Breaking News

Jangan Pertontonkan Keburukan Berargumentasi, Masyarakat Terdidik Protes Perangai Pejabat

Jangan Pertontonkan Keburukan Berargumentasi, Masyarakat Terdidik Protes Perangai Pejabat. Jangan Pertontonkan Keburukan Berargumentasi, Masyarakat Terdidik Protes Perangai Pejabat.

Pejabat publik yang mempertontokan keburukan berbicara dan cara berargumentasi layak dikritisi. Sebab, seringkali kekisruhan malah disebabkan oleh pejabat-pejabat yang mempertunjukkan perangai buruk di depan publik.

Analis Perhimpunan Indonesia Muda, Melkior Wara Mas mengatakan, protes kaum terdidik terhadap perangai pejabat public harus dilakukan. Sebab, jangan sampai pejabat public merasa sesuka hatinya bicara, dan tak menyadari posisi dan kedudukannya sebagai pejabat public.

Pria yang akrab disapa Melki ini menyebut, dinamika diskusi antara politisi PDIP Arteria Dahlan dengan ekonom Emil Salim dalam acara Mata Najwa yang ditayangkan Trans7, Rabu (9/10/2019), menjadi perhatian publik.

Dalam tayangan itu, anggota DPR RI dari PDIP Arteria Dahlan yang hadir sebagai salah seorang narasumber terlihat emosi. Sambil menunjuk-menunjuk bahkan membentak ke arah Emil Salim dan pembicara lainnya Djayadi Hanan dari LSI dan Pengamat Politik Feri Amsari.

“Debat, diskusi, semestinya memberikan edukasi bagi publik. Selain edukasi bersifat pengetahuan, seperti sajian materi berbasis data, argumentasi. Namun edukasi sikap, tata krama atau etika penyampaian yang mengandung norma peradaban, norma kesopanan harus diprioritaskan,” tutur Melki, Minggu (13/10/2019).

Pengamat Kebijakan Publik ini meneruskan, dalam kegiatan debat, diskusi, dialog, sesungguhnya para pembicara atau narasumber, apalagi pejabat public, wajib memahami etika-etika khusus. “Debat harus menjunjung etika dalam bertanya dan berdebat,” katanya.

Ada sejumlah politisi yang sudah menjadi pejabat public, yang tidak menunjukkan etika dan tidak memberikan edukasi dalam penyampaian pendapat atau argumentasi.

Melki menegaskan, pembicara harus memiliki skill pertimbangan mengkomunikasikan argument. Selain keterampilan dalam membuktikan kesalahan dan celah, narasumber juga mesti paham akan prinsip-prinsip dalam penyampaian persuasi. Dan penggunaan argumentasi. Tanpa gerakan tangan yang berlebihan.

“Semestinya pejabat publik mampu mengendalikan emosi. Kematangan emosi menjadi kunci utama untuk memenangkan perdebatan dalam diskusi. Selain kekuatan data, argumentasi,” ujarnya.

Antara kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosi berjalan beriringan. Jika tidak, maka akan terpampang wajah keangkuhan intelektual dan meremehkan pembicara lainnya.

Oleh karena itu, narasumber, pembicara debat, diskusi, baik pejabat publik, politisi, harus paham rumusan dasar berdebat.

“Yang paling penting perlu sikap kerendahan hati, kesederhanaan jiwa, saling menghargai sehingga menjadi panutan atau contoh dalam bersikap, bertuturkata dihadapan public,” katanya.

Demikian juga bagi moderator. Seorang moderator harus lebih tegas. Bila pembicara tidak bisa mengendalikan emosi. Atau malah mengeluarkan sikap dan cara-cara berlebihan. Atau, bersikap diluar norma-norma debat, sebaiknya pembicara yang bersangkutan tidak diberikan kesempatan bicara. “Bila perlu dikeluarkan dari forum diskusi tersebut,” ujar Melki.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*