Breaking News

Jumlahnya Ratusan Juta Orang, Buruh Indonesia Kok Hanya Jadi Penggembira Demokrasi Saja!

Jumlahnya Ratusan Juta Orang, Buruh Indonesia Kok Hanya Jadi Penggembira Demokrasi Saja!

Jumlah buruh Indonesia yang diprediksi sudah mencapai 128 juta orang tahun ini, dianggap sebagai penggembira saja dalam pesta dan proses demokrasi di Tanah Air.

Padahal, dengan jumlah sebanyak itu, buruh Indonesia mestinya bisa menjadi penentu arah dan kebijakan Indonesia ke depan.

Pembina Utama Komunitas Buruh Indonesia (KBI) Jacob Ereste menyampaikan, jika sungguh jumlah kaum buruh di Infonesia mencapai 128 juta orang, maka jelas dan pasti kaum buruh dapat nenjadi faktor penting dalam Pemilu, Pilpres maupun Pilkada, kapan pun hendak dilaksanakan di Indonesja.

“Lalu mengapa kaum buruh Indonesia belum bisa menjadi faktor penting yang patut diperhitungkan?” tanyanya, Sabtu (26/08/2018).

Menurut dia, masalah utama yang jadi penghambat adalah belum ada kesadaran serta pemahaman dari kaum buruh itu sendiri akan potensi itu.

Akibatnya, lanjut Wakil Ketua Federasi Bank, Keuangan dan Niaga Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FBKN SBSI) ini, dalam berbagai momen dan kesempatan kaum buruh Indonesia hanya jadi penonton saja.

“Kaum buruh Indonesia yang mempunyai potensi sedahsyat itu cuma jadi penonton atau sekedar penggembira belaka, jika tidak elok disebut pelengkap derita saja,” ujar Jacob.

Belum lagi, lanjutnya, potensi kaum buruh yang belum mendapat pekerjaan, seperti pengangguran, mereka yang sedang kehilangan pekerjaan, sesungguhnya bisa mempunyai inisiatif berperan dalam pesta demokrasi agar lebih mendatangkan manfaat bagi orang banyak. “Bahkan bagi kaum buruh sendiri agar tidak sekedar menjadi penggembira belaka,” ujarnya.

Dikatakan Jacob, hingga jelang palaksanaan Pilpres dan Pileg 2019 ini, belum ada inisiatif genial dari kaum buruh — termasuk serikat buruh — yang tampil menjadi pelopor untuk memberi aksentuasi penting yang bisa diperhitungkan oleh semua pihak.

“Yang ada hanya riak kecil yang tetap pada posisi penggembira belaka, bukan sebagai faktor penentu pada acara yang tetap bungah kita sebut pesta demokrasi,” ucapnya.

Kelemahan kaum buruh Indonesia,  dibeberkan aktivis senior perburuhan ini, mulai dari mengorganisasi diri hingga upaya kaderisasi aktivisnya yang tidak berjalan.

Kondisi itu, lanjut Jacob, telah mengakibatkan kaum buruh Indonesia dengan segenap bentuk organisasinya menjadi stagnan.

“Atau bahkan semakin terpuruk keberadaannya. Ini sangat jelas sebagai akibat dari konsekuensi logis tidak adanya upaya pengembangan yang lebih baik dan jitu untuk menghadapi tantangan dan perkembangan zanan yang terus melesat,” ujarnya.

Idealnya bagi kaum buruh Indonesia, lanjut Jacob, harusnya bisa mengembangkan model organisasi yang mampu membangkitkan kesadaran kaum buruh, mulai dari hasrat dan semangat berorganisasi hingga mampu melahirkan kader-kader yang tangguh.

Kaum buruh, harus terus melakukan pengembangan, baik dalam arti taktis maupun cara yang paling strategis, hingga bisa memiliki pola dan model serta cara terampuh yang membuat kaum buruh dan organisasinya kuat dalam tata kelola managemennya yang sehat.

Setidaknya, menurut dia, untuk era sekarang, yang man setelah organisasi buruh terbebas dari belenggu Orde Baru, semangat, etos kreativitas dalam membangun kesadaran buruh maupun organisasi buruh tidak lagi relevan memakai cara lama.

Karenanya, menurut Jacob, cara, model hingga gaya baru dari segenap upaya membangun kesadaran buruh hingga kegairahan untuk berorganisasi dari segenap eksponen pemburuhan harus ditemukan. Bahkan model hingga tata budaya buruh Indonesia harus baru, yang dapat menjawab tantangan serta kehendak jaman.

“Jika tidak, maka selamanya kaum buruh Indonesia tidak akan pernah bergeser posisinya dari kubangan yang sama,” pungkas Jacob.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*