Breaking News

Hindarkan Penerapan Pasal-Pasal Yang Tak Relevan, Masyarakat dan Penyidik Diminta Pelajari Proses Hukum Yang Benar

Ketua LBH Masayrakat Bangka Belitung, Bujang Musa: Hindarkan Penerapan Pasal-Pasal Yang Tak Relevan, Masyarakat dan Penyidik Diminta Pelajari Proses Hukum Yang Benar.

Masyarakat umum diminta tidak malas mempelajari dan memahami proses-proses hukum yang terjadi di masyarakat. Selain untuk menghindarkan masyarakat dari penerapan pasal-pasal yang kurang relevan, masyarakat juga bisa mengingatkan aparat penegak hukum, terutama penyidik untuk tidak mempermain-mainkan proses hukum.

Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Bangka Belitung (LBH Masyarakat Babel) Bujang Musa, Selasa (19/03/2019).

Bujang Musa menyatakan, dalam sejumlah proses penyelidikan dan penyidikan yang disaksikannya, tak jarang penyidik tidak mendalami pokok persoalan yang ada. Sehingga, seringkali penerapan pasal dalam kasus itu pun asal-asalan.

“Sekarang ini, sudah tidak terlalu sulit mengakses peraturan dan perundang-undangan dan tata cara penyelidikan, bahkan sampai ke proses persidangan. Masyarakat harus belajar. Supaya mengerti proses-proses hukum dan juga pasal-pasal dalam sebuah kasus,” tutur Bujang Musa.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa BM ini mengatakan, bukan hanya masyarakat awam yang sering dipermainkan dengan pasal-pasal yang tidak relevan, penyidik nakal pun tidak jarang membuat pasal-pasal yang tidak relevan dalam penanganan perkara.

Misalnya, lanjut Bujang Musa, seperti yang dialami oleh kliennya, La Mane. La Mane yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) karena dugaan pencurian plat baja sisa pembangunan Jembatan I Dompak di Tanjungpinang, sarat dengan pasal-pasal yang dipaksakan.

“Proses penetapan tersangka dan penerapan pasal kepada La Mane terkesan sangat dipaksakan,” ujar Bujang Musa.

Malah sebetulnya, menurut Bujang Musa, kliennya tidak bisa dijerat dengan pasal pencurian. “Sebab, klien saya itu membeli barang tersebut,” ujarnya.

Bujang Musa menolak apabila La Mane ditersangkakan dengan menerapkan pasal 362 KUHP tentang pencurian. Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa La Mane tidak melukan pencurian sudah di tangannya.

“Ada pembuktian surat pernyataan di atas materai yang ditandatangani 4 orang. La Mane membeli bukan pada malam hari, namun siang hari. Bukan pula sembunyi-sembunyi. Artinya terbuka,” tutur Bujang Musa.

Dia menjelaskan, kliennya membeli barang tersebut berdasarkan kepemilikan yang jelas dalam surat pernyataan. Bilamana di kemudian hari terjadi masalah, dituangkan juga bahwa kliennya tidak bisa dimasalahkan hukum.

Setelah serahterima barang, lanjutnya, uangnya dibayarkan dan barang dikirim ke lokasi yang terletak di Kilometer 18, arah Kijang, Kecamatan Bintan Timur.

“Dikawal oleh aparat kepolisian. Kemudian dikawal juga pembeli dari Medan. Di dalam peristiwa bukan La Mane saja, ada 4 orang loh,” katanya.

Jadi pertanyaannya, lanjut dia lagi, di mana penerapan pasal hanya La Mane yang ditetapkan  tersangka? “Kalau benar (dilidik), seharusnya yang ditetapkan tersangka 4 orang itu, kemudian penadah bos dari Medan. Aparat penegak hukum juga harus ditindak. Yang mengiring ke lokasi,” jelasnya.

Kemudian, dia mengungkapkan, penetapan La Mane sebagai tersangka pun dilakukan setelah 5 bulan kejadian. Hal ini sangat aneh dan janggal.

“Seharusnya 4 orang itu yang dijadikan tersangka. La Mane membayarkan karena berdasarkan surat pernyataan di atas materai,” kata dia.

Dari kasus ini, Bujang Musa berharap, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol Tito Karnavian memeriksa jajarannya ke bawah.

“Kami meminta agar penyidik itu juga diperiksa melalui Provost, karena adanya tebang pilih dalam penanganan kasus ini,” ujar Bujang Musa.

Bujang Musa membeberkan, ada sejumlah fakta di persidangan yang harus disampaikan, termasuk Surat Pernyataan yang ditandatangani kedua belah pihak.

Diberitakan sebelumnya, Supiani, istri La Mane meminta keadilan atas kasus yang menjerat suaminya. Ia mempertanyakan kenapa hanya suaminya yang ditahan sementara 4 orang lainnya tidak. Kasus ini mencuat setelah dikabarkan plat baja senilai miliaran rupiah sisa proyek pembangunan Jembatan I Dompak di Tanjungpinang, hilang.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*