Breaking News

Hadapi Pemilu, Tokoh dan Cendekiawan Islam Perteguh Kebangsaan Indonesia

Hadapi Pemilu, Tokoh dan Cendekiawan Islam Perteguh Kebangsaan Indonesia.

Indonesia dalam kondisi proses berdemokrasi yang sedang bagus-bagusnya. Kondisi ini hendaknya tetap dijaga dan dipertahankan dengan menghindari perpecehan hanya karena Pemilu 2019.

Seluruh elemen bangsa dan masyarakat Indonesia mesti memperteguh komitmen kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu disampaikan Tokoh dan Cendekiawan Islam Indonesia Komaruddin Hidayat dalam Dialog Kebangsaan bertema Memperteguh Semangat Kebangsaan dalam Bingkai NKRI, di Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (16/4/2019).



Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta) ini mengatakan, dalam setiap penyelenggaraan Pemilu di Indonesia, masyarakat selalu mengalami turbulensi, namun selalu bisa berlangsung damai. Itu adalah prestasi bagi Bangsa Indonesia yang majemuk.

“Kita sudah mengalami berbagai turbelensi nasional sejak tahun 1965 dan kita beberapa kali sudah mengadakan pemilu dengan lancar. Prestasi ini jangan kita rusak,” ujar Komaruddin Hidayat.

Pria yang akrab disapa Komeng ini juga mengingatkan, prestasi keberhasilan pelaksanaan pemilu di Indonesia harganya sangat mahal jika ada oknum tertentu yang hendak menguasi bangsa karena kepentingan politik tertentu.

Siapapun yang menang, lanjut Komaruddin, adalah putra terbaik bangsa. “Kalau prestasi ini dirusak, akan mahal sekali secara moral, ekonomi, dan sosial. Jadi, tolonglah apa yang kita raih selama ini jangan dirusak dan siapapun yang menang adalah putra bangsa,” tuturnya.

Menang dan kalah dalam pemilu, ditekankan dia, adalah suatu hal yang biasa saja. Baginya, siapapun yang terpilih, sejatinya tidak menimbulkan permusuhan.

Komaruddin mengimbau, siapapun yang kalah tidak perlu memusuhi yang menang, begitu pun sebaliknya.

“Oposisi boleh, tapi oposisi yang konstruktif dan rasional. Jangan kemudian menganggu pemerintahan karena kalau diganggu terus tidak akan bisa terbangun negara ini,” ujarnya.

Dia mengingatkan, kemenangan dalam pemilu bukanlah milik kedua paslon, melainkan milik masyarakat.

Di samping itu, lanjut Komaruddin Hidayat, Pemilu Indonesia 2019 ini berdekatan dengan datangnya Bulan Suci Ramadan.

Menurut dia, Tuhan memiliki rencana lain di balik kisruhnya perdebatan antara kedua pendukung capres-cawpres yang berlaga ada pilpres 2019. Tuhan telah menakdirkan pemilu serentak dilaksanakan berdekatan dengan bulan suci Ramadhan.

Dia berharap, bulan Ramadhan nanti menjadi ajang untuk saling memaafkan satu sama lainnya yang sebelumnya berdebat karena berbeda pilihan.

“Ini desain Allah setelah pilpres masuk bulan Ramadhan, ini anugerah dengan Ramadhan itu nanti menjadi cooling down,” ujarnya.

Komaruddin juga berharap setelah pencoblosan selesai, para elite parpol, intelektual, hingga ulama-ulama di Indonesia dapat rekonsiliasi kembali.

“Semoga ini segera berakhir, dan kita puasa dan puncaknya Idul Fitri kita kembali lagi seperti air dan air,” ujarnya.

Dia juga yakin masyarakat dan seluruh elemen pemerintahan dapat segera menyelesaikan perselisihan yang terjadi pada Pemilu 2019.

“Saya optimistis bahwa kita biasa menghadapi turbulensi. Oleh karena itu, ribut-ribut ya wajar, mungkin kecewa wajar,” ujar Komaruddin.



Kegiatan Dialog Kebangsaan Memperteguh Semangat Kebangsaan dalam Bingkai NKRI itu diikuti ormas seperti PBNU dan PP Muhammadiyah. Dari PBNU langsung hadir Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, kemudian ada pula Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

“Kita harus optimis pemilu berjalan dengan baik. Rakyat semakin dewasa. Rakyat tidak terlalu bisa dipengaruhi fulus dan harta benda,” tutur Mu’ti.

Sedangkan, Ketua Umum PB NU, Said Aqil mengatakan, Indonesia adalah negara damai yang berideologi Pancasila. Hal itu disebutnya sebagai ideologi yang sudah final.

“Indonesia bukan dari Islam, bukan dari kafir, tapi negara yang damai. Lebih tegas lagi, empat pilar sudah final, negara kebangsaan dengan negara Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945,” ujar KH Said Aqil.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*