Halo Pak Menag dan Pak Polisi, Kesepakatan Melarang Ibadah Natal di Sumatera Barat Melanggar Hukum

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Solidaritas Indonesia Kota Bogor (DPD PSI Kota Bogor) Sugeng Teguh Santoso: Halo Pak Menag dan Pak Polisi, Kesepakatan Melarang Ibadah Natal di Sumatera Barat Melanggar Hukum.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Solidaritas Indonesia Kota Bogor (DPD PSI Kota Bogor) Sugeng Teguh Santoso: Halo Pak Menag dan Pak Polisi, Kesepakatan Melarang Ibadah Natal di Sumatera Barat Melanggar Hukum.

Buntut pelarangan Ibadah Natal, usulan untuk membentuk Satuan Polisi Khusus di setiap Polres untuk melindungi hak atas Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan muncul. Dan desakan kepada Pemerintah Pusat untuk segera memotong Dana Alokasi Umum (DAU) bagi Kabupaten Sijunjung dan Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, disampaikan.

Kesepakatan untuk melarang penyelenggaraan Ibadah Natal di wilayah Sungai Tambang, Kabupaten Sijunjung dan Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, melanggar hukum.

Parah, seperti itulah rendahnya pemahaman dan sikap aparatur Negara dan pemerintah di wilayah itu. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Solidaritas Indonesia Kota Bogor (DPD PSI Kota Bogor) Sugeng Teguh Santoso menegaskan, membuat kesepakatan berupa pelarangan melaksanakan ibadah agama, seperti sepakat melarang Ibadah Natal itu sangat fatal kesalahannya secara hukum.

Advokat Senior Peradi ini mengatakan,  kesepakatan yang membatasi hak warga yang beragama Kristen menjalankan keyakinan dan agamanya  adalah batal demi hukum. Karena bertentangan dengan hak konstitusional.

“Hak menjalankan keyakinan dan beragama tidak dapat dikurangkan dalam keadaan apapun juga. Itu disebut juga non-derogable rights,” tutur Sugeng Teguh Santoso, dalam siaran persnya, Minggu (22/12/2019).

Peristiwa pelarangan Ibadah Natal yang terjadi di Sungai Tambang, Kabupaten Sijunjung dan Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, menjadi suatu gambaran nyata, bahwa kebebasan menjalankan ibadah agama sebagaimana dijamin secara konstitusional, telah dilabrak oleh aparat Negara sendiri.

Sugeng Teguh Santoso menyarankan dibentuknya Satuan Polisi Khusus di setiap Polres untuk melindungi hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.

“Kita meminta Pemerintah untuk membentuk satuan polisi khusus di setiap Polres yang melindungi hak atas Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan,” ujarnya.

Selanjutnya, pemerintah dan aparat penegak hukum juga tidak boleh tunduk pada individu atau kelompok masyarakat intoleran yang merongrong kebhinekaan dan persatuan Indonesia.

Sugeng menegaskan, Negara harus menjunjung tinggi prinsip negara hukum sebagaimana diamanatkan UUD Tahun 1945, dan tidak mengalah pada individu atau kelompok masyarakat intoleran.

“Oleh karena itu, kami juga mendesak Pemerintah Pusat segera memotong Dana Alokasi Umum (DAU) bagi Kabupaten Sijunjung dan Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat,” ujarnya.

Anehnya, Menteri Agama Fachrul Razi menyebut larangan perayaan Natal di Dharmasraya merupakan kesepakatan bersama masyarakat setempat.

“Belum cek ya itu. Ntar nanti kita tanya bagaimana kesepakatannya itu. Tapi penjelasan mereka itu sudah kesepakatan dan sudah lama Pak itu begitu,” kata Fachrul.

Di sisi lain, pernyataan Menag yang terkesan melegitimasi pelarangan perayaan Natal itu, bertolak belakang dengan keterangan Maradu Lubis, Ketua Stasi Jorong Kampung Baru.

“Walaupun hati kami menangis, kami akan patuh. Cuma sampai kapan pemerintah akan memperlakukan kami seperti itu? Tawaran pemerintah seperti transportasi sudah kami sosialisasikan, kata umat tidak usahlah mengadakan ibadah, mungkin ini ujian untuk kita,” tutur Maradu Lubis.

Namun demikian, Sugeng melanjutkan, andaikan pun kesepakatan bersama masyarakat itu ada, sebagai sebuah perikatan dilihat dari pendekatan hukum keperdataan, maka kesepakatan tersebut batal demi hukum. “Sebab bertentangan dengan hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM),” jelas Sugeng.

Sekjen Peradi LMPP ini menerangkan, perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, dimana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lainnya itu berkewajiban untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Suatu perikatan bisa timbul karena persetujuan/perjanjian maupun karena undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1233 KUHPerdata.

Jika merujuk pada Pasal 1313 KUHPerdata, maka suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih.

Suatu persetujuan/perjanjian sah, apabila memenuhi syarat-syarat sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yang menyebutkan Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat, satu, kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya. Dua, kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Tiga, suatu pokok persoalan tertentu, dan, empat,  suatu sebab yang tidak terlarang.

Berdasarkan Pasal 1337 KUHPerdata, disebutkan,  Suatu sebab adalah terlarang, jika sebab itu dilarang oleh undang-undang atau bila sebab itu bertentangan dengan kesusilaan atau dengan ketertiban umum.

Sejalan dengan itu, Pasal 29 ayat 2 UUD 1945, yang mengatur: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

Atau dengan kata lain, hak atas Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) merupakan hak dasar yang melekat bagi setiap manusia yang harus dilindungi oleh negara.

Perlindungan atas hak ini telah dituangkan dalam berbagai instrumen hukum nasional maupun internasional, seperti UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU Nomor 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Sipil dan Politik  atau International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan sebagainya.

Dengan demikian, lanjut Sugeng Teguh Santoso, kesepakatan bersama masyarakat yang dimaksudkan Menteri Agama Fachrul Razi, dipandang dari aspek hukum keperdataan bertentangan dengan berbagai instrumen hukum.

“Sehingga tidak sah atau batal demi hukum,” ujarnya.

Oleh karena Indonesia adalah negara hukum (rechstaat), bukan negara kekuasaan (machstaat), maka negara harus menjunjung tinggi hukum dalam melindungi hak atas KBB.

“Termasuk ibadah dan perayaan Natal tahun 2019 bagi seluruh umat Kristiani di Sungai Tambang, Kabupaten Sijunjung dan Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat,” ujar Sugeng.

Dikatakan Sugeng, dalih negara yang berlindung dibalik kesepakatan bersama masyarakat atau dengan alasan demi menjaga keamanan dan ketertiban tidak bisa dibenarkan.

“Karena adanya tekanan dari individu atau kelompok masyarakat intoleran. Itu justru mengingkari amanat konstitusi yang mengamanatkan negara harus menjunjung tinggi prinsip negara hukum,” tutup Sugeng.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan