Kasus Percobaan Pembunuhan Penyidik KPK Novel Baswedan; Anggota TGPF Hendardi: Kapolri Sangat Konsern, Kami Masih Bekerja, Ditunggu Saja Hasilnya

Jika Ada Dugaan Pelanggaran Pemilu Yang Terstruktur, Sistematis dan Massif, Silakan Cari Kepuasan Dengan Beramai-ramai Ajukan Gugatan ke MK.
Jika Ada Dugaan Pelanggaran Pemilu Yang Terstruktur, Sistematis dan Massif, Silakan Cari Kepuasan Dengan Beramai-ramai Ajukan Gugatan ke MK.

Pengusutan kasus percobaan pembunuhan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan masih digali dan diproses oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Anggota TGPF, Hendardi mengungkapkan, proses pengusutan dan membongkar kejahatan yang hendak menghilangkan nyawa penyidik KPK Novel Baswedan itu masih terus didalami dan dilakukan TGPF.

Meskipun Ketua Badan Pekerja Setara Institute itu mengaku belum bisa membeberkan hasilnya dikarenakan masa kerja TGPF akan berakhir pada Juli 2019, namun Hendardi menyampaikan bahwa Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sangat konsern dan berkemauan kuat untuk mengusut dan mengungkapkan kasus itu.

“Progres kerja TGPF belum bisa diumumkan sekarang. Itu kesepakatan Tim, nanti akan diumumkan setelah selesai semuanya proses dilakukan. Yang pasti, untuk kasus ini, Kapolri Tito Karnavian cukup konsern agar kasus ini terungkap,” tutur Hendardi, di Markas Setara Institute, di Jalan Hang Lekiu II, Nomor 41, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (01/04/2019).

Dia menjelaskan, beberapa kali TGPF meminta bertemu dengan Kapolri untuk mengusut tuntas persoalan ini. “Dan Pak Kapolrinya oke, bertemu dan menyatakan ini harus diusut,” tutur Hendardi.

TGPF yang secara struktural dikomandoi langsung oleh Kabareskrim Mabes Polri itu, menurut Hendardi, bekerja dengan berdasarkan hasil penyidikan yang telah dilakukan Kepolisian. Semua hasil penyidikan itu, diterangkan dia, dibuka kembali oleh TGPF.

“Tim melakukan penelusuran ulang, membuka ulang hasil penyidikan yang dilakukan Polisi. Tim melakukan reka ulang. Termasuk, membuka ulang alibi yang disampaikan oleh para pelaku,” tutur Hendardi.

Dalam kerja-kerja pengusutannya, lanjut Hendardi, TGPF yang terdiri dari Tim Pakar, dan keseluruhan Tim beranggotakan 65 personil itu, diijinkan untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan ulang terhadap persoalan yang menimpa Novel Baswedan itu.

“Saya sendiri meminta kepada Kabareskrim, agar Tim Pakar bisa melakukan penyelidikan dan penyidikan langsung ke lokasi-lokasi dan tempat-tempat, serta kepada setiap pihak yang diketahui, untuk mengungkapkan yang sebenarnya,” ujarnya.

Tim Pakar TGPF yang turun langsung, termasuk Hendardi sendiri, diperlukan untuk menghindari adanya kecurigaan yang muncul di masyarakat, bahwa kasus ini ditangani oleh Polri sendiri, sehingga tidak akan maksimal dan tidak akan terungkap.

“Supaya jangan ada kesan, jeruk makan jeruk. Ini memang harus dibuka nantinya, secara transparan,” ujar Hendardi.

Para Tim Pakar TGPF itu antara lain mantan Wakil Ketua KPK yang juga Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Prof Indriyanto Seno Adji, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Hermawan Sulistyo, Ketua Ombudsman Republik Indonesia Amzulian Rifai, Ketua Setara Institute Hendardi, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional Republik Indonesia (Kompolnas) yang juga mantan Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti, Mantan Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim, Mantan Ketua Komnas HAM Nurkholis.

Sejak dibentuk pada 8 Januari 2019, TGPF bertugas selama 6 bulan, yang akan berakhir pada 8 Juli 2019 nanti.

Hendardi menuturkan, ada sejumlah proses yang dilakukan TGPF, mulai dari pemeriksaan ulang terhadap para pelaku dan yang diduga terlibat, hingga mengikutsertakan para pakar dari Kedokteran yang akan memeriksa kondisi mata Novel Baswedan. Serta para pakar yang akan memeriksa kondisi traumatik yang dialami Novel Baswedan.

“Termasuk, memeriksa ada debt collector, yang disuruh cari mobil yang disorder oleh Polisi dari Resmob, itu semua kita periksa ulang semua,” ujar Hendardi.

Belum lama ini, lanjut dia, TGPF juga bertemu kembali dengan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, untuk berdiskusi dan menyampaikan sejumlah hal berkaitan dengan pemeriksaan yang dilakukan TGPF.

“Sekitar dua minggu lalu, kami bertemu dengan Pak Kapolri. Dan Pak Tito menyatakan dirinya sangat serius agar ini diusut tuntas. Kapolri juga mengatakan dirinya tidak keberatan apabila semua diperiksa, dibongkar dan diungkap kembali,” terangnya.

Pembentukan TGPF Atas Rekomendasi Komnas HAM

Pembentukan TGPF kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, ditindaklanjuti oleh Kapolri Tito Karnavian pada awal Januari 2019 melalui Surat Tugas Kapolri bernomor Sgas 3/1.HUK.6.6/2019.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal telah menyampaikan, sesuai arahan Kapolri, TGPF bekerja secara simultan untuk mengungkap persoalan itu.

“Kepala Kepolisian Republik Indonesia telah mengeluarkan surat tugas untuk menindaklanjuti perkara Novel Baswedan,” ujar Muhammad Iqbal.

Wajah Novel Baswedan disiram air keras oleh dua orang tak dikenal pada 11 April 2017. Saat itu, ia tengah berjalan pulang seusai salat subuh di masjid dekat rumahnya.

Iqbal mengatakan, TGPF merupakan tidak lanjut dari rekomendasi Komnas HAM akhir Desember 2018. Akhir tahun lalu, Komnas HAM telah menyelesaikan laporan hasil pemantuan terhadap kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Salah satu hasilnya, Komnas HAM merekomendasikan agar Kapolri Jenderal Tito Karnavian segera membentuk tim gabungan. Komnas juga merekomendasikan KPK membuat langkah-langkah hukum dalam kasus penyerangan terhadap Novel.

Jenderal Bintang Dua itu menerangkan, dalam surat tugas Kapolri, anggota dalam tim gabungan pencari fakta kasus Novel Baswedan ini berjumlah 65 orang. Anggota itu terdiri dari enam perwakilan dari KPK, tujuh pakar, dan selebihnya dari kepolisian.

Personel Kepolisian adalah anggota terbanyak tim yang jumlahnya 52 orang. Pihak luar seperti KPK dan pakar hanya berjumlah sekitar 20 persen dari jumlah anggota tim. Jendral Polisi Tito Karnavian adalah penanggung jawab tim ini. Secara teknis, tim dikomandani oleh Kabareskrim.

Jangan Sampai Sama Dengan Tim Sebelumnya, Novel Baswedan Harapkan TGPF Berhasil

Atas pembentukan TGPF itu, penyidik KPK Novel Baswedan menyampaikan, jika memang serius, maka hendaknya TGPF tidak sama dengan tim-tim sebelumnya yang sudah pernah dibentuk.

“Kami meminta untuk dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, bukan tim penyidik dan penyelidik. Bedanya apa dengan tim yang sebelumnya?” ujar Novel Baswedan, di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (15/1/2019).

Novel tetap menanti hasil kerja tim gabungan Polri itu. Dia menyebut penyidikan polisi sebelumnya tidak sungguh-sungguh.

“Tentu kita semua akan menilai tim ini bekerja dengan benar atau tidak. Indikatornya adalah ini bisa diungkap dengan benar,” ujarnya.

Novel malah khawatir pembuktian kasus itu dibebankan padanya sebagai korban. Dia pun berharap tim gabungan Polri itu tidak hanya sekadar formalitas memenuhi rekomendasi Komnas HAM.

“Sejak kapan ada penyidikan investigasi perkara penyerangan yang beban pembuktian dibebankan pada korban. Sejak kapan teror yang diduga ada aktor intelektualnya tapi dimulai dari motif dulu. Di dunia rasanya tidak ada,” ujar Novel.

Tim gabungan itu dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian per 8 Januari 2019. Selain unsur Polri, Tito juga melibatkan lima pegawai KPK yang terdiri dari penyelidik, penyidik dan pengawas internal serta tujuh orang pakar dari berbagai bidang seperti dari LIPI, Ombudsman, Setara Institute, Kompolnas, dan Komnas HAM.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*