juga sudah konsultasi ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), serta rencananya akan konsultasi masalah proses hukum ini ke Mabes Polri.

“Intinya korban ingin ditangani dengan cepat sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pelaku tidak muluk muluk mintanya cukup diproses sesuai aturan yang ada saja. Kalau saya melihat dari foto yang terjadi terhadap anaknya murni pidana bukan delik aduan atau sebagainya,” imbuhnya.

Kasus dugaan kekerasan terhadap anak kembali terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Tak tanggung-tanggung, kali ini anak berumur di bawah 5 tahun yang merupakan murid salah satu PAUD di Samarinda menjadi korban. Oknum guru yang diduga sebagai pelaku tindak kekerasan tersebut bernama Dian Utami Putri.

Anak tersebut menjadi korban oknum guru yang diduga berkali-kali melakukan pemukulan terhadap wajah korban sehingga korban mengalami luka lebam dan memar di pipi kanan dan kiri.

Tak terima anaknya menjadi korban kekerasan oknum guru tersebut, Ibu korban bernama Delima Juniati melaporkan oknum guru tersebut ke Polres Samarinda dengan membawa sejumlah barang bukti seperti hasil visum.

“Laporan polisi ini dilakukan setelah tidak adanya etikat baik dari oknum guru dan pihak PAUD untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Delima Juniati saat mengadu ke KPAI Pusat dan melaporkannya ke Mabes Polri, Jakarta, Rabu (06/03/2019).

Delima menerangkan, peristiwa tindak kekerasan terhadap anaknya itu terjadi tanggal 22 November 2018.

“Setelah itu kita berikan waktu pihak PAUD untuk menyelesaikan. Namun tidak ada itikad baik, akhirnya tanggal 27 November 2018 kita membuat laporan ke Polres Samarinda,” ujar Delima.

Selain melaporkan oknum guru, Delima juga telah mengadukan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Samarinda. Selanjutnya, KPAI Samarinda melakukan pendampingan hukum terhadap korban untuk mengikuti proses hukum di Polres Samarinda.(Richard)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan