Kekerasan dan Kurang Harmonis, Tahun 2019 Angka Perceraian di Jakarta Meningkat

Kekerasan dan Kurang Harmonis, Tahun 2019 Angka Perceraian di Jakarta Meningkat.
Kekerasan dan Kurang Harmonis, Tahun 2019 Angka Perceraian di Jakarta Meningkat.

Bukan hanya di daerah-daerah jumlah perkara perceraian meninggi. Di Ibukota Negara, Jakarta pun dalam satu tahun terakhir ini mengalami peningkatan angka perceraian.

Ada sejumlah faktor pemicu terjadinya perceraian. Aktivis Perempuan Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta, Lora Rajagukguk mengungkapkan, kasus perceraian yang ditanganinya setiap bulannya antara dua hingga tiga kasus.





“Yang kami tangani saja setiap bulannya ada dua sampai tiga kasus perceraian. Dan semuanya berakhir talak atau cerai,” tutur Lora ketika berbincang, Kamis (20/06/2019).

Jika ratusan bahkan mungkin ribuan lawyer di Jakarta juga menanganani kasus perceraian, maka bisa diprediksi angka perceraian di Jakarta di tahun 2019 ini tinggi.

Lebih lanjut, perempuan lajang yang juga berkoordinasi dengan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) ini menyampaikan, ada empat factor yang menyebabkan perceraian di Jakarta, yaitu karena perzinahan, kekerasan, Long Distance Relation (LDR) atau ditinggal kabur dan karena Rumah Tangga yang kurang harmonis.





Menurut dia, dari pihak-pihak yang melakukan konsultasi dan juga melakukan gugatan perceraian melalui kantornya, dapat terungkap bahwa perzinahan menjadi pemicu tertinggi terjadinya perceraian di Jakarta. “Sekitar 50 persen yang melakukan cerai itu karena perzinahan,” ujar Lora.

Sementara faktor kekerasan dan LDR berada di urutan kedua dan ketiga, terjadinya perceraian di Ibukota.

Lora mengatakan, memang tidak sepanjang tahun ada kasus perceraian yang ditanganinya. Ada saja musim-musiman meningkatnya angka perceraian di Jakarta.





Dia mengatakan, musim panen kasus perceraian itu terjadi seperti pada bulan-bulan saat ini, Mei-Juni. “Pertengahan tahun biasanya meningkat penanganan perkara perceraian,” katanya.

Dia menegaskan, perzinahan dan kekerasan pastinya akan berujung pada ketidakharmonisan rumah tangga. Selain itu, faktor ketidakharmonisan juga disebabkan adanya tingkat perekonimian yang kian sulit.

“Penghasilan yang minim, kebutuhan hidup yang terus meningkat, serta gaya hidup yang semakin glamour turut memicu meningkatnya angka perceraian,” ujarnya.





Dalam bahasa sehari-hari, kemiskinan dan kesulitan hidup masih sangat mempengaruhi meningkatnya angka perceraian itu. “Dan juga mungkin karena lemahnya keimanan,” ujar Lora.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan