Intel Kejaksaan Agung Tangkap Buronan Korupsi Jual Beli Nikel Senilai Rp 24,1 Miliar di Malaysia

Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung (Sesjamintel) Sunarta dan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspekum) Mukri, saat menggelar jumpa pers Penangkapan Buronan Atto Sakmiwati Sampetoding di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (21/09/2019).
Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung (Sesjamintel) Sunarta dan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspekum) Mukri, saat menggelar jumpa pers Penangkapan Buronan Atto Sakmiwati Sampetoding di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (21/09/2019).

Tim Intelijen Kejaksaan Agung berhasil menciduk seorang buronan yang merupakan terpidana kasus korupsi jual beli Nikel senilai Rp 24,1 miliar di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia.

Buronan atas nama Atto Sakmiwati Sampetoding ditangkap Intel Kejaksaan Agung dengan bekerja sama dengan Ditjen Imigrasi dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur.

Sekretaris  Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung (Sesjamintel) Sunarta menuturkan, Atto Sakmiwati Sampetoding  merupakan terpidana kasus korupsi dalam jual beli nikel kasar rendah antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan PT Kolaka Mining International.  Atto Sakmiwati Sampetoding ini merupakan Managing Director di perusahaan swasta tersebut.

“Jadi, terpidana diamankan pada hari Rabu, 20 November 2019 sekitar pukul 21.00 waktu setempat di Badara Internasional Kuala Lumpur,” ungkap Sekretaris  Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung (Sesjamintel) Sunarta  bersama Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspekum) Mukri, saat menggelar jumpa pers, di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (21/09/2019).

Sunarta mengatakan, penangkapan dilakukan setelah terpidana ditolak masuk ke wilayah Malaysia oleh otoritas yang berwenang di negeri jiran itu.

“Penangkapan juga terjadi atas koordinasi yang baik antara kejaksaan, atase imigrasi serta atase kepolisian KBRI dengan otoritas Malaysia, sehingga yang bersangkutan dapat diserahkan kepada kita untuk dipulangkan ke Indonesia,” ujarnya.

Sunarta menambahkan, terpidana tiba di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Jakarta, sekitar pukul 08.30 WIB pada tanggal 21 November 2019,  dengan pengawalan tim intelijen Kejagung.

“Bersangkutan pun langsung dibawa ke Rutan Kejagung. Untuk proses selanjutnya akan ditangani tim penyidik Kejaksaan Negeri Kolaka yang rencananya akan hadir pukul 15.00 WIB hari ini,”| katanya.

Penangkapan terpidana tersebut dilakukan berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor: 199K/Pid.Sus/2014 tanggal 26 November 2014.

Dalam putusan MA, terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam jual beli nikel kasar rendah antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan PT Kolaka Mining International yang merugikan keuangan negara lebih dari Rp 24,1 miliar.

“Atas perbuatannya, yang bersangkutan dijatuhi pidana penjara selama 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta serta  uang pengganti sebesar Rp 24,1 Miliar,” ujar Sunarta.(Richard)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan