Breaking News

Jangan Anggap Remeh Hobi, Usaha Ikan Cupang Menghasilkan Uang

Yogi Armada Putra, Pengusaha Cilik Ikan Cupang

Yogi Armada Putra, Pengusaha Cilik Ikan Cupang: Jangan Anggap Remeh Hobi, Usaha Ikan Cupang Menghasilkan Uang.

Usaha Ikan Cupang ternyata tak boleh dipandang sebelah mata. Selain mendapatkan uang untuk membantu biaya pendidikan atau untuk membeli kebutuhan sehari-hari, usaha yang tadinya dianggap iseng ini ternyata mampu menciptakan kemandirian ekonomi.

Hal itulah yang dialami Yogi Armada Putra. Siswa SMA Negeri 3 Surabaya ini sudah satu tahun lebih menyeriusi usaha ikan cupang di Surabaya.

Awalnya, Yogi tertarik dengan ikan cupang sebagai hiburan atau permainan anak kecil saja. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Yogi mengaku sudah tertarik dengan Ikan Cupang.

“Tak jauh berbeda dengan teman-teman saya SD, waktu itu Ikan Cupang menarik sebagai hiburan dan main-mainan anak-anak kecil saja. Sejak SD saya tertarik melihat-lihat Ikan Cupang,” tutur Yogi, Rabu (31/10/2018).

Pria kelahiran Surabaya, 25 Agustus 2001 ini semakin mendalami Ikan Cupang dikarenakan dia banyak melihat dan bergaul dengan sesama pecinta Ikan Cupang. Selain mendapatkan banyak teman dari berbagai latar belakang dan karakter, ternyata usaha Ikan Cupang ini cukup bagus untuk menghasilkan uang yang tidak kecil.

Awalnya, Yogi menganggap usha ini sebagai hobi biasa. “Tidak ada pikiran untuk usaha ikan cupang karena saya tidak mempunyai ilmunya. Hingga pada akhirnya saya mulai belajar melalui gadget sampai ke buku pun saya baca, semua tetang ikan cupang saya pelajari,” tuturnya.

Di rumah orang tuanya, Yogi ada tempat sederhana untuk memelihara ikan cupang. Dia memulai usaha kecil-kecilan ini sejak Kelas 3 SMP. “Waktu itu saya hanya bisa mengandalkan uang saku saya yang saya tabung. Uang itu saya pakai untuk membeli indukan ikan cupang yang akan saya budidayakan,” jelasnya.

Meski tidak serius dilakoni, awalnya Yogi menganggap usaha Ikan Cupang bukanlah sebuah pekerjaan, tetapi hanya sebagai hobi saja. Ternyata, hobi itulah yang membuatnya semakin suka dan mendalami usaha itu.

“Ini hobi yang menguntungkan. Bukankah pekerjaan akan terasa indah karena juga sebagai hobi yang kita senangi? Kita akan lebih bersemangat dan lebih bahagia jika hobi ternyata jadi pekerjaan yang kita lakoni,” ujarnya.

Saat memulai usaha ini, Yogi sama sekali tidak mendapat support yang memadai.  Semua dilakukannya sendiri. “Tidak ada yang menyokong saya memulai usaha ini. Semua dari diri saya sendiri, karena keluarga saya juga sebelumnya enggak ada hubungan dengan perikanan. Apalagi hanya ikan cupang. Jadi semua saya lakukan sendiri. Orang tua, keluarga dan Bapak dan Ibu Guru juga sih sering order ke saya,” ujarnya.

Bahkan, respon awal teman-temannya sangat remeh dengan usaha ini. Yogi mengaku, teman-temannya juga berpikir bahwa usaha ikan cupang itu ya seperti yang sering mereka main-mainkan sewaktu SD.

“Usaha saya awalnya dianggap remeh sih. Karena mungkin mereka berfikir yang saya jual ini ya seperti yang sering mereka lihat ketika kami SD. Ngelapak begitu aja,  padahal tidak, saya jual online,” ujarnya.

Awalnya, dari keluarganya pun beranggapan tak berbeda dengan teman-temannya. “Bagi mereka ini usaha yang iseng dan mustahil bisa menghasilkan uang. Tetpi ketika saya mendapat orderan pertama kali, semua teman saya kaget. Karena kualitas ikan cupang yang saya jual yaitu jenis kualitas yang belum pernah dimiliki atau dilihat oleh teman dan keluarga saya,” jelasnya.

Akhirnya, kini semua anggapan remeh, bahkan pernah dijadikan bahan lelucon semata,  dan dikata-katain aneh-aneh kepada dirinya itu sirna. Yogi terus bersemangat dan memiliki keyakinan, serta membuktikan bahwa usahanya itu bukan usaha asal-asalan.

“Saya bisa membuktikan dan membuktikan kepada teman-teman  yang menganggap remeh dulu, hingga ada dimana waktunya mereka diam dan malu. Karena usaha saya semakin maju dan berkembang. Mereka akhirnya juga tahu bahwa usaha saya ini, khususnya ikan cupang, adalah jenis yang berkualitas yang belum pernah dilihat oleh mereka semua sebelumnya,” tuturnya.

Sudah setahun penuh Yogi menyeriusi usaha ini. Dia mengaku masih terus menggali pengetahuan tentang Ikan Cupang.

“Selama 1 tahun saya masih terus mengalami naik turun usaha saya ini. Dan masih terus menggali tentang percupangan,  di Surabaya khususnya,” katanya.

Secara materi, dia mengatakan, dia memiliki cukup uang untuk membeli apa saja yang dia mau. “Secara material ya Alhamdulillah saya bisa setiap kali ingin beli sesuatu kebutuhan pribadi saya atau keluarga saya, ya kalau mampu saya lakukan. Jadi udah tidak minta uang jajan dari orang tua lagi,” ujarnya.

Dan pengalaman lainnya yang berkesan selama menekuni usaha ikan cupang ini, diterangkanYogi, adalah pengalaman bersosial.

“Ya itu secara non material yang paling berharga, saya sudah mengenalkan diri saya kepada lingkungan masyarakat. Bergaul dengan semua etnis di komunitas, dan setidaknya saya juga bisa mengenal sifat dan karakter manusia di masyarakat. Termasuk mengerti bagaimana susahnya mencari penghasilan yang dirasakan orang tua saya, itu sudah saya rasakan sekarang,” tuturnya.

Yogi juga bergabung dalam sebuah Komunitas Ikan Cupang di Surabaya. Selama ini, menurut Yogi, masyarakat umum hanya mengenal beberapa jenis Ikan Cupang saja, seperti plakat, half moon dan serit.

“Secara umum mungkin mereka tahunya plakat,half moon dan serit. Dan, di jenis itu masih dibagi kelas jenis-jenis tertentu, contoh plakat fancy, serit super red dan halfmoon marble, yang secara khusus orang awam belum begitu tahu dan belum begitu mengenalnya,” jelas Yogi.

Sehari-harinya, Yogi tetap ke sekolah, dan waktu pulang sekolah dipergunakannya untuk mengembangkan usaha ikan cupang. Dia berharap, kemandirian ini bisa menjadi contoh yang baik bagi teman-temannya yang lain.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*