Breaking News

Jangan Bunuh Perbedaan-Perbedaan, GAMKI DKI Jakarta Ajak Semua Elemen Masyarakat Rayakan Keberagaman

Urban Millennial Christmas Festival (UMCF) DPD GAMKI DKI Jakarta

Jangan Bunuh Perbedaan-Perbedaan, GAMKI DKI Jakarta Ajak Semua Elemen Masyarakat Rayakan Keberagaman di Urban Millennial Christmas Festival (UMCF). Jangan Bunuh Perbedaan-Perbedaan, GAMKI DKI Jakarta Ajak Semua Elemen Masyarakat Rayakan Keberagaman di Urban Millennial Christmas Festival (UMCF).

Kok mendadak perbedaan SARA kian tajam dan terus merebak sejak Pemilu 2019 lalu. Masyarakat Indonesia, seperti dihantui perasaan saling membenci satu dengan yang lain. Padahal, secara sadar, sejak awal berdirinya, bangsa dan Negara Indonesia dilahirkan dari perbedaan-perbedaan.

Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) DKI Jakarta mengingatkan, di awal pergolakan menuju Indonesia merdeka, kaum muda merupakan salah satu kekuatan utama. Yang berada di garda terdepan mempersatukan berbagai suku, agama, ras, antar golongan, dan wilayah yang berbeda-beda menjadi Indonesia.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) DKI Jakarta, Jhon Roy P Siregar, mengajak seluruh elemen pemuda di Jakarta, untuk terus menggalakkan persaudaraan dan persahabatan sebagai sesama anak-anak Bangsa Indonesia.

Jakarta, sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia, tidak bisa tidak, masih menjadi barometer yang memiliki pengaruh besar terhadap berbagai segmen kehidupan Indonesia, hingga ke daerah-daerah lainnya.

“Jangan bunuhi perbedaan-perbedaan kita. Jangan bunuh persaudaraan Indonesia. Sejak awal, bangsa dan Negara ini secara kodrati pun sudah terdiri dari beragam suku, agama, golongan dan bahkan ras. Membunuhi perbedaan-perbedaan ini, sama saja dengan melawan kodrat yang diberikan Illahi. Mari kita jaga dan perkokoh persaudaraan sesama anak-anak negeri, Indonesia,” tutur Jhon Roy P Siregar, di Jakarta, Minggu 25 Agustus 2019.

Dia menegaskan, tidak ada yang salah dengan perbedaan. Dan tidak ada yang perlu dipaksa untuk harus memiliki agama yang sama. Tidak juga harus mengedepankan kesamaan ras, suku, bahasa, dan tata cara berkehidupan maupun bersosial. Semua perbedaan itu adalah hakiki dan indah.

Bhinneka Tunggal Ika, seharusnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Bersatu dalam keberagaman, itulah makna hakiki Bhinneka Tunggal Ika.

Lebih lanjut, Siregar menegaskan, jangan karena ketidakmampuan sebagian kelompok masyarakat menterjemahkan dan mewujudnyatakan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, lantas harus dibunuh dan dihabisi.

Indonesia, tegasnya, seharusnya tidak perlu mengedepankan istilah mayoritas dan minoritas. Sebab, jika mengedepankan mayoritas dan minoritas, maka perbedaan akan dianggap hanya bagai ancaman bagi kehidupan.

Jhon Roy P Siregar menjelaskan, masyarakat Indonesia juga perlu belajar lagi dari nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan, yang dimiliki oleh manusia-manusia lainnya di belahan dunia lain.

Bahkan, sejarah kelam Bangsa Jerman, ketika dipimpin oleh Adolf Hitler, menunjukkan betapa jahatnya watak dan perilaku orang yang mengedepankan superioritas ras, agama ataupun golongan tertentu.

“Pada akhirnya, yang seperti itu hancur lebur. Dan menimbulkan luka yang sangat dalam. Menimbulkan korban nyawa dan korban masa depan manusia,” ujarnya.

Bisa juga belajar dari pengalaman persoalan apartheid di Afrika Selatan. Bagaimana ras tertentu merasa superior dari ras bangsa Afrika. Nelson Mandela dan kawan-kawannya begitu tersiksa. Tidak sedikit yang terbunuh dan dibunuh.

“Itu pun berlalu. Sebab yang lebih hakiki itu bukanlah perbedaan ras, bukan perbedaan agama, bukan perbedaan golongan. Tetapi kemanusiaan. Hanya manusia yang mampu mewujudkan kemanusiaan,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Siregar, jika ada manusia yang sudah melebih-lebihkan batas kemanusiaannya, dan merasa dirinya lebih superior, atau malah ada yang merasa inferior, maka itu pertanda kehancurannya sedang di depan mata.

Lebih lanjut, pria profesional yang pernah digembleng sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ini, mengajak seluruh elemen pemuda, dari berbagai latar belakang, dari berbagai suku, agama, ras dan golongan, maupun berbagai asal daerah, untuk bersatu padu, bergandengan tangan menjaga dan menciptakan kehidupan Jakarta, dan Indonesia, yang harmonis, bersahabat, bergembira dan ceria.

Jhon Roy P Siregar mengatakan, pihaknya tengah mempersiapkan Urban Millennial Christmas Festival (UMCF) sebagai salah satu ajang merayakan keberagaman, menghentikan pembunuhan-pembunuhan perbedaan. Sekaligus menciptakan kesolidan persaudaraan, persahabatan dan kegembiraan di Jakarta.

Urban Millennial Christmas Festival (UMCF) adalah agenda yang kolosal. Melibatkan semua unsur yang ada. Hentikan pembunuhan perbedaan, mari bergandengan tangan sesama anak bangsa Indonesia, untuk Jakarta yang gembira, ceria, dan bahagia,” ujarnya lagi.

Bahkan, jika ada pemaksaan untuk merusak soliditas keberagaman di Indonesia, atas dasar apapun itu, Siregar mengajak semua elemen untuk maju bersama melakukan pencerahan. “Kalau perlu, harus dilawan dengan cara-cara yang elegan,” ujarnya.(Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*