Kasus Karhutla PT Adei, Saksi Ahli Sebut Kerugian Negara Rp 2,9 Miliar

Kasus Karhutla PT Adei, Saksi Ahli Sebut Kerugian Negara Rp 2,9 Miliar. – Foto: Sidang lanjutan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) PT Adei kembali digelar di Pengadilan Negeri Pelalawan (PN Pelalawan), pada Kamis (03/09/2020).(Ist)
Kasus Karhutla PT Adei, Saksi Ahli Sebut Kerugian Negara Rp 2,9 Miliar. – Foto: Sidang lanjutan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) PT Adei kembali digelar di Pengadilan Negeri Pelalawan (PN Pelalawan), pada Kamis (03/09/2020).(Ist)

Pelalawan, Sinarkeadilan.com – Sidang lanjutan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) PT Adei kembali digelar di Pengadilan Negeri Pelalawan (PN Pelalawan), pada Kamis (03/09/2020).

Sidang mendengarkan keterangan Saksi Ahli yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Saksi Ahli yang menyampaikan kesaksiannya adalah Dr Ir Basuki Wasis, yaitu Staf Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dalam persidangan, Saksi Ahli Basuki Wasis menyampaikan, sampel tanah kebakaran lahan yang diambil dari 7 lokasi kebakaran yang menghabiskan 4,16 hektar sawit milik Perusahaan PT Adei Plantation and Industry.

“Sampel tanah yang diambil dari lokasi dibawa oleh penyidik Mabes Polri untuk diuji di laboratorium IPB,” ujar Basuki Wasis menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim, Bambang Setyawan.

Hakim juga menanyakan kerusakan tanah dan lingkungan yang terjadi di lokasi lahan kelapa sawit yang masih produktif. Juga ditanyakan cara pemadaman kebakaran serta jumlah kerugian yang terjadi.

Saksi Ahli Basuki Wasis menjelaskan, proses pemadaman tidak ada masalah. Namun kerugian negaranya atas tanah gambut yang terbakar itu mencapai Rp 2,9 miliar.

“Kita ambil sampel di lokasi menunjukan dampaknya. Kerugian negaranya, komponen yang rusak adalah bintang tanah mati semua yang ada di lahan gambut. Secara ekologis, semut, belalang rayap dan sejenisnya, mati semua. Sehingga, total kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 2,9 miliar oleh dampak kebakaran itu,” jelasnya.

Sedangkan rumus atau acuan menghitung kerugian negara itu, lanjutnya, sudah ditentukan di dalam Permen Nomor 7 Tahun 2014 tentang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

“Acuannya dari Permen Nomor 7 Tahun 2014 tentang LHK. Kerugian Negara, kurang lebih Rp 2,9 miliar. Sebanyak Rp 1,9 miliar masuk khas negara, dan Rp 1 miliar untuk pemulihan,” jelasnya.

Basuki Wasis juga merinci beberapa jenis flora dan fauna yang mati akibat kebakaran itu. Ada 5 paremeter yang membuat kerusakan lingkungan.

“Matinya 2 flora paremeter, 2 fauna paremeter dan seminder jadi lima paremeter visum lapangan,” sambungnya.

Kasus Karhutla PT Adei, Saksi Ahli Sebut Kerugian Negara Rp 2,9 Miliar. – Foto: Sidang lanjutan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) PT Adei kembali digelar di Pengadilan Negeri Pelalawan (PN Pelalawan, pada Kamis (03/09/2020).(Ist)
Kasus Karhutla PT Adei, Saksi Ahli Sebut Kerugian Negara Rp 2,9 Miliar. – Foto: Sidang lanjutan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) PT Adei kembali digelar di Pengadilan Negeri Pelalawan (PN Pelalawan), pada Kamis (03/09/2020).(Ist)

Dia menegaskan, semakin cepat medata, semakin banyak paremeternya “Tanggal 16 September 2019 sampai 1 Oktober 2019 dua kali turun ke lapangan,” imbuhnya.

Untuk akurasi denda yang dijatuhkan, Basuki Wasis menegaskan, untuk luas lahan yang terbakar mencapai 4,16 hektar sudah tepat.

“Untuk luasan terbakar 4,16 hektar sudah tepat dengan kerugian terima. Semakin luas terbakar semakin besar juga kerugian negara, begitu sebaliknya,” ujarnya.

Persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi itu dihadiri oleh terdakwa PT Adei diwakili oleh Goh Keng EE selaku Direktur. Sidang dipimpin oleh Hakim Ketua Bambang Setyawan. Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Pelalawan terdiri dari Agung, James, Bambang dan Kajari Pelalawan Rahmat.(S Panjaitan)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan