Hadapi Perang Biologis, Pendeta dan Gereja Dukung Penanaman Pohon Aren di Kawasan Danau Toba

Dunia Diserang Virus Corona

Dunia Diserang Virus Corona, Hadapi Perang Biologis, Pendeta dan Gereja Dukung Penanaman Pohon Aren di Kawasan Danau Toba (KDT). Foto: Ketua STT HKBP Nomensen Pematangsiantar bersama President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan dan para penatua melakukan penanaman pohon aren secara simbolis di Komplek Gereja HKBP Parranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), pada Minggu 15 Maret 2020. (Istimewa).
Dunia Diserang Virus Corona, Hadapi Perang Biologis, Pendeta dan Gereja Dukung Penanaman Pohon Aren di Kawasan Danau Toba (KDT). Foto: Ketua STT HKBP Nomensen Pematangsiantar bersama President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan dan para penatua melakukan penanaman pohon aren secara simbolis di Komplek Gereja HKBP Parranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), pada Minggu 15 Maret 2020. (Istimewa).

Untuk menghadapi perang biologis, penanaman pohon menjadi salah satu upaya yang perlu diseriusi.

Hal itu pula yang terus dilakukan President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan dan kawan-kawannya.

Peneliti Pohon Aren jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengajak seluruh stake holders untuk melakukan penanaman pohon arena tau pohon bagot di berbagai belahan Bumi Nusantara.

Di Kawasan Danau Toba (KDT), upaya penanaman pohon arena tau bagot di lahan-lahan kering dan yang selama ini dianggap kurang produktif, terus dilakukan.

Selain sejuta manfaat, terutama manfaat ekologis, ekonomis dan sosial budaya, penanaman pohon bagot sangat efektif menghadapi perang biologis di masa kini dan mendatang.

Perang biologis itu pasti akan terjadi,” tutur Jainal Pangaribuan, Rabu (18/03/2020).

Karena itu, dia takkan berhenti melakukan penanaman pohon bagot di berbagai wilayah di Tanah Air, khususnya di Tanah Kelahirannya di Kabupaten Toba, Kawasan Danau Toba (KDT), Sumatera Utara (Sumut).

Setelah melaksanakan sosialisasi penanaman pohon aren di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Rogate, Pematangsiantar, Sumatera Utara pada Sabtu, 14 Maret 2020, Jainal Pangaribuan bersama para pendeta dan para penatua dari gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Parranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbabas) melakukan penanaman pohon aren secara simbolis di Komplek HKBP Parranginan, pada Minggu 15 Maret 2020.

“Penanaman pohon aren dilakukan setelah ibadah gereja pada hari Minggu,” ujar Jainal Pangaribuan.

Penanaman pohon aren secara simbolik dilakukan Ketua atau Rektor Sekolah Tinggi Teologia HKBP Nomensen Pematangsiantar, Pdt Dr Hulman Siahaan bersama parhalado atau penatua, para jemaat HKBP Parranginan dan mahasiswa STT HKBP Nomensen Pematangsiantar.

“Penanaman pohon hari itu juga sebagai sebuah kondisi awal dimulainya gerakan peduli lingkungan. Yang salah satunya adalah penanaman pohon bagot  atau aren,” jelas Jainal.

Jainal mengatakan, dengan pendekatan teologis, setelah manusia dan alam semesta diciptakan oleh Sang Khalik, kepada manusia diberikan tanggung jawab dan perutusan untuk memelihara alam semesta, yang satu ekosistem dengan manusia itu sendiri.

“Pada alam semestalah diberikan kapasitas untuk menghidupi manusia itu sendiri. Seperti pohon menghasilkan oksigen untuk manusia bernafas,” tutur pria yang sudah 20 tahun terakhir menggeluti pengembangan bibit dan pohon aren itu.

Jainal Pangaribuan mengingatkan, jika dalam sebuah perang manusia dilengkapi dengan persenjataan berupa senjata api, bom, roket, rudal dan berbagai alat perang lainnya, maka kini dunia memasuki perang dengan senjata biologis, setelah perang dengan biokimia.

Corona Virus Desember 2019 atau Covid-19 atau virus corona, menurutnya, diduga adalah sebuah senjata biologis dalam sebuah perang asimetris.

“Yang kita tidak paham siapa musuh kita. Tapi musuh malah paham siapa lawannya, siapa target dan lain-lainnya,” ujar Jainal.

Virus Corona adalah virus yang sulit untuk dibasmi. Seperti halnya virus HIV dan virus DBD. Bahkan, kata dia, virus flu biasa saja sampai sekarang belum tuntas  dibasmi.

Salah satu cara ampuh menghadapi virus ini adalah memperkuat imunitas dan stamina, serta mempersempit ruang penularan.

Namun, perlu juga dibangun imunitas dan stamina sosial mempertimbangkan adanya keterbatasan warga tertentu menghadapi serangan virus Covid 19.

Jainal menyarankan, manusia perlu membangun imunitas sosial untuk menghadapi berbagai kemungkinan serangan virus mematikan.

“Jika virus tidak bisa dibasmi, maka pola menghadapi yang rasional adalah mengembalikan virus itu pada habitatnya,” ujarnya.

Secara awam, menurut Jainal Pangaribuan, virus itu ada di pohon dalam sebuah komunitas yaitu di hutan.

Pembabatan pohon dan hutan membuat virus kehilangan tempat tinggal atau habitat. Akhirnya, virus menginvasi pada hewan atau pada manusia.

“Pohon aren karena pelepah dan ijuknya, adalah habitat yang baik untuk membuat virus tinggal dan dorman. Ijuk mengandung karbon aktif, virus mempunyai RNA yang berlemak, maka virus akan menempel di sana, tidur panjang,” bebernya.

Bagi Jainal, menanam pohon aren secara massif, seperti yang perlu dilakukan di Kawasan Danau Toba, juga berfungsi meredam epidemi virus  di saat ini dan di masa depan.

“Selain bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat, sekaligus juga meningkatkan imunitas kawasan atau sosial. Sehingga orang akan nyaman berwisata di Kawasan Danau Toba,” tuturnya.

Jika manusia telah menjaga imunitas dan stamina dengan baik, menurut Jainal Pangaribuan, hal itu sudah mempersempit penularan virus corona.

Sama halnya dengan ketika kawasan telah menumbuhkan pepohonan. Itu akan meredam tersebarnya virus.

“Selanjutnya, kita berserah pada Tuhan. Pada wilayah otoritas manusia sudah kita lakukan. Ikhlas dan bersabarlah jika ada yang terinfeksi virus ini. Semoga lekas sembuh,” tuturnya lagi.

Untuk itu, menurutnya, setiap orang perlu membangun solidaritas sosial dalam prinsip persaudaraan, saling menjaga diri dan keluarga. “Tidak perlu panik dan asosial, badai virus pasti akan berlalu,” tandasnya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*