Jaringan Intelektual Muda Islam Desak Jokowi Bertanggung Jawab Atas Kekerasan di Aksi Massa Damai 22 Mei 2019

Jaringan Intelektual Muda Islam Desak Jokowi Bertanggung Jawab Atas Kekerasan di Aksi Massa Damai 22 Mei 2019.
Jaringan Intelektual Muda Islam Desak Jokowi Bertanggung Jawab Atas Kekerasan di Aksi Massa Damai 22 Mei 2019.

Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, Presiden Joko Widodo diminta bertanggung jawab terhadap masyarakat, atas adanya kekerasan yang terjadi pada aksi damai 22 Mei 2019 di Bawaslu.

Ketua Bidang Sosial Politik Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI), Muammar menjelaskan, insiden 21-22 Mei 2019 bukanlah perkara ringan. Apalagi setelah jatuhnya korban jiwa dari anak bangsa.




“Kami dari Jaringan Intelektual Muda Islam mendesak Jokowi sebagai kepala negara mundur, karena gagal mengatasi aksi protes dengan damai. Aksi protes terhadap pilpres merupakan bukti kegagalan Jokowi dalam pelaksanaan pilpres, meski KPU sebagai pelaksana teknisnya,” tuturnya, dalam siaran pers, Senin (27/05/2019).

Muammar membandingkan, Pilpres 2014 tak seburuk sekarang. Saat itu SBY Presidennya. Tidak ada aksi protes dari rakyat apalagi korban jiwa dari rakyat. Angka meninggal petugas di TPS juga meningkat dibandingkan pemilu 2014.

“Sekarang, Pemilu serentak merupakan hasil kompromi pemerintah dan DPR. Kedua lembaga ini yakni eksekutif dan legislatif, punya andil atas jatuhnya korban,” ujarnya.




Terkait aksi 21-22 Mei, dia menilai protes masyarakat itu sebagai akumulasi kegagalan Jokowi memimpin Indonesia.

“Bukan hanya soal pilpres namun hal lainnya. Misalnya, Jokowi pernah janji akan membuka tuntas kasus pelanggaran HAM di masa lalu. Tapi faktanya pelanggar HAM malah dijadikan Menteri, kan aneh jadinya, inkonsisten dan cenderung munafik,” tutur Muammar.

Pembatasan penggunaan sosial media serta penangkapan aktivis yang kritik pemerintah merupakan ciri pemerintahan tiran.




“Jangan-jangan demokrasi kita merupakan demokrasi rasa tiran. Karenanya Jokowi Mundurlah, anda akan dikenang sebagai pemimpin demokrastis, bila mendengar aspirasi rakyat untuk mundur. Contohlah Soeharto yang ikhlas mundur meski kekuasaannya melebihi anda hari ini,” ujarnya.

Dia menegaskan, jangan korbankan negeri ini demi ambisi pribadi, jangan menunggu rakyat bersama mahasiswa bangkit lagi. Jangan menunggu korban jiwa terus berjatuhan, belum lagi ekonomi akan semakin terpuruk bila aksi kekerasan terus dilanjutkan saat rakyat menyampaikan kehendak.

“Negara ini dibangun dengan damai, dengan intelektualitas, bukan dengan kekerasan,” ujarnya.




Dia mengingatkan, pemerintahan dibawa Jokowi jangan tiran. Sebab, lanjutnya, sehebat apapun pada akhirnya akan jatuh memalukan.

“Jokowi mundurlah, jadikan diri anda sebagai patriot bangsa, negarawan yang siap mundur demi kemaslahatan rakyat Indonesia. Jangan menunggu gerakan massif rakyat yang akan berhadapan dengan TNI/Polri dan korban berjatuhan,” ujarnya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*