Kapal Trawl Masih Marak Beroperasi di Selat Malaka, Nelayan Tradisional Resah dan Gelisah

Kapal Trawl Masih Marak Beroperasi di Selat Malaka, Nelayan Tradisional Resah dan Gelisah.
Kapal Trawl Masih Marak Beroperasi di Selat Malaka, Nelayan Tradisional Resah dan Gelisah.

Nelayan tradisional di kawasan Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara resah dan gelisah dengan maraknya penggunaan alat tangkap trawl.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Tanjungbalai Asahan (KNTI TBA) Muslim Panjaitan mengungkapkan, keserahan  nelayan tradisional semakin menjadi-jadi dikarenakan tidak adanya tindakan tegas terhadap operasi trawl itu. Dan itu sangat merugikan nelayan tradisional dan pemerintah.




“Nelayan tradisional di Tanjungbalai Asahan merasa resah dengan keberadaan kapal trawl yang masih bebas beroperasi dan berkeliaran di Selat Malaka. Keberadaan mereka itu sudah terbilang lama. Bahkan sudah bertahun-tahun menangkapi ikan di Selat Malakan,” tutur Muslim Panjaitan, Sabtu (04/01/2020).

Muslim Panjaitan  menyayangkan masih beroperasinya kapal trawl itu di Selat Malaka. “Kami sangat menyayangkan lemahnya pengawasan. Jika ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan akan terjadi gesekan antar nelayan. Untuk itu saya menghimbau agar pihak keamanan terkait lebih meningkatkan pengawasan terhadap kapal trawl (pukat tarek) tersebut,” tandasnya.

Ismail, salah seorang nelayan tradisional di Tanjungbalai Asahan juga memngeluhkan masih maraknya kapal trawl di Selat Malaka itu.




“Kapal trawl ini menggunakan pukat harimau atau pukat tarek (Trawl) saat menangkap ikan, pukat inilah yang merusak habitat dan ekosistem laut,” ujar Ismail.

Berbanding terbalik dengan nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional, beroperasinya kapal-kapal trawl itu, berdampak buruk kepada masyarakat nelayan . Dengan hasil tangkapan menurun drastis dan tak jarang tidak ada hasil tangkapan sama sekali.

“Sejak keberadaan kapal trawl ini hasil tangkapan kami berkurang,” ungkapnya.




Parahnya, lanjutnya, pada Senin 29 Desember 2019 malam, sekitar pukul 07.30 WIB, kapal trawl (pukat tarek) melanggar alat tangkap nelayan tradisional. Di posisi LU’ 03.05.500 – LT’ 100.11.500.

“Tak tanggung-tanggung kapal trawl tersebut melanggar 6 buah jaring nelayan tradisional hingga hancur dan mengakibatkan kerugian bagi nelyan tradisional,” ungkap Ismail.

Dia menyebutkan, keenam buah jarring nelayan tradisional yang dirusak kapal trawl itu adalah milik,  Adi yang beralamat di Sei Apung Jaya, sebanyak 2 utas atau 90 meter, Ismail yang beralamat di Kapias Titi Gantung, sebanyak 2 utas atau 90 meter, Duan yang beralamat di Teluk Nibung sebanyak 1 utas atau 45 meter, Imus yang beralamat di Sei Apung Jaya sebanyak 4 utas atau 360 meter, Darto yang beralamat di Semenanjung, belum diketahui total kerugiannya, dan Udin Pane yang beralamat di Sei Apung Jaya sebanyak 2 utas atau 90 meter.




“Kapal trawl ini beroperasi setiap hari. Sebelumnya para nelayan pernah demo menolak keberadaan kapal trawl. Tapi berhenti operasi hanya sesaat, akhir-akhir ini beroperasi kembali,” ujar Ismail.

Sebagai nelayan tradisional, lanjutnya, mereka berharap ada solusi untuk persoalan ini. “Kalau dibiarkan terus menerus sangat berdampak kepada penghasil kami,” pungkasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan