Kejamnya PT Toba Pulp Lestari (TPL), Balita dan Pegiat Adat Dianiaya Petugas

Balita Mario Ambarita Umur 3 Tahun korban pemukulan petugas sekuriti PT Toba Pulp Lestari (TPL) digendong ayahnya usai memeriksa kondisinya di Puskesmas pada Senin 16 September 2019. Kejamnya PT Toba Pulp Lestari (TPL), Balita dan Pegiat Adat Dianiaya Petugas.
Balita Mario Ambarita Umur 3 Tahun korban pemukulan petugas sekuriti PT Toba Pulp Lestari (TPL) digendong ayahnya usai memeriksa kondisinya di Puskesmas pada Senin 16 September 2019. Kejamnya PT Toba Pulp Lestari (TPL), Balita dan Pegiat Adat Dianiaya Petugas.

Sungguh keterlaluan perilaku pihak Humas PT Toba Pulb Lestari (TPL) dan para body guard-nya. Seorang anak di bawah umur lima tahun (Balita) bernama Mario Ambarita dan pegiat Adat Lamtoras Sihaporas dianiaya sekuriti PT TPL.

Mangitua Ambarita yang bergelar Ompu Morris Ambarita, sebagai Wakil Ketua Umum Lembaga Adat Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) menuturkan, kejadiannya berlangsung pada Senin (16/09/2019). PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang sebelumnya bernama PT Inti Indorayon Utama (IIU) beroperasi di wilayah-wilayah adat masyarakat sekitar Kawasan Danau Toba (KDT).

Jadi, pada pukul 08.15 WIB, puluhan warga Sihaporas dan Masyarakat Adat dari Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras), Nagori atau Desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mendatangi lokasi Wilayah Hutan atau Tanah Adat Lamtoras Sihaporas, di Buttu Pangaturan.

“Warga dan Masyarakat Adat Lamtoras Sihaporas menanam jagung di areal itu,” ungkap Ompu Morris Ambarita.

Pada pukul 11.30 WIB, pihak PT TPL yang dikomandaoi Bagian Humas Sektor Aek Nauli, bernama Bahara Sibuea, tiba di lokasi kerja warga. “Dan langsung melarang warga menanam jagung. Saudara Bahara Sibuea pun bertindak kasar, merampas alat kerja berupa cangkul,” lanjut Ompu Morris Ambarita.

Setelah perampasan alat kerja, berlanjut juga melakukan pemukulan terhadap warga. Pemukulan itu mengenai Mario Ambarita, yakni balita usia 3 tahun. Ayahnya dan beberapa masyarakat adat Lamtoras Sihaporas, juga mengalami pemukulan dan kekerasan.

Selanjutnya, pada pukul 11.34 WIB, dilanjutkan Ompu Morris Ambarita, dengan melihat anak Mario Ambarita terkulai lemas di pelukan bapaknya, ibu-ibu Masyarakat  Adat Lamtoras histeris.

“Dalam suasana panik, spontan Masyarakat Adat Lamtoras Sihaporas melakukan pembelaan diri dan perlawanan,” ujarnya.

Pada pukul 11.45 WIB, seluruh warga Masyarakat Adat Lamtoras pulang. “Untuk mengutamakan pertolongan pertama. Membawa berobat anak Mario Ambarita dan beberapa masyarakat adat Lamtoras yang terluka,” ujar Ompu Morris Ambarita.

Sementara itu, Kepala Humas PT TPL, Norma Patty Handini Hutajulu mengatakan, keributan dan pemukulan itu sudah diserahkan penanganannya ke aparat Kepolisian.

“Tadi kami rapat dengan Polres Simalungun. Sudah ditangani di Polres sana. Semua sudah di BAP, dan kami serahkan prosesnya di sana,” tutur Norma Patty Handini Hutajulu, ketika dikonfirmasi, Senin malam (16/09/2019).

Dia sepakat, tindak kekerasan tidak diperbolehkan dalam menghadapi masyarakat. Baik dari pihak perusahaan, maupun dari pihak masyarakat itu sendiri.

“Ya enggak boleh ada kekerasan. Kan emang enggak boleh. Kita serahkan ke proses yang sedang ditangani polisi ya,” ujarnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan