Breaking News

Hadapi Pemilu, Jika Polisi Baik, Masyarakat Pun Pasti Baik

Hadapi Pemilu, Jika Polisi Baik, Masyarakat Pun Pasti Baik.

Aparat Kepolisian diminta bertindak dan berbuat kebaikan bagi masyarakat dalam menghadapi situasi apapun, termasuk dalam menghadapi proses-proses pemilihan umum (Pemilu) yang sebentar lagi akan digelar.

Selama ini, jika ditanyakan kepada masing-masing anggota masyarakat, terutama yang pernah bersentuhan proses hukum dengan institusi kepolisian, sering penilaian bernada miring yang terungkap dari kinerja kepolisian di masyarakat.

Koordinator Perkumpulan Kanal Advokasi Rakyat, Bangun Tri Anugrah menuturkan, hampir semua urusan masyarakat kini dirambah oleh kepolisian. Mulai urusan nyari makan, nyari kerja, urusan sekolah atau pendidikan, hingga urusan tata cara menulis status di media sosial dan persoalan-persoalan hukum di tingkat bawah, pasti bersentuhan dengan tugas dan kewajiban polisi.

“Banyak keluhan yang kami peroleh dari sikap, percakapan dan tindakan polisi yang tidak membuat masyarakat tidak tenang. Warga malah jadi cemas, ketakutan dan bahkan penuh ancaman. Sering kali, kehadiran polisi dianggap malah membuat keadaan menjadi tidak baik, dan tidak bermasyarakat dengan baik,” tutur Bangun Tri Anugrah saat berbincang, Selasa (19/03/2019).

Tidak bisa disangkal lagi, lanjutnya, jutaan masyarakat Indonesia yang berhadapan kasus atau persoalan maupun perkara di Kepolisian, malah tidak mendapatkan keadilan dan perlakuan yang manusiawi atas persoalannya.

Bayangkan saja, lanjut Tri Anugrah, di jalanan pun sehari-hari para pengendara dan pengguna jalan, sering tidak nyaman dengan kehadiran Polisi. “Misal, di jalan raya saja, sudah muncul pemikiran pengguna kendaraan yang mengendara, ada polisi, malas lewat sana,” ujarnya.

Cerminan tentang ketidakbaikan aparat kepolisian juga tersebar dari penanganan kasus-kasus atau perkara masyarakat di institusi Bhayangkara itu.

Menurut Tri Anugrah, jika ribuan masyarakat setiap hari mengalamikesulitan dan kepenatan dari perilaku polisi atas persoalannya, maka masyarakat itu sendiri yang akan menyebarkan di lingkungan keluarganya, di lingkungan tempat tinggalnya dan di manapun bahwa polisi tidak baik dan tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai pengayom masyarakat.

“Para lawyer muda saja misalnya, mendampingi kliennya setiap hari menangangi perkara yang dihadapinya. Ada ribuan bahkan jutaan lawyer di seluruh Indonesia yang setiap hari bersentuhan dengan urusan kantor polisi, bisa diprediksi seberapa luas penyebaran ketidakbaikan polisi dan kinerja yang kurang baik dari polisi yang terus tertanam di masyarakat. Ini harus menjadi perhatian serius para petinggi Kepolisian dan Presiden loh,” ujarnya.

Demikian pula, lanjutnya, menghadapi Pemilu yang sekitar satu bulan ke depan akan dilaksanakan. Kerja-kerja polisi untuk melakukan pengamanan di dalam negeri, maupun tujuan menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat, belum terlihat.

“Malah, dalam beberapa pantauan kami, polisi itu sendiri yang mempersulit penyelesaian perkara. Jadi, untuk sebagian besar masyarakat, kehadiran polisi di Indonesia masih jadi momok yang tidak bersahabat. Masih dianggap sebagai biang kerok, penyebab persoalan-persoalan kian menjadi persoalan yang berlarut-larut,” bebernya.

Jika mau membenahi kinerja dan sikap polisi, lanjutnya, Kapolri dan jajaran pengawasannya, harus bertindak tegas kepada anak buahnya sendiri, agar patuh dan menjalankan tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

“Demikian pula, jika ada polisi yang baik, pastilah anggota masyarakat itu sendiri yang akan menyampaikan ke keluarga dan lingkungannya bahwa polisi baik. Sekarang, yang mana yang lebih banyak, polisi baik atau polisi tidak baik? Rasanya masih didominasi fakta dan pandangan masyarakat bahwa polisi itu tidak baik,” ujarnya.

Tiga Catatan Berat Kepolisian Menuju Pemilu

Terkait proses dan penyelenggaraan pemilu, Indonesia Police Watch (IPW) memiliki catatan untuk Polri dalam Pemilihan Presiden 2019 April nanti. Setidaknya ada tiga tugas berat yang harus dilakukan dan dijalankan oleh Korps Bhayangkara.

Presidium IPW Neta S Pane menyampaikan, tugas berat ini perlu ditangani secara profesional oleh jajaran Kepolisian agar tidak terjadi benturan di masyarakat.

“Ada tiga tugas berat Polri menjelang maupun pasca Pilpres 2019, selain menjaga keamanan negeri ini,” kata Neta kepada wartawan, Selasa (19/3/2019).

Adapun tugas pertama yakni, mengantisipasi rasa percaya diri yang berlebihan dari para pendukung Capres. Karena dikhawatirkan jika Capresnya kalah dapat memunculkan masalah serius di masyarakat. Kemudian kedua, mengantisipasi isu adanya upaya mendelegitimasi hasil Pilpres 2019.

“Isu ini dikhawatirkan akan menjadi bola liar yang bisa mengancam keamanan masyarakat pasca Pilpres 2019,” ujarnya.

Lalu, pihak Kepolisian perlu melakukan pendataan terhadap kantong-kantong radikalisme dengan menguncinya sehingga kelompok-kelompok radikal tidak memanfaatkan panasnya situasi euforia politik jelang maupun pasca Pilpres 2019.

“Ditemukannya sejumlah bahan peledak dan aksi bom bunuh diri di Sibolga adalah indikasi meluasnya jaringan kelompok radikal dan teroris di tahun politik 2019,” kata Neta.

Oleh karenanya, IPW berpandangan, situasi keamanan nasional menjelang Pilpres 2019 semakin panas. Para pendukung capres tidak hanya larut dalam eforia politik yang tinggi, tapi juga sudah terjebak dalam pertarungan hidup mati.

“Untuk itu baik Polri dan TNI perlu profesional dan independen menghadapi situasi ini. Polri perlu menyatukan kedua kubu untuk membuat kesepakatan Pilpres Damai dan masing masing kubu menyatakan, siap menang siap kalah,” ujar Neta.

Kombes Pol Ricky F Wakanno: Jika Polisi Baik, Masyarakat Pasti Baik

Menghadapi perhelatan pesta demokrasi, Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Plpres) 2019, Polri telah melaksanakan tugas pokoknya dengan menggelar Operasi Mantap Brata.

Di samping itu, Polri juga menerapkan sebuah strategi mendinginkan suhu politik atau yang disebut dengan cooling system.

Kabagopsnalev Korbinmas Baharkam Polri Kombes Pol Ricky F Wakanno mengakui, sikap dan perilaku Polisi yang baik pasti akan berpengaruh kepada kebaikan masyarakat itu sendiri.

“Ya, betul, jika Polisinya baik, maka masyarakat pun pasti baik. Itu sudah tidak perlu pakai rumus-rumus aneh-aneh lagi menjabarkannya,” tutur Kombes Pol Ricky F Wakanno, Selasa (19/03/2019).

Untuk ini, lanjutnya, Polri telah merangkul para tokoh agama, politik dan masyarakat dengan menggelar berbagai kegiatan keagamaan dan memakmurkan rumah ibadah.

Rumah ibadah, lanjut Kombes Pol Ricky Wakanno, bukan hanya umat Islam saja, tapi juga umat Kristiani. Supaya apa? Agar rumah ibadah tidak dijadikan sebagai alat politisasi. Karena rumah ibadah itu rumah untuk mendekatkan manusia dengan Tuhannya.

“Pasti di situ tempat di mana imam mesjid, pastur dan pendeta akan memberikan nasehat-nasehat. Tapi tinggal manusianya, nasehat tinggal nasehat, setelah itu berbuat jahat lagi, menjelekan, membuat hoax dan mendzolimi orang. Nah itu gak boleh,” tutur Ricky Wakanno.

Kali ini, lanjut Ricky, hal itulah yang dilakukan Polri bersama para tokoh agama, menyusunnya sedemikian rupa, kembali seperti zaman dulu lagi.

“Sebelum ‘Pilkada Ahok dulu ‘kan bagus-bagus saja. Karena ini prilaku prilaku yang menyimpang, ya kita kembalikan kepada prilaku yang baik,” ujarnya.

Dia menuturkan, tak hanya cara preventif, tindakan pre-emtif dan represif juga telah dilakukan bagi yang melakukan kegiatan-kegiatan jahat.

“Contohnya FZ (salah seorang politisi), sekarang menyadari ‘siapa diri kita ini’. Saya polisi juga menyadari siapa diri saya. Apakah saya harus berbuat kasar sama masyarakat? Ya tidak. Saya polisi, teman-teman datang ke sini itu suatu kebanggaan,” ujar Kombes Ricky.

Karena itu, kata Ricky, sejumlah kegiatan yang dipimpin Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Gatot Edy Pramono berupaya terus melakukan perbaikan-perbaikan, dengan melakukan kegiatan-kegiatan meng-coolingsystemkan suhu politik yang memanas menjadi sejuk, damai dan aman.

“Karena apa? Untuk siapa sih pesta demokrasi? Pemilu untuk rakyat. Seperti debat Presiden kemarin, itu luar biasa. Satu incumbent, satu belum pernah jabat. Yang satu punya pengalaman, yang ini belum. Tapi dia punya pola pikir yang ada. Makanya masyarakat ingin melihat. Namun di sini, ya menjaga bagaimana pertarungan ini dengan baik dan benar. KPU, TNI, demikian juga Bawaslu, ditambah kekuatan masyarakat. Kalau dengan masyarakat kuatlah,” ujar Ricky Wakanno.

Melalui Kabagopsnalev Korbinmas Baharkam Polri, lanjut Kombes Ricky, Kapolri juga menyampaikan dan meminta kepada semua pihak untuk datang ke Tempat pemungutan Suara (TPS) pada pesta demokrasi mendatang.

“Pesan Kapolri, datanglah ke TPS dengan mimpi yang indah, sejuk dan kita akan menjaga kecurangan-kecurangan di bilik suara. Itu akan kita pantau, jangan sampai ada kecurangan,” terangnya.

Tak hanya itu, fungsi tiga pilar juga ditingkatkan dengan pasti. Pemda juga diharapkan aktif melakukan kondusifitas masyarakat. Demikian juga dengan TNI/Polri yang akan melaksanakan kegiatan dengan baik, sehingga semua bekerja optimal.

“Kapolri juga meminta, jadilah polisi bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Saya dan masyarakat pun tidak ingin berurusan dengan hukum. Kalau sudah hukum ya berat. Jangan nanti masa hidup kita pernah dipenjara, jaga harga diri kita. Berurusanlah dengan baik. Yang benar kita bilang benar, yang tidak baik mari kita perbaiki supaya menjadi baik. Nanti ke depan ini anak anak kita yang akan merasakan, anak kita akan menjadi besar,” papar Kombes Ricky mengingatkan.

Dia menegaskan, dalam mengawal kegiatan pesta demokrasi ini polisi menggelar sejumlah langkah antisipatif yang luar biasa, terutama dalam mengcounter hoax atau berita-berita bohong.

“Pokoknya sepanjang yang dilakukan manusia, bisa ketahuan. Mau main hoax, main di kolong meja, ketahuan. Mau main ‘bimsalabim’ ketahuan juga,” tegasnya.

Kombes Ricky juga mengingatkan, saat ini polisi semakin Promoter, artinya professional, modern dan terpercaya.

Karenanya, ia berharap dan mengajak masyarakat untuk menjunjung tinggi pesta demokrasi dengan baik.

“Mari kita junjung tinggi pesta demokrasi dengan baik dan benar. Jangan main uang, jangan main api, panas rasanya itu. Jangan mencubit, sakit rasanya. Kami Polri dikontrol juga, agar kami berjalan dengan baik,” kata Ricky.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*