Kawasan Ekosistem ‘Ibu Kota Orang Utan Dunia’ Leuser Kian Rusak, RAN Ungkap Kilang Baru Pasok Minyak Sawit dari Perusahaan Nakal

Kawasan Ekosistem ‘Ibu Kota Orang Utan Dunia’ Leuser Kian Rusak, RAN Ungkap Kilang Baru Pasok Minyak Sawit dari Perusahaan Nakal

- in DAERAH, DUNIA, EKBIS, HUKUM, NASIONAL, POLITIK, PROFIL
49
0
Kawasan 'Ibu Kota Orang Utan Dunia' Leuser Kian Rusak, RAN Ungkap Kilang Baru Pasok Minyak Sawit dari Perusahaan Nakal. - Foto: Rainforest Action Network (RAN). (Ist)Kawasan 'Ibu Kota Orang Utan Dunia' Leuser Kian Rusak, RAN Ungkap Kilang Baru Pasok Minyak Sawit dari Perusahaan Nakal. - Foto: Rainforest Action Network (RAN). (Ist)

Investigasi lapangan Rainforest Action Network (RANmenemukan PT Rezeki Fajar Andalan sebagai pabrik baru yang terlibat dalam perusakan Kawasan Ekosistem Leuser. 

Laporan Leuser Watch terbaru dari Rainforest Action Network (RAN) mengungkap keterlibatan PT Rezeki Fajar Andalan (PT RFA) sebagai kilang minyak sawit baru yang memasok minyak sawit bermasalah dari PT Surya Panen Subur (SPS II). 

Disebut, PT Surya Panen Subur (SPS II) itu sebagai perusahaan nakal yang terkenal. Karena membakar dan menghancurkan Ibukota Orangutan Dunia yang ada di Kawasan Ekosistem Leuser. 

Direktur Kebijakan Hutan Rainforest Aciton Network (RAN), Gemma Tillack mengungkapkan, hasil investigasi menemukan truk pengangkut minyak sawit dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik SPS II di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya. Dan memasok minyak sawit ke PT RFA yang berada di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara pada April 2021. 

Selain itu, ditemukan juga bukti pengiriman minyak sawit mentah dari PT SPS II kepada PT RFA pada bulan yang sama. 

Padahal, RAN selama bertahun-tahun telah mendokumentasikan PT SPS II sebagai perusahaan nakal yang dikeluarkan dari rantai suplai minyak sawit dunia. Karena terus terlibat aktivitas deforestasi dan konflik lahan. 

Bahkan, perusahaan ini pernah dibawa ke pengadilan dan didenda karena terbukti melanggar hukum karena membakar hutan lahan gambut Tripa yang terletak di Pantai Barat Aceh. 

Gemma Tillack mengatakan, merek besar seperti PepsiCo dan Nestle menyikapi reputasi buruk PT SPS II dengan memberlakukan kebijakan No Buy alias Tidak Membeli dari perusahaan nakal ini. 

Bahkan, perusahaan pedagang minyak sawit raksasa, seperti Golden Agri Resources, Wilmar dan Musim Mas sudah memberlakukan larangan untuk memasok dari PT SPS II. 

“Meski hingga saat ini tidak ada satu pun dari perusahaan pemasok minyak sawit tersebut yang mampu membuktikan bahwa pelarangan tersebut telah ditegakkan sepenuhnya,” ujar Gemma Tillack dalam siaran persnya, Kamis (29/07/2021). 

Gemma Tillack melanjutkan, PT Rezeki Fajar Andalan kini menjadi salah satu perusahaan minyak sawit bermasalah yang patut disorot di Indonesia. 

“Karena memasok minyak sawit dari PT SPS II, yakni perusahaan yang telah terbukti melanggar hukum Indonesia dan kebijakan perusahaan manufaktur barang konsumsi di seluruh dunia,” ungkap Gemma Tillack. 

Sedangkan PT SPS II, lanjutnya, akan tetap menjadi perusahaan paling kontroversial yang tidak patuh pada aturan hukum di Indonesia. Hingga mau memenuhi kewajibannya membayar denda atas kebakaran yang terjadi di lahan gambut Tripa. 

“Dan ikut terlibat dengan itikad baik dalam proses resolusi konflik yang transparan, kredibel dan independen untuk menyelesaikan konflik dengan masyarakat lokal yang terkena dampak operasionalnya,” lanjutnya. 

Laporan investigasi terbaru ini menunjukkan bahwa merek-merek besar mungkin sekali lagi mendapatkan pasokan dari perusahaan minyak sawit nakal. Seperti SPS II melalui pabrik minyak sawit baru yang terlibat dalam rantai pasokan minyak sawit di Sumatera. 

Ini menjadi hal yang mendesak bagi merek-merek besar dunia seperti, FerreroProcter & GambleMondelēzPepsiCo, Mars, Nestlé dan Unilever untuk menempatkan PT Rezeki Fajar Andalan pada daftar ‘Tidak Membeli’. Dan menuntut agar perusahaan menghentikan suplai dari PT SPS II. 

Serta mendorong perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam rantai pasoknya untuk mengadopsi Kebijakan Nol Deforestasi, Nol Pembangunan di Lahan Gambut dan Nol Eksploitasi (NDPE). 

“Jika perusahaan-perusahaan ini gagal melakukannya, perusahaan tersebut harus diblokir secara permanen dari rantai pasok minyak sawit ke merek-merek besar dunia dan pasar global,” tandas Gemma Tillack.(J-RO)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like