Jadi Terlapor Dugaan Pemerasan dan Rekayasa Kasus Narkoba, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik Lempar Urusan ke Kapolres dan Jaksa

Jadi Terlapor Dugaan Pemerasan dan Rekayasa Kasus Narkoba, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik Lempar Urusan ke Kapolres dan Jaksa.

Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik menyerahkan urusan laporan dugaan pemerasan dan rekayasan kasus narkoba di Mapolres Nias kepada Jaksa dan Kapolres Nias.

Pria yang mengaku belum lama bertugas sebagai Kasat Resnarkoba di Polres Nias itu dilaporkan ke Divisi Propam Mabes Polri oleh dua orang ibu bernama Venny Gan dan Meriani Zendrato, yang merupakan keluarga korban pemerasan dan rekayasa. Dengan didampingi Kuasa Hukum Itamari Lase, pelaporan telah dilakukan pada Kamis (04/04/2019), di Jalan Trunojaya, Jakarta Selatan.

“Bukan saya tidak mau menjawab. Kebetulan saya masih baru di Polres Nias ini. Dan SOP di sini, semua yang menjelaskan harus dari Humas. Silakan hubungi Humas Polres Nias saja,” tutur Iptu Martua Manik.

Menurut Iptu Martua Manik, dirinya tidak diperkenankan bicara dan menyampaikan apa saja yang telah dilakukannya selama proses penggeledahan hingga proses dinyatakannya lengkap berkas atau P21 atas nama tersangka Stevenson yang merupakan suami dari Meriani Zendrato dan Djoniso alias Koban yang merupakan suami Venny Gan. Keduanya adalah pelapor di Mabes Polri.

“Kita kedepankan aja hukum. Silakan diikuti bagaimana nanti putusan sidang dugaan narkotikanya. Mari kita hargai hukum dan jangan hanya mendengarkan sepihak saja,” ujar Iptu Martua Manik.

Sebagai Kasat Resnarkoba Polres Nias yang langsung memimpin penggeledahan dan dugaan pemerasan uang sebesar Rp 500 juta kepada Meriani Zendrato, agar Stevenson dilepaskan dari jeratan dugaan kasus narkoba itu, Iptu Martua Manik berkelit bahwa semua sudah di bawah kendali Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan. “Pimpinan kami (Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan) sudah menjawab,” ujar Martua Manik singkat.

Ditanyakan mengenai adanya alat bukti berupa narkoba dari rumah Stevenson dan Djoniso ketika melakukan penggeledahan tengah malam dan penangkapan tanpa Surat Tugas dan Surat Perintah kepada kedua orang itu, Iptu Martua Manik mengatakan bahwa Jaksa sebagai Penuntut Umum sudah menyatakan berkasnya P21.

“Supaya tidak sepihak, silakan ke pihak kejaksaan, apakah alat bukti dalam perkara itu cukup. Sementara Jaksa membuat P21 karena alat buktinya cukup. Dan, pimpinan kami (Kapolres Nias) sudah menjawab,” ujarnya lagi.

Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Kejaksaan Negeri Gunungsitoli Nias, Fatizaro Zai menegaskan, pihaknya hanya mengikuti prosedur yang berlaku, dengan adanya kepastian barang bukti dalam membuat suatu berkas perkara bisa dinyatakan lengkap atau P21.

“Kejaksaan menangani suatu perkara pasti sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Fatizaro Zai.

Jaksa juga tidak memberikan keterangan bukti apa yang dimilikinya sehingga berkas itu layak dijadikan P21.

Venny Gan, isteri dari Djoniso, salah seorang korban dugaan pemerasan dan rekayasa kasus narkoba di Nias, menegaskan, tidak ada bukti yang dimiliki polisi untuk menetapkan suaminya sebagai tersangka dalam dugaan rekayasan kasus narkoba itu.

Selain dia sendiri menyaksikan langsung penggeledahan yang dilakukan para anggota polisi dari Resnarkoba Polres Nias, pada tengah malam jelang subuh 6 Februari 2019 di rumahnya, Venny juga memastikan kepada suaminya Djoniso mengenai narkoba yang dituduhkan itu.

“Tidak ada narkoba. Suami saya juga mengatakan tidak pakai,” ujar Venny Gan.

Venny Gan menuding Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan telah menyampaikan informasi sesat penuh kebohongan dan hoax saat menggelar konperensi pers di Kantor Kapolres Nias, pada Sabtu (06/04/2019) lalu.

Konperensi pers itu digelar jajaran Polres Nias untuk meresponi adanya laporan yang dilakukan keluarga terdakwa kasus penggunaan narkoba yang tidak dilakukan Djoniso dan Setevenson, ke Mabes Polri di Jakarta.

Venny Gan mengungkapkan, keterangan yang dilakukan Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan dan jajarannya itu, sarat dengan informasi sesat, memihak kepada anggota Polres Nias yang dilaporkan melakukan pemerasan kepada suaminya dan keluarganya.

Selain itu, menurutnya, informasi yang disampaikan Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan itu sarat dengan rekayasa.

“Bagaimana masyarakat akan percaya kepada aparat kepolisian dan aparat penegak hukum kita, jika sekelas Kapolres Nias saja pun sudah begitu berani dan lantang menyampaikan kebohongan dan rekayasa dalam konperensi persnya. Semua yang disampaikan Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan dan jajarannya di konperensi pers pada Sabtu, 06 April 2019 di Kantor Polres Nias itu adalah bohong dan hoax. Penuh rekayasa,” beber Venny Gan.

Venny Gan mengungkapkan, suaminya Djoniso alias Koban, tidak pernah menggunakan narkoba sebagaimana dipaksakan oleh Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan.

Venny Gan menegaskan, informasi yang sebenarnya yang dialaminya dan suaminya ketika sekitar 5 orang anggota Resnarkoba Polres Nias mendatangi rumahnya di Jalan Diponegoro 432, Miga, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Hari itu tepat pada 6 Februari 2019, sekitar pukul 01.30 WIB, subuh, rumahnya digeledah dan tidak ditemukan adanya secuilpunbarang bukti yang dituduhkan sebagai narkoba. Setelah puas melakukan penggeledahan, lanjut Venny Gan, suaminya Djoniso alias Koban langsung dibawa aparat dari Satresnarkona Polres Nias ke Kantor Polres Nias.

“Mereka datang tanpa bisa menunjukkan adanya Surat Perintah Penggeledahan, tidak ada juga Surat Perintah Penangkapan. Ada satu orang anggota Satresnarkoba bernama Simbolon. Dia menitipkan nomor telepon, jika ingin mengetahui keberadaan suamiku akan bisa dihubungi di nomor itu,” ungkapnya.

Venny Gan sangat menyesalkan perilaku aparat dari Polres Nias yang brutal dan membabibuta itu. Menurut dia, di saat semua orang sedang beristirahat, anggota Satresnarkoba Polres Nias mendatangi rumahnya dan menggedor-gedor, sehingga membangunkan semua penghuni rumah, termasuk anak-anak mereka.

“Saya kaget dan takut. Polisinya bilang ke saya, jangan bersuara keras, jangan ribut, dimana suamimu? Saya katakan lagi tidur di kamar. Segera bangunkan. Saya bangunkan suami saya. Suami saya pun bingung ada apa Polisi mendatangi rumah kami lewat tengah malam begitu. Setelah digeledah, suami saya pun mereka bawa ke kantor polisi. Kok kami diperlakukan bagai teroris? Kok mereka sudah seperti G 30 S PKI?” tutur Venny Gan.

Setelah hari terang, Venny Gan mendatangi Kantor Polisi Polres Nias, untuk mengetahui dan membesuk suaminya. Itu sudah sekitar 12 jam sejak pencidukan di rumahnya. Venny Gan ditelantarkan di kantor Polisi dan tidak diijinkan membesuk suaminya.

