Breaking News

Sasar Mahasiswa dan Pemuda, Balon Bupati Samosir Swangro Lumbanbatu Komitmen Anti Money Politic

Kaum Muda Maju Pilkada Serentak 2020

Bakal Calon Bupati Samosir Swangro Lumbanbatu dalam dialog bertema Kabupaten Samosir Tanpa Money Politic bersama pemuda-pemudi asal Pulau Samosir, di Warung Kopi Parsaoran (Koran), pada Sabtu, 19 Oktober 2019. Dialog dan bincang-bincang kau millennial itu, dimoderatori oleh aktivis Prihartini Simbolon. Dengan narasumber, Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristren Indonesia (PP GMKI) Korneles J Galanjinjinay dan Balon Bupati Samosir Swangro Lumbanbatu. Bakal Calon Bupati Samosir Swangro Lumbanbatu dalam dialog bertema Kabupaten Samosir Tanpa Money Politic bersama pemuda-pemudi asal Pulau Samosir, di Warung Kopi Parsaoran (Koran), pada Sabtu, 19 Oktober 2019. Dialog dan bincang-bincang kau millennial itu, dimoderatori oleh aktivis Prihartini Simbolon. Dengan narasumber, Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristren Indonesia (PP GMKI) Korneles J Galanjinjinay dan Balon Bupati Samosir Swangro Lumbanbatu.

Di tengah maraknya pro kontra mengenai pemberantasan korupsi oleh KPK. Juga dengan berbagai diskursus regulasi pemberantasan korupsi yang dirasa kian mundur, para calon kepada daerah yang akan maju bertarung di Pilkada Serentak 2020, perlu memperkuat komitmen dan gerakan kesadaran anti politik uang atau money politic.

Bakal Calon Bupati Samosir, Swangro Lumbanbatu, menyasar kalangan mahasiswa dan kaum millennial. Untuk membangun kesadaran anti money politic dalam Pilbub Samosir yang akan digelar tahun depan.

Pemuda asli Samosir ini meyakini, jika money politic masih tumbuh subur, maka pembangunan dan pemberdayaan masyarakat pasti bermasalah.

Pria yang baru menyelesaian studi pasca sarjananya dari Universitas Sumatera Utara (USU) ini juga mengajak masyarakat, terutama para mahasiswa dan kaum muda atau yang disebut sebagai generasi millennial, menjadi motor anti politik uang di tingkat kabupaten.

“Kita tak jemu-jemu untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Kita mulai dari mahasiswa dan kaum muda, millennial untuk pendidikan politik. Berupa penyadaran terkait money politic,” tutur Swangro Lumbanbatu.

Hal itu juga ditegaskannya saat menggelar dialog bertema Kabupaten Samosir Tanpa Money Politic. Bincang-bincang politik itu dihadiri pemuda-pemudi asal Pulau Samosir. Terutama yang sedang menempuh pendidikan atau kuliah di Kota Medan. Kegiatan digelar di Warung Kopi Parsaoran (Koran), pada Sabtu, 19 Oktober 2019.

Mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ini mengatakan, persoalan politik uang sangat relevan untuk dibahas dan ditanggulangi di masyarakat bawah. Dan motornya bisa dilakukan oleh kaum muda, terutama mahasiswa.

“Sering kali, ide dan gagasan untuk membangun daerah menjadi terpinggirkan, hanya karena tersedot praktik politik uang di Pilkada. Sangat disayangkan jika itu masih terjadi. Jadi, sangat relevan dengan situasi Nasional Indonesia, persoalan pemberantasan korupsi menjadi salah satu prioritas yang harus dilakukan juga oleh setiap Kepala Daerah,” tutur Swangro Lumbanbatu.

Mantan Koordinator Wilayah I Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) untuk wilayah Sumatera Utara-Nanggroe Aceh Darussalam ini menegaskan, anak muda dan kalangan millennial harus maju dengan pertarungan ide dan gagasan memajukan daerahnya masing-masing.

“Kita sadar, politik hari ini tidak lagi bisa berbicara secara efektif dengan hadirnya pertarungan ide dan gagasan. Politik hari ini lebih pragmatis dengan hadirnya kekuasaan uang di atas segalanya,” katanya.

Terkadang, lanjutnya, kehadiran uang juga menimbulkan konflik horizontal kian menguat di masyarakat. Maka kegiatan ini mencoba melakukan pengungkapan pemahaman dan realitanya.

“Kita, para balon kepal daerah, juga harus tetap menyuarakan soal hal ini. Jangan jadi buta mata, buta hati,” bebernya.

Swangro Lumbanbatu mengatakan, untuk wilayah Sumatera Utara, termasuk di Tanah Kelahirannya di Pulau Samosir, politik uang makin marak.

Kehadiran para pemodal atau bohir politik, yang membawa kepentingan sempitnya, kata dia, mencoba menghipnotis masyarakat dengan uangnya. Seolah, semua anggota masyarakat itu mudah dibeli dengan uang.

Karena itulah, harus ada kaum muda yang berani melakukan penyadaran akan berbahahanya politik uang di masa depan. Kaum muda harus maju di barisan depan untuk bergandengan tangan dengan masyarakat, menolak dan melawan praktik politik uang.

“Sebagai generasi yang akan menjadi pemimpin di kemudian hari, adalah sebuah ketidakadilan bahwa ketika kita mampu memimpin untuk rakyat, namun tak mau melakukannya. Akan tetapi, karena memerlukan uang yang banyak untuk menjadi seorang pemimpin, pemuda daerah tidak bisa mewujudkan mimpinya tersebut. Kasihan sekali generasi saya dan generasi kita ke depan jika itu terus masih dilanggengkan,” tuturnya.

Swangro menegaskan, masyarakat juga harus keluar dari zona pemikiran sempit. Kontestasi politik, terutama di daerah, jangan dikooptasi dan disekat-sekat berdasarkan agama, kelompok marga saja, asal kampung dan lainnya.

Pemikiran luas, yang sehat, dengan gagasan yang brilian, dan mampu diwujudnyatakan, itulah yang harus dikedepankan dalam berpolitik. Terutama di daerah.

“Kita harus berpikir luas dalam memandang sesuatu. Faktor marga, asal, agama jangan menjadi tolak ukur dalam memilih pemimpin.  Tetapi, integritas, loyalitas, profesionalitas, dan kerja keras, itu yang seharusnya dikedepankan,” ujar Swangro.

Dia mengingatkan, politik itu dinamis. Sangat fluktuatif dan sangat dinamis. Semua orang, katanya, memiliki hak untuk terjun ke dunia politik praktis. Sebab, dengan berpolitik, menjadi salah satu cara untuk melakukan pembangunan di masyarakat.

“Jadi, kita semua harus menolak money politic. Supaya, kita tidak menanggung beban berat dalam membangun daerah kita, yang kita cintai bersama,” pungkas Swangro.

Dialog dan bincang-bincang kau millennial itu, dimoderatori oleh aktivis Prihartini Simbolon. Hadir sebagai narasumber, Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristren Indonesia (PP GMKI) Korneles J Galanjinjinay dan Balon Bupati Samosir Swangro Lumbanbatu.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) Korneles menyatakan, saat ini istilah millennial  merupakan sebuah entitas politik yang sangat digandrungi  oleh kaum muda dan para politisi.

Selain jumlah kaum millennial yang sangat besar, di kancah politik Nasional maupun politik lokal, kehadiran generasi millennial sangat menentukan dalam kontestasi politik.

Dalam beberapa pengalaman kepemiluan belakangan ini, lanjut Korneles, suara kaum millennial sangat diperhitungkan. Namun, jangan sampai hanya dijadikan sebagai vote gather  saja.

“Suaranya diambil alih. Dan banyak yang menyatakan bahwa kehadirannya dalam dunia perpolitikan adalah sebuah keterwakilan dari suara millennial,” ujar Korneles.

Karena itu, kaum muda perlu sadar dan memiliki sikap politik yang tegas dan jelas dikancah kontestasi politikan.

“Maka generasi tersebut perlu membahas dengan baik bagaimana keterwakilanya. Melalui hal ini juga, partai politik sebaiknya melakukan tugasnya untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Agar masyarakat tidak lagi yang dipersalahkan terus atas maraknya praktik politik uang,” ujar Korneles.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*