Jelang Natal dan Tahun Baru, Kenaikan Harga Bahan Pokok Mulai Terasa, Warga Was-Was

Opik alias Babeh, salah seorang pedagang kelontong di Kawasan Salemba Raya, Jakarta Pusat: Jelang Natal dan Tahun Baru, Kenaikan Harga Bahan Pokok Mulai Terasa, Warga Was-Was.
Opik alias Babeh, salah seorang pedagang kelontong di Kawasan Salemba Raya, Jakarta Pusat: Jelang Natal dan Tahun Baru, Kenaikan Harga Bahan Pokok Mulai Terasa, Warga Was-Was.

Jelang Hari Raya Keagamaan dan akhir tahun, warga dihinggapi rasa was-was. Perlahan harga-harga bahan-bahan kebutuhan pokok (Bapok) merangkak naik.

Kecemasan warga tak berhenti, apalagi jelang akhir tahun ini tak ada kepastian tercukupinya bapok di pasaran.

Opik, salah seorang pedagang makanan dan kelontong di bilangan Jakarta Pusat, mengungkapkan kecemasannya. Pria yang setiap subuh berbelanja langsung kebutuhan bahan pokok ini mengaku hampir semua bapok perlahan naik harganya.

“Sudah mulai berasa naik harga. Pelan-pelan. Jengkol saja, dijual Rp 20 ribu per kilogram. Toga Rp 10 ribu per kilo. Yang lain-lain juga sama. Yang paling mengena, terutama bagi para pelanggan, harga rokok setiap hari ada kenaikan,” tutur Opik, Selasa (26/11/2019).

Pria yang sehari-hari berbelanja Bapok di Pasar Genjing, Jalan Pramuka, Jakarta Pusat itu mengaku, dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, harga bapok selalu meninggi jelang akhi tahun.

“Mending kalau ada barangnya. Sudah naik harga tinggi, kadang enggak ada yang jualan di pasar,” ujarnya.

Opik menyodorkan beberapa daftar belanjaannya. Dengan harga yang mungkin masih terjangkau. “Ikan teri saja sekarang sudah Rp 70 ribu per kilogram. Entah besok yang mana lagi yang perlahan akan dinaikkan harganya,” ujarnya.

Selama puluhan tahun menjadi pedagang warung dan kelontong, Opik mengaku sering bingung dengan cara pemasokan bapok ke pasar-pasar. Soalnya, sering kali alasan karena impor, maka harga bapok meninggi. Bahkan tak ditemukan di pasaran.

“Sebenarnya Indonesia kita ini lebih banyak mengimpor atau mengekspor? Bingung kita,” ujar Opik.

Untuk harga cabai, lanjut Opik, masih di angka Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram di pasaran. Dia diinformasikan pedagang langgannya, untuk bersiap-siap jika terjadi lonjakan kenaikan harga bahan pokok jelang Natal dan Tahun Baru 2019. “Sebab, biasanya memang begitu,” ujarnya.

Ketika ditanya, mengenai operasi pasar yang dilakukan pemerintah, Opik pesimis. Menurut dia, hampir setiap momentum har-hari raya dilakukan operasi pasar. Nyatanya, pedagang kecil dan para pelanggan seperti dirinya, selalu kesulitan dan kena imbas dari ketidaktersediaan bapok. Bahkan kesulitan membeli ketika harga bapok melambung tinggi.

“Apa ada yang main ya? Kok Bapok dimain-mainin terus? Bikin cemas warga dan pelanggan aja terus?,” ujar Opik.

Meski begitu, Opik berharap, agar tidak terjadi gejolak yang sangat fundamental, yang bisa merubuhkan perekonomian masyarakat bawah seperti dirinya.

“Pelanggan aja banyak yang ngutang. Enggak dapat duit katanya. Belum gajian. Gaji kecil. Bagaimana mau berputar roda ekonomi rakyat bawah, kalau selalu dimain-mainkan?” tuturnya.

Dia juga ingin membuktikan, bahwa kinerja pemerintah membuat ketersediaan bapok mencukupi hingga akhir tahun dan seterusnya. Juga ingin membuktikan, bahwa harga-harga bapok tidak meninggi. “Jangan bikin was-was dong warga. Saya juga mau tahu dong, bener gak nanti enggak aka nada kelangkaan bapok dan kenaikan harga-harga,” cetusnya.

Harga Bapok Mahal, Pernikahan Ditunda

Ronald alias Onal, seorang bujangan yang bekerja di sektor swasta, warga Jakarta, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhannya belakangan ini.

Onal yang sudah memasuki usia 35 tahun namun belum menikah itu harus pasrah, menunda rencana pernikahannya hingga tahun 2020.

“Orang tua dan calon isteri saya sudah mendesak seharusnya paling lama akhir tahun ini menikah. Faktanya, ya belum sanggup duit buat nutupi biaya pernikahan,” tutur Onal.

Sudah sejak enam bulan lalu, diakui Onal, dirinya dan calon isterinya mencoba menelusuri kebutuhan-kebutuhan dasar yang akan bisa dipenuhi untuk mempersiapkan pernikahan mereka.

“Biaya makan pesta sangat mahal. Pada naik semua. Ukuran pesta untuk 200 orang tamu saja, sampai 30-an juta rupiah. Itu yang sederhana banget. Lah saya bilang, tunda ke tahun depan saja nikahnya,” beber Onal.

Sedangkan gajinya bekerja saja tidak memenuhi Upah Minimum Provinsi (UMP). Kebutuhan sehari-hari untuk seorang lelaki bujangan saja kesulitan. “Apalagi yang sudah berumahtangga?” celetuknya, sembari menjelaskan gajinya tidak sampai Rp 3 juta per bulannya. “Cuma dua setengah.”.

Onal mengaku, dirinya berupaya seirit mungkin. Tidak boros. Tidak merokok. Kalau pun merokok, numpang punya teman. Tidak berfoya-foya. “Tetap aja belum cukup buat nikah,” ujarnya.

Selain pengaruh kebutuhan bapok yang merembet kemana-mana, Onal merasakan, kebutuhan untuk biaya pernikahan pun meningkat. “Kemana-mana deh imbasnya. Nikah kurang biaya, makan terancam dan seterusnya. Memang berasa banget kok kondisi perekonomian sekarang. Bagi kalangan menengah bawah seperti saya, sangat berasa kesulitan,” ujarnya.

Onal berharap, ada perubahan yang lebih baik. Terutama dari kebijakan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar warganya. Seperti Bapok, lapangan kerja, kemudahan akses untuk layanan publik dan lain-lain. “Jangan Cuma yang kaya semakin kaya, lah kita-kita jadi semakin sekarat,” ujarnya.

Jangan Cemas, Ada Operasi Pasar

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag) mengaku akan memastikan tersedianya bahan kebutuhan pokok jelang natal datn tahun baru 2019.

Inspektur II Kemendag Etti Susilowaty, di bawah koordinasi Inspektur Jenderal Kemendag Srie Agustina selaku Koordinator Wilayah Provinsi Banten, bahkan terjun langsung meninjau harga dan pasokan bapok di Pasar Rau, Serang, Banten.

Inspektur II Kemendag Etti Susilowaty menyampaikan, lebih dari dua tahun terakhir ini Pemerintah telah berhasil menjaga harga dan pasokan bapok tetap stabil menjelang peringatan hari besar keagamaan nasional (HBKN).

“Kemendag berkomitmen melanjutkan kesuksesan tersebut dengan melakukan upaya-upaya antisipasi dengan berkoordinasi dan bersinergi dengan pihak-pihak terkait bapok di daerah, termasuk di Provinsi Banten yang berpotensi menyumbang inflasi menjelang akhir tahun,” ujar Etti.

Berdasarkan pantauan di Pasar Rau, Provinsi Banten, Etti mengungkapkan harga bapok relatif stabil. Pada pantauan tersebut, Etti didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten, Babar Suharso dan Kepala Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Fahrurroji.

“Hasil pantauan kami pada hari ini menunjukkan harga bapok stabil dan pasokan cukup. Mudah-mudahan kondisi ini akan terus terjadi sampai nanti usai tahun baru,” ujar Etti.

Per hari Kamis (21/11/2019), harga beras medium stabil di kisaran Rp9 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram, beras premium Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram, gula Rp 13 ribu per kilogram, minyak goreng kemasan Rp 11 ribu per liter, daging ayam Rp 34 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram, daging sapi Rp 110 ribu hingga Rp 112 ribu per kilogram, telur ayam ras Rp 24 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram, cabai merah kriting Rp 35 ribu per kilogram, cabai merah besar Rp 20 ribu per kilogram, cabai rawit merah Rp 35 ribu hingga Rp 38 ribu per kilogram, bawang merah Rp 28 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram, dan bawang putih Rp 28 ribu per kilogram.

Etti mengungkapkan, kondisi harga-harga tersebut diprediksi stabil hingga akhir tahun. Mengingat distribusi pasokan bapok terpantau lancar.

Usai meninjau bapok di pasar rakyat, Etti meninjau kesiapan pasokan bapok di Gudang Bulog GBB Umbul Tengah dan Gudang Alfamart Serang, serta menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Kesiapan Bapok Menghadapi Natal 2019 dan Tahun Baru 2019.

Etti mengungkapkan, pasokan beras di Gudang Bulog tersebut aman. Lebih lanjut, secara keseluruhan, di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, pasokan beras untuk Provinsi Banten tercatat sebanyak 98 ribu ton. Itu cukup memenuhi kebutuhan hingga delapan bulan ke depan.

Sedangkan di Gudang Alfamart, pasokan bahan makanan olahan yang biasanya mengalami lonjakan permintaan pada Natal dan Tahun Baru juga aman hingga tiga bulan mendatang.

Etti juga menyampaikan pentingnya koordinasi dan sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Setelah mengidentifikasi pasokan bapok di lapangan, pemerinta mengkoordinasikan langkah-langkah yang perlu dilakukan pihak terkait dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bapok menjelang natal dan tahun baru.

Etti menegaskan, untuk menjaga inflasi bahan makanan pada tingkat yang stabil, beberapa komoditas bapok yang perlu diantisipasi pasokannya antara lain yaitu daging ayam, bawang merah dan telur ayam ras.

“Kami mengimbau Pemerintah Daerah memantau dan melaporkan keamanan dan kelancaran distribusi bapok dan jumlah stok bapok, yang dimiliki pedagang di pasar pantauan,” ujar Etti.

Etti melanjutkan, hal itu perlu dilakukan guna mengetahui perkiraan kebutuhan stok bapok harian di pasar-pasar tersebut dan segera melaporkan jika ada gejolak harga ataupun hambatan distribusi.

Etti menegaskan, pihaknya mengimplementasi amanat Rapat Koordinasi Nasional bapok di Jawa Timur pada 4 Oktober 2019. Pada kesempatan tersebut, Menteri Perdagangan telah memberikan arahan untuk segera melakukan langkah antisipasi menjelang Natal 2019 Tahun Baru 2020, mewaspadai tantangan terkait kondisi kekeringan ekstrim, dan menjaga kelancaran pasokan ke masyarakat dan keterjangkauan harga di pasar.

Rangkaian pantauan ke pasar rakyat dijadwalkan berlangsung di 15 daerah pantauan pada minggu ke-2 November hingga minggu ke-2 Desember 2019.

Daerah pantauan utama yaitu Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Papua Barat sebagai daerah yang mayoritas masyarakatnya merayakan Natal. Sementara itu, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Bali diprediksi berpotensi memberikan andil inflasi cukup tinggi.

Selanjutnya, Tim Penetrasi Pasar akan terjun ke 82 kabupaten/kota pantauan untuk mengawal pasokan bapok pada 16-20 Desember 2019. Pada kegiatan itu, Tim Penetrasi Pasar akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Satgas Pangan Daerah.

“Kami ingin agar masyarakat dapat merayakan Natal dan tahun baru dengan tenang tanpa mengkhawatirkan adanya gejolak harga bapok di pasar,” pungkas Etti.

Stok Bapok Masih Aman

Hal yang sama disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Dody Edward. Dia menegaskan, menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, Kementerian Perdagangan (Kemendag) kembali meningkatkan intensitas penjagaan harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (bapok).

Bahkan, dalam pemantauan langsung yang dilakukan Dody di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (21/11/2019) semua masih aman dan terkendali.

Pemantauan dilakukan di beberapa titik seperti pasar rakyat, yakni Pasar Kasih Naikoten dan Oebobo, ritel modern Hypermart, gudang distributor bapok CV Sumber Cipta, serta gudang Perum Bulog Divisi Regional NTT. Selain itu, Dirjen Dody juga meninjau pelabuhan PT Pelindo II.

“Hasil pantauan menunjukkan harga bapok di Provinsi NTT, khususnya Kupang aman terkendali. Dan pasokannya cukup untuk menghadapi Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Namun demikian, pemerintah akan terus menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan bapok dalam menghadapi Natal dan Tahun Baru,” ungkap Dody.

Berdasarkan hasil pantauan harga di pasar rakyat, beras medium dijual dengan harga Rp 9500 per kilogram hingga Rp 10 ribu per kilogram. Beras premium Rp 12 ribu per kilogram, gula pasir Rp 13 ribu per kilogram, minyak goreng Rp 13 ribu per liter, tepung terigu Rp 7000 per kilogram, daging ayam Rp 35 ribu per kilogram, daging sapi Rp 90 ribu per kilogram, telur ayam Rp 27 ribu per kilogram, cabe merah keriting Rp 40 ribu per kilogram, cabe merah besar Rp 40 ribu per kilogram, cabe rawit merah Rp 20 ribu per kilogram, bawang merah Rp 20 ribu per kilogram, dan bawang putih Rp 35 ribu per kilogram.

Di ritel modern, Dody memantau kesesuaikan harga bapok dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan.

Sementara, jumlah stok beras di gudang Bulog NTT tercatat sebesar 33,38 ribu ton. Jumlah tersebut cukup untuk menghadapi Natal dan Tahun Baru mendatang. Bahkan mencukupi untuk kebutuhan Provinsi NTT selama 9 bulan ke depan, ditambah stok beras dari CV Sumber Cipta.

Selain memantau harga dan pasokan bapok, Dirjen Dody juga memimpin Rapat Koordinasi Daerah (rakorda). Rakorda dihadiri Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan provinsi NTT Nasir Abdullah dan perwakilan Dinas yang membidangi perdagangan dari seluruh kabupaten/kota di provinsi NTT. Selain itu, hadir pula Tim Pengendali Inflasi Daerah, perwakilan satgas pangan, perwakilan Bulog, serta pelaku usaha bapok.

“Menjelang Natal dan Tahun Baru, biasanya terjadi peningkatan permintaan bapok, yang dapat berdampak pada kenaikan harga. Untuk itu, perlu dilakukan langkah antisipasi khususnya di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya merayakan Natal serta daerah penyumbang inflasi tinggi. Salah satunya, dengan meningkatkan sinergi dan koordinasi dengan pemerintah daerah,” ujar Dody.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan