Breaking News

Hingga Selasa Sore Sebanyak 119 Orang Petugas KPPS Meninggal Dunia, 548 Orang Jatuh Sakit, Sistem Pemilu Indonesia Perlu Diperbaiki

Hingga Selasa Sore Sebanyak 119 Orang Petugas KPPS Meninggal Dunia, 548 Orang Jatuh Sakit, Sistem Pemilu Indonesia Perlu Diperbaiki.

Sudah melampaui angka 100-an orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia, dan 500-an lebih mengalami jatuh sakit. Penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) perlu segera diperbaiki.

Hal itu disampaikan Sekjen Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) Cahyo Gani Saputro menyikapi pelaksanaan Pemilu Serentak 2019 yang masih menyisakan beragam persoalan ini.

“Kita mengucapkan berdukacita mendalam dengan telah berpulangnya para pejuang dan pahlawan demokrasi dalam Pemilu Serentak 2019 ini,” Cahyo Gani Saputro, Selasa (23/04/2019).




Cahyo Gani Saputro mengatakan, ke depan pembentuk udang-undang harus lebih matang dalam membuat sistem dan aturan main, agar Pemilu Serentak dapat berjalan tanpa catatan-catatan lagi.

Pemilu Serentak kali ini, kata dia, sebenarnya berjalan dengan damai, aman dan lancar, sehingga apresiasi terhadap kinerja TNI/Polri dan segenap stakeholder, layak diucapkan.

“Namun yang perlu menjadi catatan adalah begitu beratnya kerja KPPS, sehingga ratusan meninggal dunia dan setengah juta lebih mengalami jatuh sakit yang tidak ringan,” ujarnya.

Terkait wacana Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan terpisah dengan Pemilihan Legislatif, kata dia, itu tidak berpengaruh besar pada kesiapan penyelenggara pemilu khususnya KPPS.

Namun dia mendorong pelaksanaan Pemilu Serentak dipisahkan antara Pemilu Serentak untuk Nasional Pilpres, Pileg DPR dan DPD dan Pemilu Serentak untuk Daerah Pilkada, Pileg DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Selain itu Cahyo menyayangkan, toleransi dalam demokrasi Indonesia mulai memudar dengan gencarnya berita hoax dan saling membully, mencemooh atau fanatisme sempit pada calon tertentu, yang hal ini sangat jauh dari tradisi dan budaya bangsa Indonesia.

“Para calon diminta untuk memberikan iklim kesejukan di masyarakat dan menghimbau para pendukungnya untuk menahan diri sebelum tahapan yang diatur dalam undang-undang Pemilu selesai sesuai tahapannya,” ujarnya.

Cahyo juga menyayangkan adanya klaim kemenangan Paslon, padahal tahapan pemilu masih berjalan.

“Apalagi mendeklarasikan dirinya menjadi Presiden, itu sudah merupakan bentuk upaya melawan hukum,” ujarnya.

KPU menyatakan, jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia pada saat proses rekapitulasi hasil Pemilu 2019 kembali bertambah. Saat ini tercatat sebanyak 119 orang meninggal dunia.

Komisioner KPU Viryan Aziz mengatakan, datanya masih bertambah. “Datanya bertambah, 119 meninggal dunia, 548 sakit, tersebar di 25 provinsi,” tutur Viryan Aziz, di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (23/4/2019).

Viryan mengatakan, total jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia dan sakit menjadi 667 orang.

Data ini, katanya, berdasarkan update terbaru hari Selasa, 23 April 2019, hingga pukul 16.30 WIB.

“Berdasarkan data yang kami himpun hingga pukul 16.30 WIB, petugas kami yang mengalami kedukaan ada 667 orang,” ujar Viryan.

Jumlah anggota KPPS meninggal dunia ini bertambah sebanyak 28 orang. Sedangkan jumlah anggota KPPS sakit bertambah sebanyak 174 orang sejak pendataan pada Senin (22/4) petang.




Diketahui, sebelumnya tercatat 91 orang meninggal dunia dan 374 orang sakit. Mereka tersebar di 19 provinsi. KPU akan bertemu dengan Kemenkeu membahas soal santunan untuk korban.

“KPU sudah membahas secara internal terkait dengan santunan yang akan diberikan kepada penyelenggara pemilu yang tertimpa musibah. Dengan memperhitungkan berbagai macam regulasi asuransi BPJS, kemudian masukan-masukan dan catatan yang selama ini diberlakukan. Karena kami besok merencanakan akan melakukan pertemuan dengan Kementerian Keuangan,” kata Ketua KPU Arief Budiman, Senin (22/4/2019).(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*