Breaking News

Kaum Muda Jadi Calon Menteri, Aktivis Cipayung: Tapi Jangan Yang Sontoloyo Dong!

Kaum Muda Jadi Calon Menteri, Aktivis Cipayung: Tapi Jangan Yang Sontoloyo Dong! Kaum Muda Jadi Calon Menteri, Aktivis Cipayung: Tapi Jangan Yang Sontoloyo Dong!

Banyak aktivis yang merasa mampu dicalonkan sebagai Calon Menterinya Jokowi di periode kedua pemerintahan.

Sah-sah saja menyodor-nyodorkan nama sebagai Calon Menteri. Namun, aktivis dari Eksponen Kelompok Cipayung mengingatkan, kaum muda yang berani, loyal, brilliant dan pro rakyat harus diusulkan. Jangan yang keblinger dan sontoloyo yang ditawarkan sebagai calon menteri.




 

Aktivis Eksponen Kelompok Cipayung, Jhon Roy P Siregar mengingatkan, beberapa nama aktivis dari Kelompok Cipayung yang sengaja beredar dan diedarkan, belum layak menjadi calon menteri.

Selain sangat terkesan keblinger dan mengada-ada, usulan nama-nama yang beredar itu masih diisi oleh orang-orang sontoloyo.

“Kita tetap menyarankan dan mendukung kaum muda masuk kabinet. Tetapi jangan ngasal dong, jangan yang sontoloyo begitu yang diusulkan. Itu namanya keblinger. Ya, masih banyak yang bagus-bagus, masa yang sontoloyo yang ambisius begitu yang disodorkan jadi calon menteri?” tutur Jhon Roy P Siregar, kepada wartawan, di Jakarta, Minggu (07/07/2019).





Menanggapi ada sejumlah nama dari Kelompok Cipayung yang getol kepengen jadi Menteri, Jhon Roy P Siregar mengatakan, sebaiknya di-cross check lagi sepak terjang dan kualitas aktivis itu.

“Saya mendengar, malah ada dari antara mereka yang terlibat narkoba, terlibat membuntingi gadis lain dengan tidak bertanggung jawab, ada yang nilep uang dari program-program, ada yang enggak bisa mengorganisir masyarakat untuk memperjuangkan aspirasinya. Bahkan, tak sedikit yang hanya modal cuap-cuap kosong. Masa yang begitu-begitu sih yang didorong jadi calon menteri? Keblinger dong itu,” paparnya.

Lebih lanjut, mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ini, mengatakan, sebaiknya para aktivis membenahi diri dan kapasitasnya terlebih dahulu.





“Ya ukur baju dong. Jangan Cuma ambisi semata, tak ada kinerja yang bisa dibanggakan, tidak juga dekat dengan masyarakat, malah ancur-ancuran memimpin organisasi. Mau jadi apa mereka nanti kalau direktur di kabinet? Bisa-bisa mereka hanya jadi garong-garong semata di kabinet. Kasihan adek-adek itu,” tuturnya.

Hal yang sama disampaikan Antoni Yudha dari Jaringan Aktivis Indonesia (Jarak Indonesia). Menurut dia, sejumlah nama Ketua Umum Kelompok Cipayung yang beredar, sangat belum layak diperhitungkan masuk ke jajaran Kabinet.

“Lah, mereka itu kan para job seeker, para pencari makan. Waduh, boro-boro jadi pemimpin, malah mereka nanti yang menggerogoti keringat rakyat di Kabinet sana. Janganlah. Belum bisa mereka itu,” ujar Antoni.





Yang lebih parah lagi, menurut dia, tidak sedikit dari nama-nama itu, yang sepertinya mencari suaka dengan menyodorkan dirinya sebagai bakal calon menterinya Jokowi.

“Ngapain bangga nama muncul jadi calon menteri? Supaya Pak Jokowi melirik? Gitu? Mau cari suaka di kabinet? Wah, off-side deh tuh teman-teman yang ambisius jadi bakal calon menteri begitu. Mbok ya ngukur diri dulu, ngukur baju,” ujar Antoni.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) R Saddam Al Jihad menyodorkan sejumlah nama sebagai keterwakilan aktivis Cipayung dalam keterwakilan generasi milenial di kabinet 2019-2024.





Dia mengatakan, perlu adanya kolaborasi antar berbagai generasi, dan hal tersebut bisa dikuatkan dengan kehadiran aktivis Cipayung di kabinet 2019-2024, demi menjaga persatuan dan kemajuan Republik Indonesia.

Saddam yang belakangan didera  kasus asusila itu menyebut, ada mantan-mantan Ketua Umum di masing-masing Organisasi yang layak masuk dalam kabinet 2019-2024, diantaranya, Arief Rosyid Hasan, mantan Ketua Umum PB HMI, Aminudin Ma’ruf, mantan Ketua Umum PB PMII dan juga Sekjen Samawi (Solidaritas Ulama Muda Jokowi), Sahat Martin P Sinurat, mantan Ketua Umum PP GMKI, Twedy Noviady Ginting, mantan Ketua Presidium GMNI.

Saddam menjelaskan, jangan ada generasi milenial terdikotomi bahwa harus dalam jabatan Menpora, tetapi setiap potensi generasi muda untuk pemerintahan 2019-2024 bisa didalam nomenklatur kementerian manapun. Hal itu sebagai bentuk kecintaan terhadap bangsa dan negara.





Dia juga menekankan bahwa dirinya percaya kalau paket kabinet dilihat dari proporsi yang profesional di bidangnya yang dikedepankan, tanpa melihat usia.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*