Breaking News

Kapasitas Hanya 880 Napi, Kini Dihuni 4000 Lebih Warga Binaan, Masih Banyak Persoalan Belum Terselesaikan, Ini Keluhan Kalapas Cipinang

Belum Ada Loh Lapas Untuk Penyandang Disabilitas, Tolong Dong, Negara Sediakan Solusinya.

Rupanya masih begitu banyak persoalan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang terjadi di hampir seluruh Indonesia. Mulai persoalan kapasitas tampung warga binaan atau Nara Pidana (Napi) yang sangat tidak memadai, hingga urusan adanya dugaan bisnis haram peredaran gelap narkotika di Lapas-Lapas.

Seperti yang terjadi di salah satu Lapas barometer di Indonesia, Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur. Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang (Kalapas Cipinang) Andika Dwi Prasetya mengungkapkan, lahan seluas 10 hektar yang menjadi Kompleks Lapas Cipinang itu, terpakai untuk kebutuhan Lapas Cipinang hanya seluas 2 hektar.

“Lapas hanya menempati 2 hektar. Sisanya, ada untuk Rumah Tahanan (Rutan), ada untuk tahanan Narkotika, dan untuk Rumah Sakit,” tutur Andika Dwi Prasetya.

Saat ditemui di kantornya, di Lantai 2, Lapas Cipinang, Jakarta Timur, Senin (18 Februari 2019), Andika Dwi Prasetyo yang didampingi jajarannya menyebut, kapasitas Lapas Klas I Cipinang sebenarnya hanya sanggup menampung sebanyak 880 Napi. Namun, hingga Februari 2019 ini, Lapas Cipinang kini memiliki 4058 (empat ribu lima puluh delapan orang) warga binaan.

“Dan sebanyak 80 % dari warga binaan itu adalah kasus narkoba,” ungkapnya.

Sementara, pegawai atau personil yang dimiliki Lapas Cipinang, hanya sebanyak 367 personil, yang dibagi menjadi petugas keamanan, sipir, pegawai administrasi, keuangan dan seterusnya. Para pegawai itu pun bertugas dengan empat shif.

Dengan kondisi Lapas seperti itu, lanjut Andika, tentu masyarakat bisa membayangkan seperti apa kondisi para Napi di dalam lapas.

“Untuk satu sel, yang seharusnya 1 orang ya terpaksa ditampung untuk 3 orang. Kapasitas sel 3 orang dipadatkan menjadi 5 orang, yang kapasitas 5 orang menjadi 11 orang. Begitu seterusnya,” ujar Andika seraya menolak mengajak wartawan masuk melihat-lihat kondisi riil di dalam sel dengan alasan keamanan.

Dia menuturkan, untuk wilayah DKI Jakarta, secara keseluruhan adanya sebanyak 17 ribu Napi. Semua napi itu terpaksa harus dikirimkan ke lapas lain yang dianggap masih sanggup dan memenuhi kapasitas, seperti Lapas Salemba dan Lapas Pondok Kelapa.

“Semua terisi penuh. Rutan Cipinang saja juga terisi hampir 4000-an tahanan. Jadi, untuk kompleks Lapas Cipinang saja ada sebanyak 8000-an warga binaan dan tahanan yang harus diurusi setiap hari, selama 24 jam, setiap hari,” ujarnya.

Meski tak boleh mengeluhkan berbagai kendala itu, Andika mengatakan pihaknya selalu berupaya menjalankan mekanisme dan patuh pada aturan yang sudah digariskan untuk dikerjakan Lapas.

Untuk pembinaan, lanjutnya, di dalam lapas, didirikan Mesjid, Gereja dan Vihara dan tempat ibadah para napi yang beragama lain.

Sehari-hari, Lapas memberikan sejumlah kegiatan pembinaan, seperti latihan baris berbaris, bernyanyi, keterampilan membuat prakarya, belajar, membaca, perpustakaan, pangkas rambut dan urusan kesehatan.

Andika yang baru dilantik sebagai Kepala Divisi Lapas Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kadiv Humas Kanwil Kemenkumham) DKI Jakarta, pada Kamis, 21 Februari 2019 ini menyebut, menghadapi para warga binaan atau Napi di Cipinang memiliki pendekatan yang berbeda. Dengan pendekatan humanis. Selain diberikan belajar agama, juga diberikan kesemapatan bersosialisasi, membaca, memberikan keterampilan.

“Anda bisa bayangkan, bagaimana untuk mengawasi dan mendidik mereka seperti itu. Pendekatan kami adalah pendekatan humanis, bukan pendekatan kekerasan. Sebab, mereka adalah manusia, saudara-saudara kita juga. Mereka bukan binatang, bukan hewan. Masih ada harapan, suatu saat kelak mereka selesai menjalani hukuman, akan kembali ke masyarakat dengan membuat kehidupan lebih baik dan berguna,” jelasnya.

Sebagai contoh, lanjut Andika, pernah beberapa Lapas dari Luar Negeri, seperti dari Jepang, Filipina, Malaysia melakukan studi banding ke Lapas Klas I Cipinang.

“Dan mereka kaget, serta mengacungi jempol. Sebab, pendekatan kita sangat humanis. Kalau di Negara mereka, warga binaan diperlakukan sangat tidak manusiawi. Sebab, memang pendekatan mereka adalah kekerasan dan kekejaman. Itulah bedanya dengan kita di Indonesia,” ungkap Andika.

Oleh karena itu, Andika menampik bahwa dirinya membiarkan adanya napi yang bebas melakukan transaksi narkoba dan kejahatan lainnya di dalam Lapasnya. Hanya saja, Andika tidak berkenan mempertunjukkan bagaimana kondisi riil para napi di dalam sel-sel mereka, untuk memastikan kondisi sebenarnya, tanpa settingan. “Saya tak bisa menjamin keselamatan kalau masuk ke dalam untuk melihat-lihat,” ujarnya.(JR)

 

Sipir Pemain Narkoba Dipecat

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang (Kalapas Cipinang) Andika Dwi Prasetya merasa difitnah dengan munculnya informasi bahwa dirinya sebagai salah seorang kaki tangan para gembong narkoba yang bergerak dari lapas ke lapas.

“Itu fitnah. Sengaja dihembuskan orang-orang yang memiliki kepentingan untuk merusak reputasi dan juga kinerja Lapas,” ujar Andika.

Dia berharap, jangan sampai informasi yang disebar-sebar seperti itu ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu untuk mencari keuntungan dan dipergunakan secara politis menghantam dirinya dan institusinya.

“Jangan sampai persebaran informasi seperti itu dijadikan alat kepentingan dari pihak-pihak tertentu. Jika itu motivasinya, ya saya akan melawan,” ujarnya.

Ketika ditanyakan apakah memang ada ruangan lapas di Cipinang yang memiliki AC (Air Condition), lengkap dengan peralatan komunikasi yang bebas ke luar Lapas, juga tempat tidur yang empuk bagai di Hotel Bintang Lima, Andika mengelak keras.

Menurut Andika, isu seperti itu hanyalah untuk menghantam dirinya dan organisasinya, karena tegas dan lugas melakukan pemberantasan peredaran gelap narkotika di Lapas.

Buktinya, lanjut Andika, baru di Bulan Januari 2019 lalu, pihaknya menangkap dan memecat seorang sipirnya, yang diduga kuat terlibat dalam informasi dan peredaran narkoba. Sipir itu sudah dipecatnya dan diserahkan ke aparat penyidik untuk diproses pidana.

“Saya pecat, dan saya serahkan ke Polisi untuk diproses. Kami tidak main-main dengan peredaran narkoba di Lapas,” ujarnya.

Jadi, dia menerangkan, setiap sekali seminggu, aparat Lapas melakukan evaluasi, semua sudut Lapas yang dipasangi CCTV dibuka dan dilakukan analisis, kemudian dikombinasikan dengan laporan atau informasi keterlibatan seseorang dalam peredaran nerkoba di Lapas.

Nah, si sipir itu kedapatan ada indikasi bermain narkotika di lapas. “Langsung saya pecat dan diproses pidana,” ujar Andika.

Andika juga menegaskan, pihaknya selalu mendapat pengawalan dan pengawasan ketat dari lembaga yang lebih tinggi di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), kemudian sejumlah aturan hukum dan mekanisme pengelolaan Lapas sudah ada. Dan itu semua ketat.

Sejak Desember 2018, Andika sudah mengintruksikan ke setiap jajaran supaya dilakukan penggeledahan. Kepada siapapun yang keluar masuk lapas cipinang hal itu diterapkan. Tidak peduli, apakah dia pejabat, sipir, orang biasa atau siapapun.

“Harus digeledah. Setiap hari harus dilakukan penggeledahan. Itu untuk meminimalisir persoalan, termasuk perang melawan peredaran gelap nerkoba di Lapas,” ujarnya.

Bahkan, setiap pagi, lanjut dia, setiap petugas, itu apel, sudah dimaklumatkan bahwa setiap hari di Lapas Cipinang harus dilakukan perang terhadap Narkoba.

“Bahkan, yel-yel kami setiap apel pagi, adalah ‘Perangi Narkoba’, Jihad. Pemimpin apel serukan Perangi Narkoba, dijawab peserta apel, ‘Jihad’. Jadi, bagi kami memerangi narkoba itu adalah jihad. Supaya berani memerangi narkoba,” tuturnya.

Selain itu, ada banyak lembaga atau institusi yang bergerak melakukan pengawasan peredaran gelap narkotika di masyarakat dan Lapas.

“Mana mungkin saya berani melawan organisasi tempat saya mengabdi. Mereka juga memiliki teknologi dan jaringan informasi yang ketat kok. Gampang saja mengecek dan menindak kalau memang saya melakukan pelanggaran,” tutur Andika.

Dia pun menantang semua pihak untuk terbuka. Sebab, dirinya pun tidak pernah menutup-nutupi persoalan yang ada. “Mereka mau bikin pemeriksaan ya silakan saja. Tidak ada yang saya tutup-tutupi,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*