Jangan Biarkan Kejahatan Pebisnis Properti Ngelunjak, Pengembang Nakal Go Hengky Setiawan & Budianto Halim Harus Dihukum Berat

Jangan Biarkan Kejahatan Pebisnis Properti Ngelunjak, Pengembang Nakal Go Hengky Setiawan & Budianto Halim Harus Dihukum Berat.

Aparat penegak hukum diminta segera menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh sejumlah pebisnis property, dengan cara menangkap dan menjerat mereka dengan tindakan hukum yang tegas.

Harapan itu disampaikan oleh Lim Ratna Sari, warga di Jalan Pluit Timur Blok C Timur Nomor 11 RT 11/RW 09, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, yang mengalami kejahatan penipuan oleh pengembang kakap Presiden Direktur PT Binakarya Bangun Property, Go Hengky Setiawan dan Budianto Halim.

Kedua pengembang tajir ini dikenal licin. Mereka berlindung di balik bisnis property lalu mengambil uang konsumen, tanpa bisa membuktikan adanya property yang ditawarkan kepada konsumen.

Kuasa Hukumnya Lim Ratna Sari, Sandi Ebenezer Situngkir memaparkan, Go Hengky Setiawan dan Budianto Halim bukan nama yang baru di dunia kejahatan property di Indonesia. Namun, sering kali lolos dari jeratan hokum.

“Presiden Direktur PT Binakarya Bangun Property, Go Hengky Setiawan dan Direktur PT Binakarya Bangun Property Budianto Halim sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Jakarta Utara. Masyarakat kita membutuhkan aparat hokum yang berani seperti Penyidik di Polres Jakarta Utara itu, agar masyarakat tidak makin banyak yang menjadi korban penipuan atas nama jual beli atau bisnis property,” tutur Sandi Ebenezer Situngkir, di Jakarta, Rabu (27/02/2019).

Dia mengingatkan, kedua pebisnis property hitam itu telah melakukan serangkaian penipuan dan telah melanggar Perlindungan Konsumen.

Go Hengky Setiawan yang merupakan bekas CEO Agung Sedayu Group, juga pernah diperiksa dan dicekal oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena diduga terlibat kasus korupsi bersama Muhamad Nazarudin yang mantan Bendahara DPP Partai Demokrat.

Sepak terjang Go Hengky Kurniawan dan Budianto Halim di PT Binakarya Bangun Propertindo kian menggurita. Perusahaan itu pesat menjadi pengembang besar di Indonesia. “Sahamnya juga sudah masuk Bursa Efek Indonesia,” ujar Sandi Ebenezer.

Oleh karena itu, dia mengatakan, para pengembang nakal seperti Go Hengky Setiawan, Budiman Halim dan kawan-kawannya harus segera ditangkap dan menjalani proses penegakan hukum di Indonesia.

Sepak terjang mereka itu harus dihentikan, lantaran menyelenggarakan bisnis yang merugikan masyarakat dan Negara Indonesia.

Memang, Go Hengky Setiawan dan Budiman Halim sudah ditetapkan sebagai tersangka di Polres Jakarta Utara, atas dugaan pengembangan palsu dan menjual apartemen fiktif di Pluit Sea View, Jakarta Utara.

Namun, Sandi berharap, kejahatan Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya itu diputus. Dan proses hokum yang dilakukan tidak masuk angin.

“Sebagai Kuasa Hukum dari Saudari Lim Ratna Sari, kami mendesak agar para pengembang nakal seperti Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya dihukum berat,” tutur Sandi Ebenezer Situngkir.

Pemilik Kantor Hukum Sesa Law ini menjelaskan, selama ini para mafia property berkedok pengembang masih dibiarkan bebas berkeliaran. Meskipun tidak memiliki izin untuk membangun property di Indonesia, para pengembang nakal seperti Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya itu kerap lolos dari jeratan hukum.

“Mungkin lantaran ada main dengan pihak-pihak tertentu. Padahal, pengusaha nakal seperti ini dengan nyata-nyata melakukan penipuan kepada warga Negara dan kepada Negara. Ini tidak boleh dibiarkan. Aparat penegak hokum kita, harus berani dan tegas memburu dan menindak tegas para pengembang nakal,” ujar Sandi Ebenezer.

Kasus pengembang nakal ini terungkap, ketika Lim Ratna Sari, salah seorang warga di Jalan Pluit Timur Blok C Timur Nomor 11 RT 11/RW 09, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, melaporkan Go Hengky Setiawan ke Polisi, lantaran diduga menjual properti fiktif di Pluit Sea View, Jakarta Utara.

Lim Ratna Sari, melaporkan dugaan penipuan yang dilakukan pengembang PT Binakarya Bangun Propertindo milik Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya.

Dia menjelaskan, Lim Ratna Sari berniat membeli satu unit apartemen di Pluit Sea View Tower Belize A, Lantai 20, Unit 1, Tipe 3 BC, seluas 68.00 M2. Apartemen itu dimiliki dan dipasarkan oleh PT Binakarya Bangun Propertindo, Tbk, yang beralamat di Mall Taman Palem Lantai 3, Cengkareng, Jakarta Barat.

Pada 25 Maret 2012, Lim Ratna Sari melakukan booking fee kepada PT Binakarya Bangun Propertindo sebesar Rp 200 juta. Booking fee itu terkonfirmasi berdasarkan Surat Konfirmasi Unit Nomor 0745 tertanggal 25 Maret 2012 melalui Credit Card BCA Master 2500.

Pada 30 Maret 2012, PT PT Binakarya Bangun Propertindo Group sebagai Pengembang Pluit Sea View menerbitkan kuitansi yang diteken dan disetujui bersama pemesan yakni Lim Ratna Sari dengan penerima pesanan bernama Ridwan, Master Stock Zakiyah dan Zales Andrew.

Harga satu unit apartemen itu adalah Rp 466 juta. Selanjutnya Lin Ratna Sari melakukan angsuran sampai lunas.  Pada 5 Maret 2014, angsuran ke 24 sebagai angsuran terakhir atau pelunasan telah dilakukan lewat Internet Banking pada Bank BCA Nomor Rekening 5910995555 atas nama Binakarya Bangun Property pada BCA.

“Lim Ratna Sari dijanjikan akan menerima kunci apartemen akhir bulan itu. Nah, ternyata unit itu tidak ada. Di cek di Pluit Sea View Tower Belize A, Lantai 20, Unit 1, Tipe 3 BC, seluas 68.00 M2, tidak ada unit seperti itu. Fiktif. Sampai sekarang malah uang Lin Ratna Sari ditahan dan tidak dikembalikan pihak pengembang,” beber Sandi.

Dua tahun laporan Ratna Sari ditangani penyidik Polres Jakarta Utara. Bahkan, dari konfirmasi yang diberikan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemprov DKI Jakarta, diterangkan bahwa izin membangun apartemen oleh PT Binakarya Bangun Propertindo tidak ada.

Dalam surat bernomor 4805/-1.752.13, tertanggal 31 Juli 2017 dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemprov DKI Jakarta, dijelaskan bahwa proses izin mendirikan bangunan dari PT Binakarya Bangun Propertindo untuk bangunan Apartemen Pluit Sea View Tower Belize A yang berlokasi di RW 03, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, tidak ada.

Wakil Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemprov DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto menjelaskan, Proses Izin Mendirikan Bangunan dari PT Binakarya Bangun Propertindo untuk bangunan Apartemen Pluit Sea View Tower Belize A yang berlokasi di RW 03, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemprov DKI Jakarta, belum dapat diproses. “Karena masih terdapat kekuarangan berkas persyaratan,” tuturnya.

Padahal, belum ada izin namun PT Binakarya Bangun Propertindo sudah sepihak membangun Apartemen Pluit Sea View Tower Belize A. Pihak pengembang  Apartemen Pluit Sea View Tower Belize A yakni PT Binakarya Bangun Propertindo dilaporkan dan diancam dengan pidana pasal 372 KUHP, Pasal 378 KUHP dan Pasal 62 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan