Jika BPJS Tak Punya Inovasi, Kasus Penelantaran Pasien JKN Akan Terus Terjadi

Jika BPJS Tak Punya Inovasi, Kasus Penelantaran Pasien JKN Akan Terus Terjadi.

BPJS Kesehatan diminta melakukan inovasi untuk mengatasi berbagai persoalan, seperti penelantaran pasien peserta Jaminan Kesehatan nasional (JKN) di Rumah Sakit.

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar menegaskan, jika BPJS Kesehatan tidak melakukan inovasi maka kasus-kasus penelantaran dan pelayanan ala kadarnya akan terus terjadi dan menumpuk.

“Memang kasus-kasus akan terus terjadi, dan akan terus terjadi lagi, bila BPJS tidak berinovasi meningkatkan pelayanan kesehatan kepada pesserta JKN,” ujar Timboel Siregar, di Jakarta, Rabu (27/03/2019).

Dia mengingatkan, harusnya dengan mengacu pada pasal 89 Perpres no. 82 tahun 2018, diamanatkan adanya Unit Pengaduan di setiap Rumah Sakit yang menjadi mitra BPJS Kesehatan.

Unit Pengaduan tersebut, lanjut Timboel, bisa membantu pasien JKN mencarikan ruang perawatan yang dibutuhkan pasien JKN dengan memanfaatkan teknologi atau IT yang mumpuni.

“Pasien JKN tinggal datang ke unit pengaduan, lalu staf pengaduan mencarikan ruang perawatan yang dibutuhkan melalui IT yang terhubungkan ke seluruh Rumah Sakit mitra BPJS,” ujarnya.

Pihak BPJS mencarikan ruang perawatan yang dibutuhkan di masing-masing RS itu. Bila ada, maka tinggal diinfokan sehingga pasien tinggal dirujuk ke RS yang dimaksud.

“Sudah saatnya BPJS Kesehatan pro-aktif membantu mencarikan ruang perawatan dgn menggunakan IT yang terhubungkan ke seluruh RS yang menjadi mitra BPJS Kesehatan. Unit Pengaduan harus aktif 7 x 24 jam,” ujarnya.

Dengan melihat banyaknya persoalan-persoalan penelantaran pasien di RS, karena alasan tidak ada ruangan perawatan atau karena sedang penuh, BPJS Kesehatan tidak mampu memberikan solusi. Karena itu, kinerja BPJS Kesehatan layak segera dievaluasi. “Presiden harus mengevaluasi kinerja direksi BPJS Kesehatan,” tutup Timboel.

Hal itu disampaikan Timboel Siregar melihat kejadian tak manusiawi yang kembali terjadi di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat. Pada Selasa 26 Maret 2019, seorang anak perempuan berusia 6 tahun, bernama Dumaris Natasya Simanungkalit itu tidak berdaya. Anak kecil yang merupakan peserta JKN ini dibiarkan menggantung di sana.

Dumaris Natasya yang mengalami kondisi kritis karena pecah pembuluh darah dan gagal ginjal itu tidak sadarkan diri. Meski sudah dirujuk dari Rumah Sakit UKI, Jakarta Timur untuk dibawa ke RCSM, di sini tidak memperoleh pelayanan yang memadai.

Daniel Simanungkalit, ayah dari Dumaris Natasya, kebingungan dikarenakan pihak RSCM berlasan tidak ada tempat di Intensif Care Unit (ICU) bagi anaknya. Dia sudah mengadu ke sejumlah pihak yang sekiranya bisa menolong kondisi anak perempuannya itu.

“Katanya semua ruangan full,” tutur Gugun Simanungkalit, saudaranya Daniel Simanungkalit, yang tengah berkumpul menjaga dan membezuk Dumaris Natasya di RSCM, Rabu (27/03/2019).

Dua hari bertahan tanpa bisa masuk ke ruang ICU, diterangkan Gugun Simanungkalit, pada Rabu 27 Maret 2019, semua selang dan infus harus dicopot dari badan Natasya, untuk segera masuk ke perawatan sangat intensif di ICU.

“Hingga hari ini, belum ada tempat bagi anak Natasya. Selalu alasannya full. Entahlah, kemana lagi harus dibawa. Kami sangat khawatir, kondisi Natasya tidak bisa bertahan lama, sangat kristis. Jangan sampai dia lewat,” tutur Gugun.

Namun pada malam hari kemarin (Rabu, 27/03/2019), lanjut dia, keluarga menginformasikan bahwa Nathasya sudah dipindahkan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di daerah Senen, Jakarta Pusat. “Tetapi masih etap menunggu di ICU, belum di NICU,” ujarnya.

Kepala Cabang BPJS Kesehatan Jakarta Pusat Eddy Sulistijanto menyampaikan, pihaknya berupaya mencarikan Rumah Sakit yang representatif dan bisa menampung pasien JKN, jika di RSCM ruangannya dinyatakan penuh.

“Iya, dari kemarin sudah coba dibantu. Kemarin itu ada ruangan NICU di RS lain yang kosong, tetapi tenaga spesialisnya tidak lengkap,” ujar Eddy.

Setelah di-cross check ke sejumlah Rumah Sakit di daerah Jakarta Pusat, lanjut Eddy, pihaknya belum menemukan yang sesuai.

“Kami juga diskusi dengan pihak keluarga pasien dan pihak-pihak RS lainnya. Memang lagi tak ada yang sesuai. Lagi full semua. Meski begitu, kami tetap bantu carikan,” tuturnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan