Breaking News

Jaksa Penjarakan Jaksa

Rebutan Urusan Penjualan Barang Bukti Kasus BLBI

Rebutan Urusan Penjualan Barang Bukti Kasus BLBI, Jaksa Penjarakan Jaksa.

Penyidik pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Jampidsus Kejagung) menahan dua orang jaksa atas dugaan menjual barang bukti berupa penjualan aset terpidana korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Hendra Rahardja.

Ketua Jaksa yang ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan itu adalah mantan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Maluku, Chuck Suryosumpeno dan seorang jaksa fungsional bernama Ngalimun. Keduanya ditahan pada Rabu sore (14/11/2018).

Dengan mengenakan rompi tahanan, Chuck Suryosumpeno dan Ngalimun tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka langsung digelandang dengan mobil tahanan menuju rutan.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) M Adi Toegarisman menyampaikan, penahanan dilakukan penyidik setelah memeriksa Chuck sebagai tersangka dugaan korupsi penyalagunaan kewenangan dalam penyelesaian aset milik terpidana Hendra Rahardja dalam perkara korupsi pengemplang BLBI berkaitan Bank Harapan Sentosa (BHS).

“Berdasarkan pertimbangan dari tim penyidik, maka dilakukan penahanan terhadap Chuck dalam kapasitas Ketua Satgasus Barang Rampasan dan Sita Eksekusi,” ujar M Adi Toegarisman di Kejagung, Rabu (14/11/2018).

Mantan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejagung ini melanjutkan, penetapan status tersangka terhadap Chuck dilakukan lantaran adanya dua alat bukti permulaan yang cukup.

“Jadi Tolong jangan dibuat bombastis. Saya bukan menahan jabatan seseorang. Ini murni penegakan hukum,” ujarnya.

Selain menahan Chuck, tim penyidik pula menahan tersangka Ngalimun, yang juga seorang jaksa. Bedanya, Chuck ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung sedangkan Ngalimun ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan.

Selain Chuck, penyidik menjadwalkan pemeriksaan terhadap dua tersangka lainnya yakni Albertus Sugeng Mulyanto (pengusaha) dan Zainal Abidin (Notaris). Namun keduanya belum bersedia memenuhi panggilan.

Seperti diketahui, kasusnya berawal pada tahun 2012 Hendra Rahardja diputus bersalah melakukan tindak pidana korupsi berdasarkan putusangan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dengan hukuman seumur hidup dan membayar uang pengganti Rp1,950 triliun.

Dalam rangka melaksanakan eksekusi putusan tersebut, tersangka CS (Chuck Suryosumpeno), selaku Ketua Pelaksanaan Satgasus barang rampasan dan barang sita eksekusi berdasarkan Keputusan Jaksa Agung RI Nomor : KEP-X-22/C/03/2011 tentang tugas pokok Satgasus barang rampasan dan barang sita eksekusi.

Namun berjalannya waktu ditemuakan yangbersangkutan dengan sengaja tidak melaksnakan tugas dan wewenang yakni tidak melaksanakan sita eksekusi dan lelang atas tanah milik terpidana Hendra Rahardja yang terletak di Jatinegara Jakarta Timur.

Melainkan melakukan proses persetujuan yang bersifat melepas aset dengan cara yang beretentangan dengan tugas dan wewenangnya dan juga bertentangan dengan sistem eksekusi dalam hukum pidana yaitu menyetujui penjualan aset terpidana Hendra Rahardja diluar putusan Pengadilan.

Sebelum memberikan persetujuan, CS mengadakan pertemuan dengan pihak-pihak terkait di Hotel A, yang pada pokoknya CS menyetujui tanah aquo untuk dijual tanpa melalui proses pelelangan.

Setelah memberikan persetujuam, CS bertemua dengan pihak terkait yang mengkalim sebagai ahli waris terpidana yang menanyakan proses jual beli tanah a quo yang melibatkan pihak luar dan dijawab oleh CS.

Atas persetujuan penjualan tersebut, terjadi jual beli tanah milik terpidana sebesar Rp 12 miliar dengan pembayaran dulakukan sebanyak dua tahap, namun yang disetorkan ke kas negara sebesar Rp 2 miliar.

Berdasarkan perhitungan penilaian publik Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Kampianus Roman, nilai pasar tanah yang terletak di Jatinegara Indah milik terpidana pada tahun 2010 ketika dilakukan penjualan sebesar Rp 34,597 miliar. Akibatnya negara diduga mengalami rugi Rp 32,597 miliar.

Sementara itu, Retno Kusuma Astuti yang adalah isteri Chuck Suryosumpeno mengatakan, suaminya tidak pernah terbukti memakan uang dari penjualan aset terpidana kasus BLBI yang dituduhkan itu.

Retno yang mendampingi suaminya dalam pemeriksaan di Gedung Bundar Kejaksaan Agung itu mengatakan, pihaknya menerima proses yang dilakukan penyidik, namun akan berjuang mengungkapkan kebenaran.

“Benar telah diadakan penahanan terhadap suami saya. Dari mulai proses penyelidikan hingga penyidikan yang telah berlangsung selama tiga setengah tahun, menurut kami, sama sekali tidak ada bukti yang saha,” ujar Astuti penuh haru.

Dia pun meminta dukungan doa agar dia dan suaminya kuat menghadapi persoalan ini. “Kami menerima semua proses penyidikan ini, kami mohon doa agar kami kuat. Kami akan terus berjuang menegakkan kebenaran,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah suaminya telah dikriminalisasi? Astuti menggelengkan kepala seraya menyarankan menanyakan saja kepada para penyidik dan pimpinan Kejaksaan yang menahan suaminya.

“Saya jamin 1000 persen dia tidak terima uang sepeserpun dalam kasus ini. Tanyakan sendiri kepada yang menahan,” tutupnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*