Jembatan Tak Berfungsi, Ratusan Nelayan Kenjeran Menganggur

Jembatan Tak Berfungsi, Ratusan Nelayan Kenjeran Menganggur.

Kondisi nelayan di Pantai Kenjeran, Surabaya semakin memprihatikan. Sejak tidak berfungsinya jembatan besar di Kenjeran, serta meluapnya lumpur basah di sekitar pantai, ratusan nelayan menganggur.

Ketua Kelompok Nelayan Surabaya di Pantai Kenjeran, Surabaya, Warsito mengungkapkan, nasib mereka kian tidak menentu.

Dia menuturkan, saat ini, dirinya mengkoordinir lebih dari 100 nelayan di wilayah itu, dan juga menghimpun 600 nelayan dari Kecamatan Bulak.

“Kondisi semakin tidak menentu. Harusnya kami mencari ikan. Sejak meluapnya lumpur basah dan juga tidak berfungsinya jembatan Kenjeran, kami tak bisa mencari nafkah,” tutur Warsito, dama rilisnya, Selasa (02/10/2010).

Dia berharap, ada upaya serius dari pemerintah untuk membantu dan mencarikan jalan keluar atas kondisi mereka. Untuk menyambung hidup, sementara ini para nelayan menyewakan perahu seadanya.

“Kami sekarang, beralih jasa persewaan perahu. Karena kami tidak bisa mencari ikan dengan kondisi lumpur basah yang semakin tinggi dan menjalar sampai hampir jauh dari pantai,” tuturnya.

Dan apalagi banyaknya wisatawan yang datang untuk penasaran mengarungi laut dengan perahu yang mereka sewakan, tidak bisa bisa digunakan. Karena perahu tidak bisa masuk dan keluar dari banyaknya lumpur basah yang memuka dekat pantai.

“Jembatan Surabaya yang di Kenjeran itu sudah tidak difungsikan lagi, entah kenapa sudah tidak digunakan lagi bagi kendaran yang melintasinya,” ucapnya.

Menurut dia, proses pembangunan jembatan tersebut menelan biaya sampai Rp 270 miliar. Saat dibangunpun, dermaga lama para nelayan dipotong. Karena dengan alasan menganggu proses pembangunan jembatan.

Para nelayan yang sehari-hari berkumpul di sekitar jembatan berharap dermaga lama bisa difungsikan kembali supaya bisa melakukan aktivitasnya di saat air surut.

Ketua Umum LSM Saya Indonesia Eka Septia Darmawan menambahkan, sia-sia jika jembatan megah dan menelan banyak biaya itu dinon-fungsikan.

“Tidak difungsikan karena ada alasan banyaknya kecelakaan dari trek-trekan atau balapan liar yang dilakukan warga sekitar Kenjeran,” ujar Eka Septia Darmawan.

Bagaimana pun, lanjutnya, nelayan harus tetap mencari makan untuk keluarga dan kebutuhan sehari-hari. “Bagaimana nasib para nelayan untuk menafkahi keluarganya dan sikap tegas Pemerintah Kota Surabaya atas semua kejadian ini,” tegas pria yang disapa akrab EkaHope tersebut.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*