Jokowi Langgar Undang Undang, Kawasan Danau Toba Akan Dirusak, Sebaiknya Badan Otorita Danau Toba Dihentikan Sajalah Dulu!

Jokowi Langgar Undang Undang, Kawasan Danau Toba Akan Dirusak, Sebaiknya Badan Otorita Danau Toba Dihentikan Sajalah Dulu!

- in NASIONAL
1963
113
Majelis Pertimbangan Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Jakarta, Sandi Ebenezer Situngkir: Banyak Jaksa Nakal berkeliaran, harus dibersihkan dan ditindak tegas!

Pemerintah Pusat dianggap telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Undang Undang dengan memaksakan pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) untuk Kawasan Danau Toba (KDT).

Selain pelanggaran Undang Undang, bekas Walikota Solo itu pun disebut tidak melibatkan masyarakat di Kawasan Danau Toba untuk mengurus dan mengatur kawasan, sehingga konflik berkepanjangan pun akan terjadi di Masyarakat Batak nantinya. Mulai dari pola penggusuran Masyarakat Adat, Penggusuran lahan pertanian di Kawasan Danau Toba, hingga berkeliarannya mafia tanah yang akan menggadaikan tanah leluhur Orang Batak kepada para pebisnis yang hanya mencari keuntungan semata.





Rusaknya tatanan kehidupan adat istiadat orang Batak di Kawasan Danau Toba serta kian sulitnya memperoleh keadilan, adalah ancaman serius dari munculnya gagasan Badan Otorita Danau Toba yang hendak membuat Kawasan Danau Toba mirip Monaco.

“Jadi, ingatlah dan jangan biarkan tanah leluhur kita dihabisi, apalagi harus tergusur dari tanah kelahiran di Kawasan Danau Toba. Ini bukan persoalan pariwisata semata, bukan persoalan bisnis dan uang semata. Sebaiknya hentikan atau tunda dululah Badan Otorita Danau Toba itu,” papar Ketua Bidang Hukum Yayasan Pecinta Danau Toba Sandi Ebenezer Situngkir, di Jakarta, Rabu (23/03/2016).

Menurut pria yang berprofesi sebagai Advokat Ibukota ini, kehadiran BODT akan menimbulkan benturan-benturan yang menimbulkan konflik yang tak terhindarkan di Kawasan Danau Toba, jika pemerintah memaksakan pengelolaan Badan Otorita Danau Toba hanya berlandaskan kepentingan pariwisata demi mendapat keuntungan bisnis semata.





Persoalan hukum dan hak ulayat maupun keberadaan masyarakat adat di Kawasan Danau Toba tidak dipikirkan dengan sehat dalam rencana pembentukan BODT itu. Karena itu, Sandi mengingatkan agar pemerintah tidak terjebak hanya memuluskan kepentingan bisnis pariwisata yang pada akhirnya akan merusak tatanan kehidupan masyarakat di Kawasan Danau Toba.

“Seharusnya tidak hanya konsern pada lingkungan kawasannya, akan tetapi juga masyarakatnya, supaya terjadi pembangunan manusia. Jadi bukan hanya fisiknya saja. Pemerintah juga harus melakukan pembangunan zonaisasi di pinggiran Danau Toba, agar perkampungan yang sudah berusia ratusan tahun, serta ladang pertanian tidak tergusur,” papar.

Majelis Pertimbangan Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Jakarta ini meminta pemerintah pusat membuka ruang untuk menyerap dan mendengarkan kemauan dan kebutuhan masyarakat di Kawasan Danau Toba jika memang pemerintah memiliki niat baik memajukan kawasan.





“Bicara Kawasan Danau Toba, maka pemerintah harus bicara langsung dengan masyarakat Batak yang tinggal dan berdiam di Kawasan Danau Toba yang masih menganut prinsip hukum adat, dan memberikan perlindungan kepada mereka yang telah betahun-tahun bercocok tanam,” terang Sandi.

Dikatakan mantan Aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jakarta ini, dari sisi hukum adat posisi masyarakat adat di Kawasan Danau Toba sangat kuat. Sesuai pasal 18b UUD 1945, Masyarakat Adat dan tatanan hukum adatnya telah diakui keberadaannya. Termasuk penguasahaan lahan atau tanah, sebagaimana tertuang di dalam  Pasal 3 dan 5 Undang Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang pertanahan. Undang Undang ini adalah untuk memastikan bahwa hukum adat juga menerapkan hukum agraria sebagai hukum yang berlaku di Masyarakat Adat.

“Maka hukum kepemilikan tanah masyarakat harus mengacu ke hukum adat. Sedangkan menurut Undang Undang Kehutanan dan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35, disebut hutan adat yaitu hutan yang ada di sekitar perkampungan dan pertanian masyarakat bukan hutan negara, tetapi hutan adat yang merupakan milik masyarakat adat,” ujarnya.





Diungkapkan Sandi, kehadiran Rancangan Peraturan Presiden Otorita Danau Toba sangat diskriminatif, tidak sistematis dan melanggar prinsip penyusunan Undang Undang.

“Rancangan Perpres itu sudah tidak sesuai ketentuan Undang Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang pembentukan Undang Undang. Jadi disimpulkan kehadiran Pepres itu melanggar Undang Undang di atasnya,” tutur dia.

Lebih lanjut, ketidaksesuaian kepentingan dan keperluan masyarakat telah dipaksakan dimasukkan di dalam Rancangan Peraturan Presiden tentang Otorita Danau Toba itu. Di dalam Rancangan Perpresnya Jokowi itu, disebutkan pengaturan lahan 500 hektar sebagai Hak Pengelolaan (HPL) dari Otorita Danau Toba. Lahan yang dimaksud itu keberadaannya di Kabupaten Toba Samosir.





“Ini merupakan ketidakadilan bagi tujuh kabupaten lainnya di Kawasan Danau Toba. Kalau seluas 500 hektar hanya ada di kabupaten Toba Samosir, sudah pasti melanggar prinsip keadilan dan melanggar prinsip kepastian hukum kepada tujuh kabupaten di sekitar Danau Toba,” ungkap Sandi.

Ingat, lanjut Sandi, Rancangan Perpres itu juga akan membuat Orang-Orang Kaya Batak di Perantauan akan beralih profesi menjadi spekulan tanah. “Dengan cara membeli tanah masyarakat dengan harga murah, kemudian menjual tanah ke pengusaha dan Badan Otorita dengan harga mahal,” ungkap dia.

Untuk itu, lanjutnya, pembentukan Otorita tersebut harus dilakukan dengan berhati-hati, jangan sembrono. Sandi menegaskan, upaya pembentukan Badan Otorita Danau Toba itu sebaiknya ditunda saja dulu, sebab langkah itu juga ternyata telah menciderai program Nawacitanya Jokowi.





“Kemungkinan Jokowi akan dijerumuskan, sama seperti kasus PT Inti Indorayon Utama yang kini berubah nama menjadi PT Toba Pulp Lestari yang menggerus hutan pinus dan lahan di Kawasan Danau Toba. PT Inti  Indorayon Utama yang dipaksakan hadir di Porsea itu sejak awal sudah menimbulkan konflik berkepanjangan, hingga kini konfliknya meluas ke seluruh Kawasan Danau Toba. Stoplah dulu rencana ini bah,” pungkas Sandi.

Sebelumnya, pemerintah pusat sudah memutuskan akan mengambilalih pengelolaan Kawasan Danau Toba dengan membentuk Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli yang ditunjuk untuk memimpin rapat lima kementerian untuk tujuan itu pun berniat agar pelaksanaan mimpi itu dilakukan secara terkoordinir oleh pemerintah pusat.





Menko Kemaritiman Rizal Ramli sendiri telah melakukan rapat koordinasi (rakor) tindak lanjut pembentukan Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba bersama empat menteri lainnya di Institut Teknologi Del, Laguboti, Toba Samosir, Sumatera Utara, Sabtu (9/1/2016).

Dalam keterangannya, disebutkan bahwa keempat menteri yang terlibat adalah Menko Polhukam Luhut Panjaitan, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono serta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

Rakor juga didukung kehadiran Pelaksana Tugas Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Kapolda Sumut dan tujuh Bupati dari seluruh wilayah yang mengelilingi Danau Toba yakni Bupati Toba Samosir, Bupati Tapanuli Utara, Bupati Samosir, Bupati Karo, Bupati Simalungun, Bupati Dairi dan Bupati Humbang Hasundutan.





Rizal menjelaskan, pihaknya berkomitmen penuh dalam pembentukan badan tersebut agar pengelolaan Danau Toba dapat lebih terkoordinasi.

Dengan demikian, kawasan wisata itu bisa menjadi Monaco of Asia, pariwisata tingkat internasional yang dapat memikat banyak wisatawan mancanegara.

“Kita akan jadikan Danau Toba ini Monaco of Asia, karena orang sudah tahu kalau Monaco itu bagus, cantik, pemandangannya indah dan bersih,” ujarnya.





Lebih lanjut, Rizal meminta agar masyarakat Sumatera Utara serta pemerintah daerahnya bisa mendukung segala upaya pemerintah yang akan menjadikan Danau Toba sebagai ikon pariwisata Indonesia.

Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan menyambut baik inisiatif pengembangan kawasan wisata Danau Toba. Menurut purnawiran Jenderal ini, langkah tersebut merupakan langkah yang ditunggu puluhan tahun oleh masyarakat Batak.

“Saya juga beberapa hari yang lalu sudah laporkan ke Presiden Jokowi. Presiden menyambut baik dan mendukung penuh, katanya rencana ini juga salah satu program pemerintah yang paling penting,” kata Luhut.





Selain Danau Toba, pemerintah juga akan membentuk badan otoritas di sembilan kawasan wisata utama di Indonesia pada 2016.

Sebanyak 10 kawasan wisata yang akan fokus dipasarkan yakni Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo, Mandalika, Pulau Komodo, Wakatobi, dan Morotai.(Richard)

113 Comments

  1. wandoro situmorang

    setuju dengan pak sandi…jika memang ingin mengembangkan kawasan danau toba, masyarakat yang ada di kwasan danau toba harus di ikut sertakan dalam pembangunan ini. sebab jika tidak ada budaya batak sedikit demi sedikit akan hilang, makanya yang mengolah nya harus putra daerah. karena danau toba dan pulau samosir itu sebuah warisan untuk bangso batak..jangan yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin..salam hormat jika kurang tepat dengan pendapat saya mohon di maklumi…horass bangso batak

  2. Yang banyakanla jago-jago di masyarakat batak ni, makanya dari dulu gak bisa maju,, karena terlalu jago semua… belum apa-apa da bilang merusak,, seharusnya kawal brother bukan halangi, kapan la majunya pariwisata danau toba klo gini pola pikirmu haduhhhhhhhh batara guru

    1. 🙂 Tanggapan yang menarik karena bombastis juga. Terimakasih atas tanggapannya. Menanggapi sebuah kebijakan adalah tanggapan yang terukur, Kebijakan yang dikeluarkan juga bisa diukur dan dikritisi. Tak perlu gelar yang sangat tinggi untuk bisa disebut bisa mengukur sebuah kebijakan. Namun, perlu mendengarkan keberagaman saran dan pendapat, termasuk beberapa ukuran yang muncul dari perbandingan persoalan, pun juga kritikan yang membangun. Informasi berupa pendapat dan gagasan serta kritik merupakan lampu pelita untuk menerangi agar tidak terjerumus ke dalam kegelapan, kira-kira begitulah fungsinya kritik yang konstruktif itu. Semoga bermanfaat dalam kerendahan hati. Terimakasih.

    2. Bagus juga pndpt loe.. Makanya kalian cobalah jadi RI 1

      1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

        Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  3. Saya kurang setuju dengan apa yg di utarakan situngkir disini, masyarakat bali apa hilang dari bali??,, ingat orang batak bersebar di seluruh dunia,, dan perlu kau tau lae.. jaman dulu orang tua kita bila punya anak banyak, cth, 8 orang, 7 merantau dan 1 tinggal di kampung, mungkin kamu lah salah satu nya orang batak itu, tapi jangan salah,, orang batak itu tidak pintar, tapi puntar-pintaran,, jika kamu ingin berlaga argument tentang tanah batak.. boleh hubungi saya.. hp. 082361244440. Saya tunggu komentar anda situngkir, kokoh purba.

    Saya yakin ada sesuatu di balik suara kecil mu ini

    1. 🙂 Terimakasih atas tanggapannya. Akan dibuka diskursus tentang persoalan Badan Otorita Danau Toba ini. Silakan memberikan tanggapan kritis dan terukur, serta mempertimbangkan norma-norma yang dianut. Silakan memberikan masukan yang konstruktif bagi pengembangan Kawasan Danau Toba yang lebih baik. Di sini bukan mempersoalkan pro pemerintah atau bukan, tetapi mencoba melihat persfektif hukum dan membandingkan dengan beberapa persoalan di Kawasan Danau Toba, agar ke depan lebih berhati-hati dan lebih rasional untuk kemajuan Masyarakat Batak di sana. Terimakasih.

      1. Tolong jangan negatif thinking dulu lae Tungkir atas kebijakan pemerintah, lihat dulu baru kritisi,harus disadari salama Republik ini BerdIri Tapanuli dikenal sebagai peta kemiskinan, ini saatnya move on jangan terus ditanggapi negatif dan prasangka,anda khan tinggal di lugar daerah Tapanuli tp kami YG sehari hari merasakan susahnya san keterbatasan di sini, mengenai adat yg anda kuatirkan rusak krg beralasan krn org Batak terkenal bijak merawat adatnya krn di nilagang buni manapun org Batak tinggal adat tetap dijalankan, warga bonapasogit JG rd gaptek san tahu jpg menjaga adatnya, kalo anda tak perlu kuatir,ada sedikit lagi lae ,berapa kali pulang ke Paropo dlm 2 tahun ini? Bagaimana tanngapan lae ttg jalan menuju ke sana?

        1. Terimakasih atas tanggapannya. Minggu ini pun Sandi Ebenezer Situngkir dan kawan-kawannya turun kembali ke Kawasan Danau Toba. Peran pemerintah daerah tidak berjalan maksimal. Hal-hal dasar tidak dibenahi, namun cenderung menjual mimpi-mimpi yang tidak sesuai dengan keadaan masyarakat di Kawasan Danau Toba.

    2. Setuju dgn lae…blm apa2 sudah di ributkan…

      1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

        Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  4. Judul yang sangat kontroversi. Kami selaku masyarakat yang tinggal di parapat saja, ssngat mendukung dan tidak sabar menanti realisasi program pak jokowi. Kenapa justru media antah berantah ini ribut!???

    1. Salam Kontroversi. Terimakasih atas tanggapannya. Media ini resmi dan bukan antah berantah. Memang sebuah kebijakan bisa saja menimbulkan pro dan kontra. Dan semua itu sah dalam koridor kemerdekaan berdemokrasi, asal tetap menjunjung tinggi asas-asas berpendapat dan mengeluarkan gagasan, termasuk juga norma-norma mengkritik. Kawasan Danau Toba terletak di Tujuh Kabupaten dan Provinsi Sumatera Utara, jadi Kawasan Danau Toba bukan hanya milik warga Parapat semata. Bahkan Dunia pun memiliki Danau Toba, karena itu, mari saling berpikir rasional dan terukur, serta pembuktian-pembuktian nyata dalam berpendapat dan mengeluarkan gagasan serta kritikan. Sebagai penduduk langsung di Kawasan Danau Toba, tentu ada kepedulian yang lebih agar Kawasan itu lebih baik dan tidak terjebak pada persoalan suka atau tidak suka, namun karena kebutuhan dan eksistensi yang menghidupkan bagi semua orang di Kawasan juga. Terimakasih. 🙂

      1. heee…sinar keadilan hanya redaksi…hanya buat orang batak susah…jaganlah buat lagi.tulisan2 sperti ini, sepertti air danau toba yang kotor,bau,tempat sampah.

  5. Biarkan pemerintah bekerja.. Klu gk begitu danau toba gk akan maju2… Ayo donk lae jika bkn skrng warga danau toba tdk terlibat mngkin setelah danau toba brrubah jd lbh baik baru warga bs berperan di dlmnya..

    1. setuju lae. argumen lae si Tugkir ini sudah basi tu. Sudah pasti rencana pemerinta h pusat berkoordonasi dgn pemerintah setempat & pemmerintah setempat dgn tua2 (raja adat) setempat

      1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

        Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  6. Lsm jgn terlalu banyak komentar kami yang asli org samosir pasti ada yg diuntungkan dan di rugikan itu lumrah untuk mencapai sesuatu tujuan.

    1. 🙂 Terimakasih atas tanggapannya. LSM adalah kepanjangan dari sederet kalimat “Lembaga Swadaya Masyarakat’, pada prinsipnya LSM peduli pada kepentingan masyarakat secara swadaya. Setuju bahwa dalam sebuah kegiatan atau kebijakan ada yang diuntungkan dan dirugikan. Nah, jangan sampai masyarakat itu sendiri yang dirugikan. Karena itulah, perlu mengkritisi kebijakan pemerintah agar tetap dalam koridor kepentingan dan kemajuan masyarakat yang menjadi tujuan dikeluarkannya kebijakan itu sendiri. Nah, sekarang silakan dipilah-pilah secara sehat dan rasional, apakah masyarakat Samosir lebih banyak dirugikan atau diuntungkan dari kebijakan Badan Otorita Danau Toba itu? Silakan bersikap dengan nurani dan kebutuhan nyata masyarakat di sana.Silakan ditelisik dulu lebih jauh apakah sesungguhnya Badan Otorita Danau Toba itu? Itu lebih baik daripada main klaim sesaat. Ini untuk kemajuan Masyarakat dan Kawasan Danau Toba itu sendiri. Kritikan juga tak haram dalam pembangunan. Jadi, silakan membuka mata dan telinga dan membuat sikap yang rasional dan berbasis pada masyarakat di sana. Terimakasih.

  7. Silahkan memberi masukan kepada badan otorita. Namun mengatakan supaya usaha ini dihentikan sangat emosional. Banyak tahapan yg harus dilalui oleh usaha ini termasuk pelestarian dari kekayaan adat istiadat / culture Batak. Banyak contoh yg dapat diambil sebagai pelajaran seperti Bali, Lombok, dan memperbaiki apa yg terlewat dari contoh2 tersebut. Seharusnya KDT dapat dikembangkan dengan lebih baik dibandingkan contoh2 tsb.

    Ayo berikan masukan sebanyak banyaknya. Saya teringat pesan seorang “natua-tua” begini bunyinya: “Molo iba dang boi mambahen na denggan, pinomat unang ni oraan halak mambahen na denggan” yg artinya:”Kalau kita tidak dapat melakukan hal yang baik, paling sedikit jangan halangi orang lain melakukannya”. Horas.

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  8. ito situngkir, ito kan masuk dlm yayasan pecinta danau toba??iya kan! dr tahun ketahun apa yg sdh diberikan oleh lembaga anda sebelum ada gagasannya pak jokowi??sy sgt mngrti dgn kata2 putera daerah. ttapi tlg beritahu kami sebelum sy bertanya lbh lnjut apa yg prnh anda n yayasan anda lakukan terhadap lingkungan danau toba?
    eceng gondok?keramba?sampah?

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  9. SAMosir PRImitif….
    Itu lah sebutan buat klen yang tidak suka dengan kemajuan……

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  10. soala gogo p p turnip

    Hentikan aja Program pembangunan Danau Toba menjadi monaco of Indonesia Pak Jokowi biarkan mereka saja yg bangun sendiri dengan otonomi daerah,, apakah bisa,lihat selama ini aja jauh dari bagus Parawisata Danau Toba, Belum aja berjalan sepenuhnya Pogamnya sudah ribut,,,,,,,,,,,,

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  11. Syarat utama kemajuan adalah percepatan pembangunan infrastruktur. Peran serta masyarakat adalah melestarikan budaya, adat istiadat didlmnya. Kalau menolak perubahan, kita terjebak dan tertinggal dlm tradisi lama. Mari kita bersinergi maju bersama dlm arus perubahan yg membawa kemajuan masyarakat di lingkungan Danau Toba

  12. Terimakasih buat Konsultasi Rekan-rekan Orang Batak. Dari Berbagai argument diatas bisa saya simpulkan sangat relevan untuk kemajuan kawasan Danau Toba. Intinya mari kita dukung kebijakan pemerintah dan kita awasi dan musyawarah dgn tokoh adat yg berada di Kawasan Danau Toba. Danau Toba Di Kembangkan maka dampaknya sangat berpengaruh ke Perekonomian yg ada di kawasan Danau Toba. Salam Bontor Simatupang.

  13. Ya kalau boleh diterima aja demi kemajuan daerah kawasan danautoba…yg perlu kita masyarakat harus awasi semua prosesnya,jgn terlalu banyak protes dulu..sesudah ada kebijakan pemerintah baru nongol..sebelumnya marukkor digambo2 i..arif dan bijak aja bro.tq

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  14. Horas…

    Tentu tetap dibutuhkan kelompok masyarakat kritis dalam proses ini. Hal paling sederhana yang harus dicermati adalah jangan sampai terjadi “peminggiran” terhadap masyarakat yang ada di sana. Selain itu tentu banyak hal lain terkait masalah lingkungan, sosial dan budaya.

    Sulit kita menolak gagasan pengembangan potensi pariwisata kawasan Danau Toba yang sangat luar biasa itu. Tapi yang jadi soal adalah “Bagaimana hal itu dilakukan”. Pelibatan masyarakat dan kelompok masyarakat yang ada di sana tentunya akan menjadi syarat utama dan pertama dilakukan, agar proses pengembangan kawasan ini dapat berkelanjutan.

    Tapi sayangnya belum apa-apa sudah keluar tagline “Monaco of Asia”, yang entah darimana asalnya. Ompung ku yang di kampung sana pun jadi bingung, kenapa pula mau jadi Monaco. Ini salah satu contoh kecil saja (tanpa bermaksud nyinyir terhadap pemerintah). Tagline yang kelihatannya sederhana itu, tentu punya konsekuensi terhadap desain dan program yang akan dikembangkan.

    Selain itu, tentunya masih banyak hal-hal lain yang lebih besar dan substansial yang perlu dicermati. Semoga kita dapat melihat polemik ini sebagai upaya bersama dalam mendorong proses dan kondisi yang lebih baik.

    Salam

  15. Menurut saya tujuan dari otorita danau toba bukan hanya dr sisi pariwisata dan bisnisnya saja,kalau tdk salah jg ada mengenai pelestarian budaya dan adat istiadatnya,pariwisata tdk hanya mengenai keindahan alamnya,tp jg kekayaan dan keunikan adat dan budaya batak,jgn skeptik dululah,kita tunggu perpres dan tupoksi otorita danau toba,dulu danau toba tdk diperhatikan semua teriak protes,skarang ada rencana pemerintah pusat memperhatikan danau toba jg pada teriak,aha do naeng na nipangido?

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  16. Danau toba adalah wisata dunia…Mari kita dukung program wisata pemerintah…kami putra Batak mengawal tuntas kemajuan wisata internasional…apa bila ada yang menghalangi kemajuan dan budaya wisata tanah batak akan saya sikat bersih dari dunia ini..Banua,SH

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  17. santika sihombing

    sebagai Ketua Bidang Hukum Yayasan Pecinta Danau Toba, apa saja sasaran kerjanya untuk danau toba?
    sejauh ini, bagaimana kinerjanya?
    berapa persen yang sudah tercapai?
    apakah suara anda ini adalah aspirasi dari semua lapisan masyarakat di sekitar danau toba?

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

    2. Saran saya yg penting utk DT .klw kita mau GO International Pemda harus bangun Hospital yg bertaraf International.dan harus bangun Water treatment dan sewerage treatment di sekitar TAO TOBA NAULI . GO BATAK. Mauliate.HORASSSSSS.

  18. Make it Simple…Untuk membuat sesuatu yang lebih baik harus ada pengorbanan, Membuat Danau Toba jadi Monaco Of Asia itu sangat luar biasa, itu akan mendobgkrok perekonomian masyarakat Toba sekitarnya, kalau yang jadi permasalahan ada adat iatiadat dan budaya, mari berkaca dengan Bali, apakah adat istiadat dsana berkurang? Tidak toh. Merusak Danau toba? Yakin kah itu akan merusak? Bukan kah sekarang lingkungan Danau Toba itu sudah rusak dengan, banyak pengusaha keramba memanfaatkan Danau Toba, bagaimana dengan keberadaan perusahaan besar (pabrik kertas) dsana bukankah itu perusakan berat untuk kawasan lingkungan Danau Toba?. TERGUSURnya masyarakat adat dengan pengembangan Danau Toba, hei come on anak anak Batak yang merantau, yang luar biasa pintar, PULANG!!!! Ikut berperan serta membangun kampung halaman.

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  19. Seharusnya Orang Batak jangan parno (paranoid). Spertinya argumen Lae si Tungkir ini sudah basi. Dari dulu itu2 aja yang di lontarkan akibatnya tanah Batak nggak maju2. BODT maju terus dengan koordinasi dengan pemerintah setempat

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  20. Yg ngaku2 pencinta danau toba sudah bikin apa selama ini?
    Ide pemerintah itu sdh ok, kita dukung spy implementasi di lapngan tdk terjd penyimpangan oleh oknum2, lsm2 pencari duit.

  21. Yaelah..ini z diributin. Langkah pak Jokowi memajukan danau toba itu dah tepat. Apa mau yg mau dihambar2 lagi. Liat diParapat..keramba punya siapa? Punya org dr negara luar. Berton2 bahan kimia dijatuhkan ke danau toba untuk makanan ikannya. Kehidupan masyarakat gitu2 z..sepi..klo pergi ke danau tobanya..sampah dan bekas minyak dari kapal..tahi kerbau. Jadi mana usaha putra daerah? Gitu2 z..semuanya mati.. Nunggu apa lagi? Nunggu danau toba di claim negara lain?

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  22. Tulisan dan usulan Lae Tungkir sangat beralasan dan dapat saya pahami konflik interest yang dihindari termasuk effek sampingan yang akan muncul dari rencan “pemonacoan” kawasan Danau Toba oleh pemerintah Jokowi. Tetapi dari segi pemikiran menyeluruh, saya sebagai anak Batak yang lahir dan besar, bahkan sekolah hingga SMA di pinggiran Danau Toba, betapa saya merindukan pembangunan kawasan Danau Toba yang seutuhnya. Yang saya garis bawahi dari Lae Tungkir ialah janganlah pembangunan ini pincang dengan hanya menekankan “wisatatanya”, tetapi harus memperhatikan semua sektor. Jika melalui Badan otoritas yang akan dibentuk inilah pembangunan itu dilaksanakan di Danau Toba, maka mereka ini harus sungguh dibrieving dalam melaksanakan tugasnya dgn baik, atl; menghindari kolusi, korrupsi, nepotisme dsb. Saya setuju sekali bahwa dalam badan ini harus melibatkan pimpinan adat dan para kepala desa di kawasan Danau Toba. Jangan sampai pemilik tanah yang sudah diwariskan oleh nenek moyang dari generasi ke generasi menjadi kehilangan hak2nya karena permainan mafia dan preman kampung. Saya percaya Jokowi sangat anti korrupsi, dan pembangunan Kawasan Danau Toba bisa berjalan dengan adil dan seimbang antara pembagunan phisik maupun struktur adat. Side effek “monaco” adalah perjudian dan maksiat prostitusi, hal ini juga perlu diperhatikan sebagai side effek yang harus dihindari demi tanah batak yang menjunjung tinggi nilai budaya, moral dan Spiritual. Salam horas. N. Rajagukguk.

  23. Siapa Sandy Situngkir ini?? Ai diattusi lae on do tahe arti ni otorita? Ai so mardalan dope nunga pajago-jagohon mandok melanggar UU. Kalau mau cari2 nama sdh salah jalur lae.. mauliate

    1. 🙂 Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Eebeneser Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Dipinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebeneser Situngkir dari Redaksi. Salam.

  24. ajibata tigaraja parapat

    Perpres BODT sedapat mungkin ditunda, guna memberi ruang agar draft’y dapat dikritisi, dicermati dan dikaji, guna kepentingan semua “steak holders” bukan hanya kepentingan sepihak oleh “kolaborasi penguasa & pengusaha” apalagi “mafia tanah-hukum-proyek” dLsb. Menunda Perpres tidak berarti menunda pembangunan infrastruktur. Jalan Tol, jalan lingkar Samosir, Bandara, dLsb harus jalan terus, tidak ada upaya itu, sumbernya juga kan sindikasi BUMN dan APBN dan utang LN. Ada persepsi yg keliru, soal Perpres BODT yg seolah dipaksakan, dan anehnya banyak yg tidak paham tupoksi dari BODT tsb yg justru perlu dicermati, karena isinya kepentingan investor. Namanya juga “Badan Pengelola Parawisata Kawasan Danau Toba” artinya penguasa yg diberi mandat, koq pada ribut jika kita kritisi ? Kalau penundaan ini dicurigai macam2 maka, kami balik mencurigai, ada apa kepentingan orang2 yg ingin Perpresnya segera diteken Jokowi, sementara ruang akomodasi aspirasi masyarakat tidak ada. Salah kah masyarakat yg ingin mengkaji dan mencermati ? Jangan kita saling curiga tuduh menuduh “prejudice”, cobalah berpikir positip, guna memperkecil resiko yg lebih buruk dari investor yg mau masuk perlu dikaji tanpa niat menghanglangi pembangunan “merevitalisasi dan mengaktualisasi” Kawasan Danau Toba. Silahkan jalan terus pembangunan infrastruktur. Boleh di-ilustrasi-kan : “Lagunya Guruh Soekarno P : Kembalikan Bali ku” pada paham gak lagu itu ? Lagu itu seharusnya jadi inspirasi kita untuk cermat dan berhati-hati tapi tetap terbuka dan tetap semangat.

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  25. ajibata tigaraja parapat

    Sejak dulu yg diinginkan masyarakat ialah agar BODT dilahirkan UU Otorita spy optimal, bukan 3 atw 4 tkt di bawah UU spt Perpres yg sebenarnya menunjukkan niat setengah hati atau “kagok”. Atau sekalian UU Propinsi Danau Toba spy segera lepas dari kendali Medan (Sumut) yg selama ini sudah terbukti tidak Sudi ngurusi Kawasan Danau Toba, seperti Bali bisa melejit ya karena satu komando dari Gubernur Bali (1 Propinsi). Mengejar ketertinggalan Kawasan Danau Toba 40 tahun dari Bali membutuhkan minimal 3 parameter percepatan yaitu : 1) Propinsi baru, 1) BODT dari UU Otorita, dan 3) Geopark Dunia cq GGN-Unesco yg ada cuma 2 dan itu tidak maksimal, sehingga masih diragukan comittment dari Jokowi, namun demikian kita syukuri dan kita dukung krn membawa perubahan & banyak mengandung pengharapan. Oleh karena itu, jangan ragu kita mengkritisi soal kebijakan, karena sejatinya negara terlampau lama lalai dan membiarkan Kawasan Danau Toba terpuruk dan tertinggal. Tao Toba Raja ni sude na Tao pernah jaya tapi sengaja diabaikan.

  26. EeeeeTahe akka halak Batak on belum apa2 sudah ribut..!

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  27. Mungkin biar terkenal situnkir ini,orang sana gak takut kok.emangnya binatang seenaknya diperlakukan,urus aja dirimu

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  28. Ibarat sebuah mobil, tidak hanya ada gas utk maju dan tancap, tp ada rem utk berhenti atau berjalan pelan2 dan hati2. Pemerintah ibarat gas dan lsm adalah remnya. Kedua2nya harus berjalan dan saling mempertimbangkan utk tiba pada tujuan yang baik.

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  29. Dimana ada kebaikan disitu ada juga yg menentang. So be wise, no pain no gain..Tuhan memberkati segala rencana yang baik. Lanjutkan Badan Otorita Danau Toba

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  30. Ini lah orang kita
    Danau toba mulai diperkenalkan dibilangnya melanggar undang undang
    Giliran tidak diperhatikan, katanya pariwisata sumut tidak dikelola dengan baik
    Memang lsm berfungsi mengkritik tapi judul nya itu loh
    Ayolahh
    Kita yang sebagai masyarakat yang bertugas menjaga dan tetap melestarikan budaya dan adat kita

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  31. Jalan terus otorita danau toba…
    Pro kontra itu biasa jika ada perubahan.

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  32. Judul dari tulisan ini sangat provokatif.Tulisan ini tidak berimbang informasinya,jika memang media ini ingin mengkritisi kebijakan tentang BODT yg konstruktif parparkan dong apa saja keuntungan maupun kerugian yg ditimbulkan,tunjukan premis primisnya. Saya melihat isinya justru lebih banyak opini. Berikanlah info yg mencerahkan.

    1. 🙂 Tidak ada tendensi untuk merusak pembangunan Kawasan Danau Toba dalam tulisan berita. Jika mau ditelisik, karena kepedulian saja maka muncul kritik dan masukan bagi Pembentukan Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang sedang berlangsung. Ini bukan provokasi, karena itu hendaknyalah memberikan tanggapan yang juga kritis dan sehat, jangan mudah mengklaim segala sesuatunya sebagai provokasi. Jika mempertanyakan apa yang dilakukan untuk Kawasan Danau Toba, maka sudah dilakukan dan akan terus dilakukan, dan silakan bertanya pada diri sendiri sebagai anak-anak dari Kawasan Danau Toba, apakah masing-masing juga sudah sungguh melakukan sesuatu yang baik untuk Kawasan Danau Toba? Hal itu pula yang ingin diketuk oleh Sandi Ebenezer Situngkir sebagai anak asli dari Kawasan Danau Toba, tentu dengan kaca mata yang tidak selamanya harus sama dengan kaca mata pembaca. Silakan saling memberikan masukan yang konstruktif, juga kritikan yang konstruktif. Bukan hanya terjebak pada perdebatan dan saling tarik urat leher tanpa solusi. Demikian sedikit respon untuk tanggapan ini.

      Informasi di Redaksi, Saudara Sandi Ebenezer Situngkir adalah putra asli Kawasan Danau Toba, tepatnya lahir dan besar di Desa Paropo. Di pinggiran Danau Toba. Sejak mengecap pendidikan di Jakarta, dia rutin pulang kampung dan berdiskusi dengan situasi persoalan di Kawasan Danau Toba, merasakan langsung dampak buruk kebijakan pemerintah yang diskriminatif bagi dirinya, keluarganya, sanak saudaranya dan keluarga-keluarga di Kawasan Danau Toba. Dia juga aktif memberikan beberapa pencerahan terkait hukum yang memberi efek kepada Kawasan Danau Toba. Lahir dan besar dalam situasi Kawasan Danau Toba yang kian runyam, dimana tanah nenek moyang perlahan digerus oleh kepentingan segelintir elit, dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diadu domba oleh kepentingan-kepentingan sesaat, dan masyarakat Kawasan Danau Toba tidak pernah secara serius dilibatkan mengurus tanah leluhurnya, tak juga dijadikan subyek utama dalam membangun Kawasan, berkacalah dari dua perusahaan Raksasa dari masa ke masa yang bercokol di Kawasan Danau Toba hingga kini, seperti PT Inalum, apa yang sudah diperbuat untuk Kawasan Danau Toba, PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) coba ditelisik apa yang sudah dilestarikan oleh perusahaan-perusahaan itu di Kawasan Danau Toba? Belum lagi rakusnya penguasa daerah yang tentu saja berkolaborasi dengan Kepentingan Nasional untuk merampas keuntungan dari situasi di Kawasan Danau Toba, juga munculnya perusahaan-perusahaan baru di Kawasan yang merusak dan mengotori Danau, juga merusak ada istiadat dan kepribadian Batak. Untuk membicarakan Badan Otorita Danau Toba pun sudah saling tuding menuding. Biarkan hubungan rasional dan sehat tercipta. Jika Anda orang yang lahir, besar dan tinggal di Kawasan Danau Toba, sudah seharusnya kritis terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan. Demikianlah sedikit info tentang Sandi Ebenezer Situngkir dari Redaksi. Salam.

  33. Kebijakan pemerintah dalam pembentukan BODT masih dalam kerangka. Semua kabupaten yg ada diruang lingkup DT tentu akan diikutsertakan demi kesuksesan rencana. Beberapa masukan yg diutarakan saya lihat dari lae adalah agar lahan yg diperuntukkan dibagi ke 7 kabupaten. Masyarakat asli harus dilibatkan. Dan yg paling akhir pesan lae adalah jgn terjebak seperti TPL. Mewujudkan rencana Monaco Of Asia tentu butuh dukungan dari semua lapisan. Masukan himbauan dan atau saran dari lae sangai baik adanya jika disampaikan secara terbuka ke pimpinan agar tdk menimbulkan kegaduhan suasana di kampung sendiri. Bermacam cara yg bisa kita lakukan agar masukan dari kita penduduk asli seputaran danau toba tdk menjadi konsumsi negatif.