Jaksa dan Tahanan Positif Kena Virus Corona, Burhanuddin Perintahkan Seluruh Jajaran Mendata dan Laporkan Anggotanya

Ada Jaksa dan Tahanan Jaksa Kena Virus Corona

Jaksa dan Tahanan Positif Kena Virus Corona, Jaksa Agung RI ST Burhanuddin Perintahkan Seluruh Jajaran Mendata dan Laporkan Anggotanya. Foto: Jaksa di Kejari Bantul, Yogyakarta, dirawat karena terkena virus corona. (Istimewa).
Jaksa dan Tahanan Positif Kena Virus Corona, Jaksa Agung RI ST Burhanuddin Perintahkan Seluruh Jajaran Mendata dan Laporkan Anggotanya. Foto: Jaksa di Kejari Bantul, Yogyakarta, dirawat karena terkena virus corona. (Istimewa).

Jaksa Agung Republik Indonesia Sanitiar Burhanuddin telah memerintahkan seluruh jajarannya untuk segera mendata dan melaporkan anggotanya yang terkena pandemic virus corona.

Hal itu ditegaskan Burhanuddin menyusul adanya salah seorang Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) yang positif terpapar virus corona.

“Semua langkah untuk pencegahan dan menangani penyebaran virus corona sudah saya perintahkan untuk segera dilaksanakan,” tutur Jaksa Agung ST Burhanuddin, Senin malam (23/03/2020).

Mantan Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (JAM Datun) itu juga menegaskan, dirinya sudah meminta semua jajaran Kejaksaan untuk segera mendata dan melaporkan jika ada anggotanya yang terpapar virus corona.

“Kita telah minta, para Jaksa Agung Muda (JAM), Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Kabandiklat), Para Kepala Kejaksaan Tinggi, Para Kepala Kejaksaan Negeri, para Kepala Kejaksaan Cabang Negeri, untuk mendata dan melaporkan anggotanya yang sakit akibat Covid-19. Dan kami sudah perintahkan dilakukan upaya penanggulangan lainnya,” tutur Burhanuddin.

Sedangkan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona, pada Senin, 16 Maret 2020, Jaksa Agung Burhanuddin menyampaikan, telah menerbitkan Surat Edaran Jaksa Agung (SEJA) Nomor 02 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Pegawai Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Coronavirus Disease (Covid 19) di Lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia.

Surat Edaran itu pada pokoknya memungkinkan sebagian pegawai di lingkungan Kejaksaan RI bekerja dari rumah (Work From Home) sebagai tindak lanjut Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (Menpan dan RB) Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aapatur Sipil Negara Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran COVID 19 di Lingkungan Instansi Pemerintah.

Berdasarkan SEJA Nomor 02 Tahun 2020 tersebut sebagian pegawai di lingkungan Kejaksaan RI dapat bekerja dari rumah dan tidak diwajibkan bekerja di kantor serta dibebaskan dari absen kehadiran di kantor.

Kecuali untuk pejabat struktural tetap melaksanakan tugas dan fungsinya di kantor untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan sebaik-baiknya.

Para pejabat struktural yang dimaksud di Kejaksaan Agung itu adalah untuk Pejabat Eselon I, Eselon II dan Eselon III. Di Kejaksaan Tinggi untuk Pejabat Eselon II, Eselon III dan Eselon IV dan di Kejaksaan Negeri untuk Pejabat Eselon III, Pejabat Eselon IV dan Eselon V.

Menurut Jaksa Agung Burhanuddin, bagi pegawai yang dimungkinkan bekerja dari rumah harus tetap berada di tempat tinggalnya masing-masing, kecuali dalam kondisi mendesak untuk keperluan memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan dengan terlebih dahulu melaporkan kepada atasan masing-masing.

Jaksa Agung  juga berpesan agar para pegawai yang dimungkinkan bekerja dari rumah agar tetap di rumah. Jika pada saat dilakukan kontrol oleh atasan langsung tidak ada di rumah atau justru digunakan untuk jalan jalan atau berlibur, maka yang bersangutan diwajibkan kembali untuk masuk kerja di kantor seperti biasa.

“Bagi pegawai yang bekerja dari rumah juga dibebaskan dari absen secara elektronik, sedangkan tunjangan kinerja dan hak-hak kepegawaian lainnnya tetap dipenuhi sebagaimana mestinya,” tutur Burhanuddin.

Terkait kondisi Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bantul, di Yogkarta, yang terkena virus corona, Jaksa Agung ST Burhanuddin menyampaikan, pihaknya memantau dan melakukan upaya cepat.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Penularan Infeksi virus corona atau Covid-19 Bantul , Sri Wahyu Joko Santoso menyebut pasien positif COVID-19 yang dirawat di RS Panembahan Senopati (RSPS) Bantul adalah pejabat tertinggi di Kejaksaan Negeri (Kejari) Bantul.

“Untuk Kajari Bantul yang didiagnosa positif virus corona, kini kondisinya kian membaik,” ujarnya.

Tugas-tugas Jaksa seperti proses penyelidikan, penyidikan dan penuntutan, menurut Burhanuddin, hendaknya tetap dilaksanakan tanpa terganggu.

“Jadi, saya minta para pimpinan Unit Kerja yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan unit kerjanya,” tutur Burhanuddin.

Sebelumnya, Jurubicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Penularan Infeksi virus corona atau Covid-19 Bantul , Sri Wahyu Joko Santoso membenarkan adanya Kajari di Bantul yang positif kena virus corona.

“Beliau (pasien positif COVID-19 yang dirawat di RSPS) adalah pejabat tertinggi di Kejaksaan di Bantul. Iya tahu sendiri kan, kalau pejabat tertinggi (di Kejari Bantul) itu siapa,” ucapnya, Minggu (22/3/2020).

Namun demikian Sri Wahyu menegaskan bahwa kondisi pasien tersebut berangsur membaik. “Baik, kondisinya saat ini sudah membaik,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DIY, Masyhudi juga menyampaikan, kondisi Kajari Bantul sudah membaik.

“Kondisinya sudah membaik, dia bilang tidak ada keluhan,” ujarnya.

Orang-orang yang berkontak langsung dengan pasien juga telah menjalani pemeriksaan dan hasilnya tidak ada yang mengeluhkan sakit. Selain itu, Kejati DIY telah memberlakukan sistem work from home kepada seluruh pegawainya.

“Yang menjenguk (Kajari Bantul) sudah diperiksakan dan hasilnya tidak ada yang mengeluhkan sakit (ada gejala COVID-19). Mereka juga sudah diisolasi secara mandiri,” ujar Masyhudi.

Bupati Bantul, Suharsono, termasuk yang menjenguk itu. Kini Suharsono harus menjalani isolasi. Melalui akun Facebook, Suharsono memberi pernyataan bahwa ia memang sempat menjenguk Kajari saat dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Bantul, sebelum pasien tersebut dipindahkan ke RS Panembahan Senopati karena dinyatakan positif Corona.

“Perlu saya sampaikan bahwa saya dalam kondisi sehat wal afiat. Memang beberapa waktu lalu saya membesuk ASN yang sekarang dinyatakan positif Corona,” demikian disampaikan Suharsono dalam akun Facebook miliknya.

Di Medan, Sumatera Utara (Sumut) berbeda lagi. Kali ini tahanan jaksa yang hendak melakukan persidangan yang diketahui terpapar virus corona.

Satu orang tahanan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) tidak diperbolehkan bersidang di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (18/03/2020).

Tahanan itu segera dilarikan ke Rumah Sakit Adam Malik Medan, untuk dilakukan penanganan segera. Jaksa AH Harahap yang menjadi JPU di PN Medan mengatakan, seluruh pejabat Kejatisu segera menangani persoalan ini.

“Tadi, satu orang tahanan yang dibawa hendak bersidang di PN Medan diduga kena virus corona. Diperiksa dan sudah dilarikan ke Rumah Sakit Adam Malik,” tutur Harahap yang mengawal tahanan ke persidangan.

Menurutnya, sempat terjadi kepanikan di PN Medan, ketika tahanan yang terindikasi positif terpapar virus corona itu.

“Keluarganya marah-marah di Pengadilan, karena tak bisa masuk ke persidangan. Ya dilarang petugas. Emangnya kita mau paksakan semua jadi mati kena virus corona,” jelasnya.

Tahanan yang didugga terpapar virus corona itu sedang berkasus Pidana Umum. “Semua tim sudah turun tangan. Pihak Rumah Sakit Adam Malik juga tadi langsung menangani. Langsung dibawa,” ungkap Harahap.

Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Wakajatisu) Sumardi mengatakan, semua jajarannya siaga dan melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran virus corona.

“Tetap siaga. Tetap jaga kesehatan. Ikuti prosedur, jalankan instruksi Jaksa Agung dan Kajati Sumut. Lakukan langkah nyata pencegahan penyebaran virus corona,” tandas Sumardi.

Di Rumah Sakit Adam Malik Medan, Sumut, sejak Rabu pagi, 18 Maret 2020, telah santer informasi mengenai meninggalnya satu orang dokter yang diduga kuat akibat kena serangan virus corona.

Sumut, kini siaga menghadapi penyebaran virus mematikan ini. Gubernur Sumut Edy Rahmayadi telah mengintruksikan agar seluruh sekolah diliburkan selama 2 minggu di Sumut. Untuk mencegah penyebaran virus corona itu.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*