Hingga 42 Saksi Diperiksa, Belum Satupun Yang Tersangka Untuk Kasus Investasi PT Pertamina di Blok Manta Gummy Australia

Hingga 42 Saksi Diperiksa, Belum Satupun Tersangka Kasus Investasi PT Pertamina di Blok Manta Gummy Australia.

Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) sudah memeriksa 42 orang saksi terkait kasus dugaan korupsi penyalahgunaan investasi pada PT Pertamina (Persero) di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009.

Kembali, penyidik memeriksa 4 orang yang terlibat langsung dalam kasus tersebut, yakni Sekretaris Senior Vice President Rencana Pengembangan Teknis Corporate Eva Klarissa Astried Nova, Senior Vice President Widyawan,  Asisten Manager Corporate Action Evaluation Subsidiary dan Join Venture Management Dini Nurhayati Saraswati, serta Senior Vice President Rencana Pengembangan Teknis Corporate Poerwotjahjono. Namun, sampai saat ini belum ada tersangka dalam kasus tersebut.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung, M Rum mengatakan, 4 saksi tersebut hadir memenuhi panggilan penyidik dalam kapasitas sebagai saksi.

“Mereka hadir sekitar pukul 10.00 WIB memenuhi panggilan Penyidik dan dilakukan pemeriksaan,” kata Rum di Kompleks Kejaksaan Agung, Kamis (07/09/2017).

Rum menjelaskan, saat pemeriksaan Eva Klarissa Astried Nova menerangkan mengenai surat masuk dan keluar serta mengarsipkan notulen rapat yang terkait dengan Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia. Sementara Widyawan menerangkan terkait prosedur investasi PT. Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada tahun 2009.

“Untuk Dini Nurhayati Saraswati menerangkan mengenai rapat pada tanggal 19 Maret 2009 terkait dengan investasi PT. Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada tahun 2009 dan Poerwotjahjono menerangkan mengenai prosedur pembiayaan investasi PT. Pertamina,” ujarnya.

Sebelumnya, penyidik telah memeriksa mantan Direktur Utama PT Pertamina, Karen Agustiawan terkait kasus tersebut.

“Diperiksa statusnya masih sebagai saksi,” kata JAM Pidsus Kejaksaan Agung, Arminsyah di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (30/03/2017).

Kasus ini bermula saat PT Pertamina pada tahun 2009, melalui anak perusahaannya PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melakukan akuisisi saham sebesar 10 persen terhadap ROC Oil Ltd.

Perjanjian jual beli ditandatangani pada tanggal 1 Mei 2009 dengan modal sebesar 66,2 juta dolar Australia atau senilai 568 miliar rupiah dengan asumsi mendapatkan 812 barel per hari.

Namun ternyata BMG Australia pada 2009 hanya dapat menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pty Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari.

Pada 5 November 2010, Blok BMG Australia dinyatakan ditutup setelah ROC Oil Ltd, Beach Petrolium, Sojits, dan Cieco Energy memutuskan penghentian produksi minyak mentah.(Richard)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*