Jadi Terpidana Korupsi Perbankan di Daerah, Jaksa Berhasil Menangkap Buronan di Wajo

Jadi Terpidana Korupsi Perbankan di Daerah, Jaksa Berhasil Menangkap Buronan di Wajo.
Jadi Terpidana Korupsi Perbankan di Daerah, Jaksa Berhasil Menangkap Buronan di Wajo.

Tim Jaksa dari Kejaksaan Negeri Sengkang, di Wajo, Sulawesi Selatan berhasil menangkap dan mengamankan buronan terpidana kasus korupsi perbankan bernama Muhammad Arfah.

Penangkapan berlangsung pada Jumat, 21 Juni 2019. Muhammad Arfah terjerat kasus pidan perbankan dalam kurun waktu tahun 2009-2010, di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Handayani Cipta Sejahtera Siwa, Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.





Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Mukri menerangkan, Muhammad Arfah terjerat pidana ketika dia menjabat sebagai Direktur Utama BPR Handayni Cipta Sejahtera Siwa bersama dengan Komisaris PT Bank Handayani Cipta Sejahtera, karena tidak melakukan langkah-langkah yang diperlukan  memastikan ketaatan Bank terhadap ketentuan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas  Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi Bank, tentang tindak lanjut penanganan Bank Perkreditan Rakyat dalam status Pengawasan Khusus.

“Akibat dari ketidaktaatan terhadap aturan perbankan tersebut, khususnya dalam penanganan Bank BPR yang berstatus Pengawasan Khusus, menyebabkan kerugian sebesar Rp 5 miliar  yang harus dibayar oleh terpidana,” terang Mukri, dalam siaran persnya, Minggu (23/06/2019).





Kualifikasi perbuatan terpidana didasarkan pada ketentuan pasal 49 ayat 2 huruf  b Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun tahun 1992 tentang Perbankan junto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sesuai putusan incraht Mahkamah Agung Nomor : 196K / PID.SUS / 2017 tanggal 20 November 2017 yang diterima Jaksa Penuntut Umum pada tanggal 27 November 2018, JPU melakukan pemanggilan terhadap terpidana Muhammad Arfah secara patut sebanyak 3 kali untuk dilakukan eksekusi, yakni pada tanggal 07 Februari 2019, tanggal 05 Maret 2019, dan tanggal 31 Mei 2019.





“Namun terpidana tidak muncul dan maah menghilang. Sehingga status terpidana tersebut dinyatakan buron atau DPO oleh Tim Jaksa Kejari Sengkang di Wajo, Sulawesi Selatan,” ujar Mukri.

Tertangkapnya Buron (DPO) terpidana tersebut, berdasarkan pencarian informasi yang cukup lama oleh Tim Intelijen Kejari Sengkang bersama Tim Intelijen Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

 

Muhammad Arfah didapati keberadaannya sedang bersembunyi di daerah Kabupaten Bone. “Selanjutnya diambil tindakan pengamanan dan langsung dilakukan eksekusi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Makassar untuk menjalani hukuman,” ujar Mukri.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*