“Alasan anggota Polisi yang sedang jaga, untuk besuk harus ada ijin dan perintah dari Kasatnya. Setelah saya telepon ke nomor yang diberikan Simbolon, dikatakan Kasat sudah kasih ijin, dan saya diperbolehkan bertemu sebentar dengan suami saya,” tutur Venny Gan.

Dalam pertemuan yang hanya beberapa menit itu, Venny Gan menerangkan, suaminya mengaku kondisinya baik-baik saja. Dan tidak ada narkoba yang dijadikan barang bukti, sebab memang tidak memakai dan tidak menyimpan narkoba.

“Namun, suami saya mengatakan, dirinya dibangunkan saat di ruangan sekitar tempat kerja Kasat, dan disodorkan selembar kertas untuk diteken. Kata polisinya, teken saja, supaya cepat proses administrasi dan supaya bisa cepat dikeluarkan dari kantor polisi. Entah surat apa yang diteken itu, mungkin itu semacam BAP (Berita Acara Pemeriksaan), entah apa isinya, suamiku pun tak tahu,” beber Venny Gan lagi.

Menurut Venny Gan, peristiwa itu jelas dan dialami langsung oleh dirinya dan suaminya. Hal itu berbeda dengan dugaan rekayasa dan informasi sesat serta hoax  yang disampaikan oleh Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan dan jajarannya yang menggelar konperensi pers, pada Sabtu, 06 April 2019, di Mapolres Nias.

Selain itu, Venny Gan juga mengungkapkan, ada sejumlah informasi bohong dan penuh rekayasa lainnya yang dilakukan Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan. Yaitu, keterangan yang menyebutkan bahwa Djoniso alias Koban, ditangkap bersama dua orang lainnya berinisial K dan SN beserta isterinya, pada pukul 19.30 WIB, di sebuah Kompleks Perumahan Bank Sumut.

“Tentulah itu bohong. Sebab, suamiku dibawa dari rumah tengah malam jelang subuh kok. Dan rumah kami digeledah, tidak ada narkoba. Penggeledahan dan penangkapan suamiku dari rumah pun tanpa Surat Perintah Penggeledahan dan tanpa Surat Perintah Penangkapan. Apakah begini kinerja Polisi kita?” ujarnya.

Yang paling aneh lagi, lanjut Venny Gan, Surat Penangkapan terhadap suaminya diberikan polisi pada 8 Februari 2019, dengan isinya menyebutkan pasal narkoba.

“Saya protes, saya tidak akan menerima dan tidak mau teken. Tetapi saya dipaksa teken, alasan polisinya, itu hanya administrative saja. Supaya cepat urusannya selesai dan suamiku bisa segera dikeluarkan dari kantor polisi,” ungkapnya.

Masih melakukan hal yang sama, pada saat menerima Surat Pemberitahuan Perpanjangan Masa Penahanan suaminya, pada 27 Februari 2019, untuk perpanjangan masa penahanan 40 hari, yang dikeluarkan Jaksa, Venny Gan juga masih protes mengenai pasal yang dikenakan.

“Saya juga masih protes. Karena saya baca di surat itu, terkait kasus narkoba. Saya tidak terima. Kok dipaksakan begitu,” ujar Venny Gan.

Kemudian, Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan mengumumkan dalam konperensi persnya, bahwa ada Barang Bukti (BB) Narkoba sebanyak 0,30 gram, adalah bagian dari rekayasa polisi untuk menjerat suaminya dan keluarganya. “Itu tidak benar. Tidak ada narkoba di suamiku,” ujarnya.

Dugaan rekayasa kian tersistematis dirasakan Venny Gan, lantaran Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan juga menyampaikan, ada pihak keluarga terdakwa yang datang mengajukan penangguhan penahanan ke penyidik pada saat proses penangkapan.

“Ini anggota keluarga siapa lagi? Saya tidak pernah datang meminta penangguhan penahanan. Dan kami tidak pernah meminta itu, sebab suamiku tidak bersalah, dan kami adalah korban dari rekayasa yang dilakukan Polisi,” ujarnya.

Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan dan jajarannya serta aparat penegak hukum di Nias diduga telah melakukan serangkaian rekayasa hukum dan dugaan pemerasan.

Menurut Venny Gan, hal itu kian nyata, setelah pihaknya menunggu laporan yang sudah hampir 60 hari masa penahanan suaminya, tidak ada proses yang terbuka dan transparan dari Kepolisian.

“Saya menyurati, menanyakan Kapolres Nias, ke Polda Sumut, ke berbagai instansi, tidak direspon. Setelah kami datang ke Mabes Polri dan melaporkan lagi, dan setelah diekspos media dari Jakarta, barulah merespon, dan malah langsung menyatakan berkas suami saya sudah P21 dan diserahkan ke Jaksa. Kapolres Nias pun langsung menggelar konperensi pers, dengan segala rekayasanya. Pak Kapolri, tolong segeralah tindak tegas polisi-polisi pembohong dan pemeras itu. Ini harus dibongkar semua,” tutur Venny Gan.

Meriani Zendrato dan Venny Gan telah mendatangi Markas Besar Polri di Jalan Trunojaya, Jakarta Selatan pada Kamis (04/04/2019) untuk melaporkan dugaan pemerasan dan rekayasa kasus terhadap mereka.

Keduanya didampingi Kuasa Hukum, Itamari Lase. “Suami saya dibawa dari rumah tengah malam. Sekitar jam setengah satu malam. Ada gerombolan Polisi yang datang ke rumah, malam-malam. Suami saya dituduh mengedarkan dan memakai Narkoba. Padahal tidak ada apa-apa di rumah,” tutur Meriani Zendrato.

Suaminya, Stevenson alias Steven langsung digadang ke Kantor Polres Nias pada malam hari itu juga.

Tak jauh beda dengan yang dialami Meriani Zendrato dan suaminya Stevenson, hal yang sama juga terjadi kepada Ibu bernama Venny Gan. Di hari yang sama, yakni pada 6 Februari 2019 itu, gerombolan polisi itu juga mendatangi rumah Venny Gan.

“Kalau ke rumah kami, polisi datang sekitar jam setengah dua subuh. Suami saya lagi tidur, dibawa ke kantor polisi. Tuduhannya, memakai dan mengedarkan Narkoba. Tidak ada sedikitpun narkoba di rumah kami. Tidak juga ada barang bukti yang dibawa oleh polisi,” tutur Venny Gan.

Meriani Zendrato ternyata masih memiliki hubungan saudara dengan Venny Gan. Suami Meriani Zendrato yakni Steven masih kakak kandung Venny Gan. Venny Gan sendiri bersuamikan Djoniso alias Koban. Malam itu juga, Koban digelandang juga ke Polres Nias.

Gerombolan Polisi yang datang tengah malam itu diketahui adalah para penyidik Satnarkoba Polres Nias yang dipimpin oleh Kasat Resnarkoba, Inspektur Polisi Satu (Iptu) Martua Manik.

Tengah malam itu, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik yang didampingi KBO Narkoba Hesena Ziliwu dan pasukannya, antara lain James Simbolon dan kawan-kawannya, menyisir rumah Meriani Zendrato yang beralamat di Malaga, Jalan Arah Pelud Binaka Kilometer 15, Simpang Pastoran, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Berselang satu jam, Iptu Martua Manik dkk juga menyisir rumah Venny Gan yang beralamat di Jalan Diponegoro 432, Miga, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Kuasa Hukum mereka, Itamari Lase menuturkan, pada saat menciduk kedua suami dan kliennya itu, polisi tidak mampu menunjukkan Surat Perintah Penangkapan.

“Di rumah Steven, mereka langsung melakukan penggeledahan. Tidak ditemukan ada narkoba, Karena Steven dan Djoniso memang tidak memakai Narkoba. Mereka ditangkap tanpa adanya Surat Perintah Penangkapan,” tutur Itamari Lase.

Masih pada 6 Februari 2019, sekitar pukul 09 pagi, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik yang didampingi KBO Narkoba Hesena Ziliwu kembali mendatangi rumah Stevenson dan bertemu dengan Meriani Zendrato.

Tujuan kedatangan polisi itu lagi adalah untuk menanyakan tanggapan Meriani Zendrato atas penangkapan yang dilakukan kepada suaminya, Stevenson.

Pada saat itulah, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik langsung mengatakan kepada Meriani Zendrato, jika ingin selesai kasus yang menimpa suaminya, maka harus disediakan uang sebesar Rp 500 juta, hari itu juga.

“Saya menolak. Karena suami saya tidak bersalah, mengapa saya harus kasih uang Rp 500 juta? Buat apa? Kami juga tidak memiliki uang kok,” ujar Meriani Zendrato. Namun, Iptu Martua Manik bersikeras, “Saya memberi waktu 1 jam untuk mencari uang itu kepada sanak famili, jika tidak, akan saya tahan. Begitu katanya,” ujar Meriani menirukan ucapan Iptu Martua Manik.

Dikarenakan tidak bisa memenuhi permintaan Polisi untuk memberikan uang, maka pada sore hari pada 6 Februari 2019 itu, Polisi mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan kepada Stevenson  alias Steven dan kepada Djoniso alias Koban.

Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan menggelar Konperensi Pers dan Coffee Morning, pada Sabtu, 06 April 2019, pagi, di Mapolres Nias.

Dalam konperensi pers itu, Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan menyampaikan, dugaan pemerasan dengan meminta uang, yang dilakukan pihak Polres Nias melalui Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik dan pasukannya kepada keluarga Venny Gan dan Keluarga Meriani Zendrato, agar kasus narkoba dihentikan, tidak benar.

Penyidik Polres Nias telah dilaporkan oleh keluarga tersangka kasus narkoba ke Propam Mabes Polri melakukan penyalahgunaan wewenang.

Selain itu diduga ada permintaan uang sebesar Rp 500 juta agar kasus narkoba yang menjerat tersangka SG, KT dan JS yang ditangkap tanggal 5 Februari 2019 dihentikan.

“Memang usai penangkapan, saya akui ada keluarga tersangka yang meminta penangguhan penahanan, tetapi saya tolak dan perintahkan penyidik agar kasus terus dilanjutkan,” ujarnya.

Dalam penanganan kasus tersebut, lanjut AKBP Deni Kurniawan, penyidik telah memenuhi semua unsur sehingga ketiganya dapat ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.

Deni mengatakan, ketiganya ditetapkan tersangka atas pengakuan mereka, barang bukti air mineral dalam botol yang dicampur narkoba jenis sabu dan plastik transparan yang di dalamnya ada sabu seberat 0,30 gram.

AKBP Deni Kurniawan melanjutkan, dari keterangan ketiga tersangka diketahui jika tanggal 5 Februari 2019 tersangka K membeli sabu seharga Rp 300 ribu yang uangnya diperoleh dari SG. Sabu tersebut dipakai bertiga oleh K, SG dan istrinya, kemudian K kembali membeli sabu seharga Rp 500 ribu yang rencananya akan dipakai untuk malam hari dan uang pembelian dari JS.

“Memang saat penangkapan kita tidak menemukan barang bukti, tetapi atas dasar pengakuan para tersangka, hasil tes urine dan beberapa bukti petunjuk ketiganya kita tetapkan sebagai tersangka dan kita tahan,” ujarnya.

Soal pelimpahan ketiga tersangka ke Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, dia menegaskan hal tersebut dilakukan karena jaksa penuntut umum (JPU) sudah menganggap berkas lengkap.

Sehingga ketiga tersangka beserta barang bukti diserahkan kepada jaksa penuntut umum untuk proses hukum selanjutnya.

“Tidak benar tudingan kalau para tersangka kita limpahkan ke Kejaksaan karena ada laporan ke Propam Mabes Polri,” ucapnya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*