Hasil Audit Kerugian Negara Sudah Diterima, Jampidsus Segera Bidik Para Tersangka Korupsi di BTN

Hasil Audit Kerugian Negara Sudah Diterima, Jampidsus Segera Bidik Para Tersangka Korupsi di BTN.
Hasil Audit Kerugian Negara Sudah Diterima, Jampidsus Segera Bidik Para Tersangka Korupsi di BTN.

Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus pada Kejaksaan Agung (Jampidsus) M Adi Toegarisman sudah menerima hasil audit mengenai kerugian Negara dalam korupsi yang terjadi di Bank Tabungan Negara (BTN). Dengan adanya hasil audit itu, maka penyidik di Pidsus Kejaksaan Agung akan segera menetapkan para tersangka di bank pelat merah itu.

Jampidsus M Adi Toegarisman membenarkan, pihaknya sudah menerima hasil audit kerugian Negara yang terjadi pada beberapa kasus korupsi di BTN.

“Audit baru diterima pada Kamis sore 26 Desember 2019. Selanjutnya kami sedang diskusikan,” ungkap Jampidsus M Adi Toegarisman, usai mendampingi Jaksa Agung ST Burhanuddin pada Kegiatan Pengangkatan Sumpah Jabatan, Pelantikan dan Serah Terima Jabatan (Sertijab) sebanyak 36 Eselon II Kejaksaan Agung, di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (27/12/2019).

Dengan adanya hasil audit itu, penyidik Jampidsus Kejaksaan Agung sudah membidik para calon tersangka kasus Bank BTN. Namun, Adi Toegarisman masih enggan mengungkapkan para tersangka yang sudah diperkuat dengan bukti-bukti kerugian Negara itu. “Tunggulah, Masih kita diskusikan,” ujar mantan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen pada Kejaksaan Agung (Jamintel) itu.

Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta (Kajati DKI) ini juga memastikan, pihaknya akan melakukan pencegahan para calon tersangka untuk bepergian ke luar negeri. “Iya, akan dilakukan pencegahan,” ujarnya.

Bank BTN sedang diusut atas tindak pidana korupsi oleh Jampidsus Kejaksaan Agung. Bukan hanya satu, paling tidak saat ini ada tigas kasus dugaan korupsi di BTN yang sedang digarap Pidsus Kejagung.

Pertama, kasus di Bank BTN Gresik dan kedua, kasus di Bank BTN Semarang.  Dugaaan korupsi di dua bank itu sekitar Rp50 miliar.

Ketiga, kasus BTN Kuningan dalam pengucuran kredit modal kerja kepada PT Batam Island Marina (BIM) sebesar Rp300 miliar, dalam dua bagian terpisah.

Kasus di BTN Kuningan ini diduga bermasalah, karena kredit pertama Rp100 miliar digunakan untuk membayar hutang Komisaris Utama dan Direktur Utama PT BIM.

Sedangkan kredit kedua sebesar Rp200 miliar tidak disertai jaminan mencukupi dan macet. Agar  neraca pembayaran BTN nampak bagus, piutang itu dijual kepada PT PPA, tapi dengan menggunakan uang BTN sebesar Rp300 miliar.

Praktik ini patut diduga bagian Window Dressing atau seni membuat kinerja bagus, tapi  dengan berbagai cara yang diduga bertentangan dengan hukum.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan