Isu Politik Identitas Menjalar di Pilkada Serentak, Pemuda Kalimantan Tengah Tolak Keras Kotori Proses Pemilihan Dengan Konflik Multikultural dan Politik Uang

Isu Politik Identitas Menjalar di Pilkada Serentak, Pemuda Kalimantan Tengah Tolak Keras Kotori Proses Pemilihan Dengan Konflik Multikultural dan Politik Uang. – Foto: Koordinator Forum Pemuda Kalimantan Tengah (Forpeka), yang juga mantan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Palangka Raya, Novia Adventy Juran saat menggelar opening speech Webinar Forpeka dengan tema Bahaya Laten Politik Identitas Pilkada Kalteng, melalui akun zoom meeting, Senin 29 Juni 2020. (Ist)
Isu Politik Identitas Menjalar di Pilkada Serentak, Pemuda Kalimantan Tengah Tolak Keras Kotori Proses Pemilihan Dengan Konflik Multikultural dan Politik Uang. – Foto: Koordinator Forum Pemuda Kalimantan Tengah (Forpeka), yang juga mantan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Palangka Raya, Novia Adventy Juran saat menggelar opening speech Webinar Forpeka dengan tema Bahaya Laten Politik Identitas Pilkada Kalteng, melalui akun zoom meeting, Senin 29 Juni 2020. (Ist)

Pemuda Kalimantan Tengah (Kalteng) yang tergabung dalam Forum Pemuda Kalimantan Tengah (Forpeka) menolak adanya politik identitas pada perhelatan Pilkada Serentak yang akan digelar pada akhir tahun 2020 mendatang.

Koordinator Forum Pemuda Kalimantan Tengah (Forpeka) Novia Adventy Juran menegaskan, para kaum muda Dayak menolak tegas adanya upaya membenturkan isu multikultural dalam kontestasi Pilkada Serentak.

Novia Adventy Juran menegaskan, tercapainya hakikat pelaksanaan pesta demokrasi bergantung pada prinsip Langsung, Umum, Bebas, Jujur dan Adil (Luber Jurdil). Dan itu harus dijaga dan dipatuhi oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya para peserta Pilkada Serentak.

“Sebagai bangsa yang bermoral, para politisi yang akan maju dalam kontestasi politik Kalimantan Tengah tidak perlu menerapkan konsep politik ala machiavelli, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan politisnya. Sebab tindakan itu rawan menimbulkan konflik antar masyarakat Kalteng yang multikiultural. Tentunya ini sangat bertentangan dengan nilai falsafi yang termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila,” tutur Novia Adventy Juran.

Hal itu ditegaskan Novia Adventy Juran yang adalah mantan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Palangka Raya ini, saat menggelar opening speech Webinar Forpeka dengan tema Bahaya Laten Politik Identitas Pilkada Kalteng, melalui akun zoom meeting, Senin 29 Juni 2020.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai tindakan konkrit dan partisipasi nyata para Pemuda Kalteng dalam proses mengawal Pilkada yang akan segera berlangsung.

Webinar Forpeka dengan tema Bahaya Laten Politik Identitas Pilkada Kalteng, melalui akun zoom meeting ini menghadirkan Tokoh Kalimantan Tengah, Dr Agustin Teras Narang.

Isu Politik Identitas Menjalar di Pilkada Serentak, Pemuda Kalimantan Tengah Tolak Keras Kotori Proses Pemilihan Dengan Konflik Multikultural dan Politik Uang. – Foto: Tokoh Kalimantan Tengah Dr Agustin Teras Narang, yang merupakan anggota DPD RI asal Kalimantan Tengah, yang juga mantan Gubernur Kalteng dua periode saat menjadi keynote speaker Webinar Forum Pemuda Kalimantan Tengah (Forpeka) dengan tema Bahaya Laten Politik Identitas Pilkada Kalteng, melalui akun zoom meeting, Senin 29 Juni 2020. (Ist)
Isu Politik Identitas Menjalar di Pilkada Serentak, Pemuda Kalimantan Tengah Tolak Keras Kotori Proses Pemilihan Dengan Konflik Multikultural dan Politik Uang.Foto: Tokoh Kalimantan Tengah Dr Agustin Teras Narang, yang merupakan anggota DPD RI asal Kalimantan Tengah, yang juga mantan Gubernur Kalteng dua periode saat menjadi keynote speaker Webinar Forum Pemuda Kalimantan Tengah (Forpeka) dengan tema Bahaya Laten Politik Identitas Pilkada Kalteng, melalui akun zoom meeting, Senin 29 Juni 2020. (Ist)

Dr Agustin Teras Narang, SH adalah mantan Ketua Komisi III DPR RI, yang juga adalah mantan Gubernur Kalimantan Tengah dua periode. Dia  bertindak sebagai Keynote Speaker kegiatan tersebut.

Selain Agustin Teras Narang, tiga narasumber  lainnya yang kompeten di bidangnya adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia Kalimantan Tengah (DPD PIKI Kalteng) Ir Sipet Hermanto, Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD AHK) Kota Palangkaraya Parada L KDR, dan, Akademisi Muda Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Farid Zaky Yopiannor.

“Kami mengajak kita semua untuk bersama-sama membendung bahaya laten politik identitas pada Pilkada Kalteng. Mari bersama-sama menciptakan suasana demokrasi Kalteng yang Luberjudil. Proses pilkada harus demokratis dan menjadi momentum perubahan untuk Kalimantan Tengah yang lebih baik. Sebab seseorang harus dipilih menjadi pemimpin karena ia memiliki kapasitas, kapabilitas dan juga integritas. Jangan memilih pemimpin yang melanggengkan politik identitas, pencitraan serta politik uang,” tandas Novia Adventy Juran.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan