Kejagung Incar Aset Milik Tersangka Kasus Korupsi Pertamina Senilai Rp 568 Miliar

Kejagung Incar Aset Milik Tersangka Kasus Korupsi Pertamina Senilai Rp 568 Miliar

- in HUKUM, NASIONAL
461
0
Tujuh Terdakwa Kasus Bank Mandiri Rp 1,8 Triliun Diputus Bebas, Kejagung Sudah Ajukan Kasasi.

Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mengincar aset milik para tersangka kasus dugaan korupsi investasi PT Pertamina di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009 yang merugikan negara Rp 568 miliar.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus), M Adi Toegarisman menyampaikan, penelusuran aset itu dalam rangka pengembalian kerugian negara.

“Perkaranya kan panjang, terus terang saja tujuan utama pengembalian kerugian negara, berdasarkan laporan Direktur Penyidikan sedang fokus menelusuri tetang aset,” kata Adi Toegarisman di Kompleks Kejagung, Jakarta Selatan, Jumat (26/10/2018).

Kendati demikian, Kata Adi, belum dapat dipublikasi proses penelusuran aset milik para tersangka. Pasalnya, penelusuran aset bukanlah pekerjaan yang mudah dan memerlukan cukup waktu. “Jadi tidak gampang untuk menelusuri itu aset,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah selama ini ada niat baik dari para tersangka untuk mengembalikan kerugian negara, Adi menegaskan hingga kini belum ada niat tersebut dari para tersangka untuk mengembalikan kerugian negara. “Sampai sekarang kita dalam proses belum ada hal itu,  langkah kami menuju ke itu recovery, itu kan langkah hukum,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, penyidik juga telah melimpahkan berkas perkara untuk dua tersangka yang telah lengkaplegka ke penuntut umum untuk segera dilimpahkan ke pengadilan agar disidangkan.

“Dua sudah dilimpahkan ke jaksa penuntut umum untuk disidangkan, kita nunggu penetapan hakim kita bacakan dakwaan,” katanya.

Sebelumnya, penyidik sudah menjebloskan  Mantan Direktur Utama PT Pertamina, Karen Galaila Agustiawan ke Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Bekas orang nomor satu di PT Pertamina itu ditahan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Bundar Kejagung.

Kasus itu berawal pada 2009, dimana PT Pertamina telah melakukan kegiatan akuisisi (Investasi Non Rutin) berupa pembelian sebagian asset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaanya ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya Feasibility Study (kajian kelayakan) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris, yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah 31,492,851 dolar AS serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah 26,808,244 dolar AS tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada PT Pertamina.

PT Pertamina dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional yang mengakibatkan adanya kerugian keuangan Negara cq. PT Pertamina sebesar 31,492,851 dolar AS dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp 568 miliar sebagaimana perhitungan akuntan publik.(Richard)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Hakim ‘Gemes’ di Sidang Bongkar Kejahatan Biksu Perempuan dan Keluarganya pada PN Jakarta Utara

Persidangan kasus pidana dengan Nomor Perkara 246/Pid.B/2024, di