Breaking News

Ijin Pembangunan Jalan Pulau Reklamasi Melanggar Hukum, Anies Berkhianat

Kok Ada Restoran dan Food Court di Pulau D, Gubernur Anies Tak Serius Hentikan Reklamasi.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan diminta untuk tidak mengijinkan pembangunan Jalan Pulau Reklamasi. Selain melanggar hukum, pembangunan jalan pulau reklamasi itu juga merupakan bentuk perlahan mengijinkan kembali dilakukannya reklamasi di Teluk Utara Jakarta.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) meminta Anies segera menghentikan pemberian izin kepada  PT Jakarta Propertindo untuk membangun jalan menuju pulau reklamasi di Teluk Jakarta, sepanjang 7,6 kilometer dan lebar seluas 3 kilometer.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Susan Herawati menyampaikan, alasan pembangunan jalan tersebut tidak menyalahi aturan dan akan disiapkan aturannya di kemudian hari, tidak tepat.

“Pemberian ijin itu telah membuat Gubernur DKI Jakarta melanggar hukum, karena telah membangun jalan tersebut tanpa payung hukum. Lebih jauh, Anies melanggar hukum karena tidak membatalkan izin seluruh pulau reklamasi di Teluk Jakarta yang berjumlah 17 pulau,” tegasnya, dalam keterangannya, Jumat (04/01/2019).

Menurut Susan, sampai saat ini Provinsi DKI Jakarta masih belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) Zonasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang telah dimandatkan oleh UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Revisi UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

Perda ini bertujuan untuk mengatur ruang di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil supaya tidak diprivatisasi. Pulau-pulau itu harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Seharusnya Anies memprioritaskan Pengesahan Perda Zonasi karena aturan ini mendesak dan dibutuhkan untuk mengatur ruang pesisir dan pulau-pulau kecil di Provinsi DKI Jakarta supaya tidak dikuasai oleh perorangan dan menyingkirkan nelayan dan masyarakat pesisir lainnya. Jika bukan dengan Perda Zonasi, lalu payung hukumnya apa?” tanya Susan.

Dengan dibangunnya jalan menuju pulau reklamasi tersebut, tambah Susan, Anies sedang menunjukkan keberpihakannya bukan kepada 25 ribu nelayan yang tersebar di pesisir Jakarta, melainkan berpihak kepada korporasi besar yang telah membangun pulau tersebut.

Tak hanya itu, Susan juga mengkritik keberadaan Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) khususnya yang membidangi urusan pesisir.

Menurutnya, lembaga ini tidak memiliki relevansi, signifikansi dan kontribusi dalam menyelesaikan persoalan reklamasi Teluk Jakarta.

“Keberadaan TGUPP bidang pesisir yang dibentuk oleh Gubernur DKI ini gagal membaca akar masalah reklamasi. Seharusnya, kajian-kajian lembaga ini mendorong pencabutan izin seluruh pulau reklamasi. Faktanya, tidak demikian,” tutur Susan.

Susan menegaskan, persoalan Reklamasi Teluk Jakarta seharusnya tak ada kompromi karena telah terbukti menghancurkan keberlanjutan lingkungan hidup dan menghancurkan kehidupan sosial-ekonomi nelayan serta masyarakat lainnya di Teluk Jakarta.

“Dengan membatalkan izin 13 pulau reklamasi dan mengizinkan 4 pulau reklamasi, serta membangun jalan menuju pulau reklamasi, Anies sebenarnya sedang mengkhianati janji politiknya saat  kampanye untuk Pemilihan gubernur dan wakil Gubernur DKI dahulu,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*