Breaking News

Harus Dibongkar Tuntas, Aktivis Pers Desak Polisi Cari Dan Hukum Berat Dalang Kerusuhan Sebenarnya

Mencurigakan, Skenario Kekerasan Polisi di Aksi Massa Bawaslu Mei 2019

Mencurigakan, Skenario Kekerasan Polisi di Aksi Massa Bawaslu Mei 2019, Harus Dibongkar Tuntas, Aktivis Pers Desak Polisi Cari Dan Hukum Berat Dalang Kerusuhan Sebenarnya . Mencurigakan, Skenario Kekerasan Polisi di Aksi Massa Bawaslu Mei 2019, Harus Dibongkar Tuntas, Aktivis Pers Desak Polisi Cari Dan Hukum Berat Dalang Kerusuhan Sebenarnya .

Skenario rangkaian kekerasan dan penembakan brutal yang mengakibatkan korban jiwa di seputar aksi massa Mei 2019 di Bawaslu harus dibongkar tuntas.

Wartawan Senior Abdul Haris Iriawan alias AHI menyebut, ada upaya sengaja menutupi berbagai kebenaran di seputar peristiwa penembakan brutal dan penganiayaan massa pada aksi massa di sekitar Bawaslu, pada 21-22 Mei 2019.

“Sialan, masyarakat diadudomba, dibuat bingung, dan dibenturkan dengan skenario sepihak yang dilakukan aparat keamanan untuk membangun opini buruk seolah-olah para demonstran yang salah dalam aksi massa kemarin itu. Ini semua harus dibongkar tuntas,” tutur Abdul Haris Iriawan, di Kompleks Kejaksaan Agung, Jumat (24/05/2019).

Mantan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Kejaksaan Agung (Forwaka) ini mendesak aparat yang terlibat, segera ditangkapi dan diproses hukum.

“Ini negara hukum, negara demokrasi, Indonesia menolak skenario-skenario busuk yang mendiskreditkan rakyat sendiri. Ini harus diusut tuntas,” ujarnya.

Ahi mengatakan, sejumlah skenario busuk telah dimainkan oleh aparat. Seperti, adanya mobil ambulance bermerek partai politik tertentu, yang disebut oleh kepolisian sebagai pihak yang melakukan tindak kekerasan, harus diungkap sebenarnya.

Demikian juga, adanya sekelompok massa, yang mendadak melakukan penembakan dan kerusuhan sewaktu massa sudah akan mengakhiri aksinya.

Ibu-ibu bercadar, yang dipublikasi dengan dugaan pelaku peletak bom, adalah tidak benar. Menurut Ahi, hal itu sebagai upaya aparat memblejeti massa, agar tercipta image buruk kepada para demonstran.

“Termasuk adanya peluru tajam yang ditembakkan kepada para peserta aksi, yang menimbulkan tewasnya beberapa peserta aksi, itu harus dibuka dan dicari dalang sebenarnya. Tak mungkin massa membawa senjata dan dengan peluru tajam, sangat mencurigakan. Aparat jangan bermain api,” tutur Ahi lagi.

Selain itu, dimatikannya jalur internet dan media sosial, merupakan pemberangusan kebebasan pers, yang merugikan kepentingan masyarakat banyak, serta menjadi salah satu dugaan skenario untuk menutupi kejadian sebenarnya.

“Jadi, sangat jelas, ada upaya dan skenario yang sangat sistematis, untuk menghancurkan massa aksi dan menjadikan mereka kambing hitam. Ini harus dibongkar tuntas,” ujarnya.

Ahi sangat menyayangkan, para awak pers dan media pun tidak mempublikasikan informasi yang berimbang, bahkan cenderung ikut-ikutan dengan skenario yang dimainkan oleh aparat.

Selain itu, para pegiat Hukum dan Penegakan Hak Asasi Manusia Indonesia (HAM) yang selama ini diketahui banyak berkoar-koar, kok mendadak diam, dan tidak turun menyuarakan dan melakukan advokasi kepada masyarakat korban.

“Semua ini harus diusut tuntas. Tidak akan ada keadilan dan kebenaran, jika hanya didominasi dan diskenariokan oleh alat-alat rejim yang tidak melindungi warga negaranya sendiri,” pungkas Ahi.(JR/Richard)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*