Halo Pak Presiden, Selain Urusan Pembagian Lahan, Pupuk dan Bibit Masih Dikuasai Mafia

Direktur Eksekutif Nasional Rumah Tani Indonesia (RTI) Jones Batara Manurung: Berantas mafia pupuk dan bibit. Lingkaran setan ini tidak kunjung dipecahkan sampai saat ini. Kemiskinan demi kemiskinan mendera petani terus dari masa ke masa.

Kinerja perintah di sektor pertanian kembali disoroti. Selain urusan perampasan lahan yang masih tidak ada penyelesaian bagi petani, urusan penguasaan bibit dan pupuk yang menjadi kebutuhan dasar pertanian pun masih dirajai oleh mafia.

 

Karena itu, pemerintah diminta fokus dan membuktikan kinerjanya memberantas mafia pupuk dan bibit, serta mengembalikan kesejahteraan petani.

 

“Pemerintah harus menunjukkan bahwa kebutuhan petani akan pupuk dan bibit tidak dipersulit. Selama ini masih dikuasai oleh mafia. Pemberanasan mafia ini belum juga terlihat upaya serius,” ujar Direktur Eksekutif Nasional Rumah Tani Indonesia (RTI) Jones Batara Manurung, di Jakarta, Jumat (28/04/2017).

 

Jones menambahkan, setiap musim tanam, petani selalu kesulitan memperoleh pupuk dan bibit. Selain ketersediaannya sering langka, jika pun ada harganya sangat tinggi, sehingga menyebabkan petani kewalahan. Alhasil, para tengkulak selalu menguasai dan menghisap jerih payah petani.

 

“Praktik penguasaan pupuk dan bibit itu masih dikuasai mafia. Sampai para tengkulak yang menjadi kaki tangannya. Ini juga masih saja terus terjadi. Harusnya pemerintah juga bersinergi dengan petani untuk memberantas ini,” tuturnya.

 

Bahkan, kemiskinan petani terus berlanjut pada saat musim panen. Hasil tani yang sudah dipanen, termyata sering mengalami harga anjlok. Alhasil, biaya produksi yang mahal sampai musim panen, termyata tidak mampu membayar hutang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena harga panen anjlok.

 

“Lingkaran setan ini tidak kunjung dipecahkan sampai saat ini. Kemiskinan demi kemiskinan mendera petani terus dari masa ke masa,” ujar Jones.

 

Jones mengingatkan, lahan pertanian yang semakin menyusut pun kian mempersempit ruang gerak petani Indonesia untuk memproduksi pangan.

 

Jika hal itu terus terjadi, maka kedaulatan pangan yang dicita-citakan oleh Jokowi hanya tinggal kenangan.

 

“Yang ada malah Indonesia akan terus-terusan impor pangan. Ketergantungan ke pihak asing dan kedaulatan pangan tidak tercapai,” ujarnya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*